Pagi-pagi buta sudah terdengar jeritan dan tangisan histeris Mak Ijah. Ya, emak-emak yang sudah dari dulu khawatir akan cucunya, Yuna, mati mengenaskan. Kematian Yuna pagi itu diluar prediksi. Nenek pengumpul kayu itu hanya menangis mendayu-dayu.

Lagi pula, siapapun akan menangis, bahkan tak sedikit yang mual-mual melihat Yuna mati buruk rupa. Lehernya busuk, seperti terkena cakar hewan buas. Darah yang mengalir deras, kulitnya mengelupas bagaikan sisik ular, kepalnya gundul, rambutnya rontok dan tak ada pakaian. Tinggal tulang belulang, tubuhnya gosong, wajahnya membentuk tengkorak. Itulah Yuna. Itulah pelajaran bagi wanita yang menolak menikah.

Kematian Yuna ditandai dengan panah api yang dilihat oleh kakek-kakek pencari ‘oncong’ empat malam lalu. Panah itu melesat kencang, seperti roket Israel yang sering ditayangkan ketika menyerang Palestina. Kakek itu menyenternya, memastikan bahwa omongan orang-orang selama ini benar: Yuna akan segera mati dijemput panah.

Ia adalah malaikat maut yang dikirim purnama yang sudah berbulan-bulan tak muncul. Ujung panah itu berakhir di atas atap Yuna, di atas atap perawan cantik yang sudah empat kali menolak permintaan laki-laki menikahinya.  Dan saksi mata itu hanya sumringah, merasa doa warga terkabul, merasa lega jika desanya tak ada wanita cantik.

Maka setiap ada wanita cantik mati tak wajar, selalu tak dikubur. Ia dibuang ke sungai, dibiarkan membusuk, jasadnya hanyut menjadi makanan ikan dan batu karang. Mayat itu juga menjadi hasutan agar purnama tak datang mengambil perempuan lagi. Walalupun nyatanya, orang selalu takut, purnama pasti kembali, kembali dengan cara-cara yang mengenaskan.

Satu hari setalah kutukan itu terlaksana. Kehidupan desa serasa sempurna. Tak ada Yuna di gosip-gosip tetangga. Tak ada lagi ketakutan yang menghantui warga. Dan secercah harapan muncul. Purnama akan kembali menghidupi warga di malam hari.

***

Kantor KM, 08 Juli 2019