Cara berdamai paling mudah dengan hati kita, yaitu membaca puisi. Apalagi yang membawakannya adalah wanita cantik yang kerudung dan make up nya ala Sabyan dan kawan-kawan. Nilai tambah secara estetisnya bisa mendominasi atau menyelamatkan jika tiba-tiba suaranya fals di tengah irama.
Secara serius saya suka sastra. Tidak ada orang yang menolak kehadirannya. Selain untuk mengibur, ia juga bisa dipakai untuk menuai kritik pemerintah. Sastra adalah karya seni yang aspek estetisnya besar. Selain itu, tentu seniman yang budiman, tidak hanya mempertimbangkan aspek estetis, melainkan aspek etisnya pula.
Kenapa dulu, para punggawa dan penyair begitu ulung dan terkenal. Waktu mereka menjadi babu kaisar di kerajaan besar. Tentu mereka akan mati jika memberikan kritik terang-terangan, maka puisi mereka pakai. Puisi begitu bisa menyelamatkan nyawa manusia. Bahkan untuk sesuatu yang tabu sekalipun.
Salah satu yang terkenal adalah Li Bai, penyair abadi dari Tiongkok yang bekerja di Dinasti Tang pada zaman klasik. Konon, ia mati karena kebanyakan minum dan meninggalkan tulisan 20 volume 900 karya puisi. Namun selama ada yang masih menulis kiprahnya, maka ia tetap hidup dan namanya selalu didoakan.
Saya terngiang, seandainya di kota saya, ada sosok seperti Bai, mungkin perayaan ulang tahunnya mengalahkan perayaan hari tujuh belasan. Saking fenomenal dan dibanggakan.
Tapi itu kita simpan rapat-rapat dulu sebelum terlalu tinggi berhayal. Disini, kadang kita susah melihat betapa pentingnya nilai dalam sastra. Bukan karena ia tidak betul-betul penting, tapi karena kita dihadapkan dengan lingkungan yang menolaknya. Sastra masih seperti Nyi Roro Kidul atau Penjaga Neptunus, remang-remang dan mistis. Kecuali kesusasteraan mungkin berwujud dan menghasilkan duit layaknya profesi PNS yang lazim diminati.
Harapannya, peradaban manusia yang canggih, dan pengaruh kafe yang membius kaula muda, dapat menggeser sastra menjadi sesuatu yang dekat dengan kita. Harapannya, Kita mudah mengakses karya, mudah membahas di tempat kopi, mudah membuat lalu kita share, atau lain sebagainya. Tapi nihil. Yang terjadi, PUBG dan Hago telah membutakan kita, bahkan di kehidupan yang sudah melarat seperti saat ini.
Setelah lama saya menyadarinya, itupun setelah duduk bersama rekan-rekan, bahwa sastra layak diperjuangkan. Melek Kesusasteraan sama halnya dengan melek literasi, dan memperjuangkan mereka adalah harus menolak dengan lingkungan parasit. Jika dari kemaren, kebiasaan kita hanyalah memperhatikan sesuatu yang bersifat materiil, maka memperjuangkan sastra yaitu merubah perhatian kepada sesuatu yang estetis dan etis pula.
Insomnia, 12 Juni 2019

0 Comments