Akui saja,
bahwa kamu adalah satu diantara seratus orang mahasiswa yang salah jurusan. Saya
sering mendapati seorang mengeluh sembari yakin mengatakan “fix, saya salah
jurusan”. Hal itu mungkin bisa kita evaluasi sendiri, apakah selama kita
kuliah, kita betul-betul mengerti tentang materi-materi kuliah, atau hanya ngisi absen dan pasang muka saja?
Cerita lain,
ada anak jurusan bahasa inggris yang tenang-tenang saja dan tak berdosa
sekalipun ia tidak paham apa itu bahasa inggris. ‘Anak bahasa inggris kok ga bisa ngomong inggris’ kalimat itu, sering saya guyonkan ketika kita satu
meja tempat ngopi. Agar suasananya hangat
dan sentuhan candaannya bikin lucu
dan tertawa menganga.
Tapi secara
serius, mahasiswa bahasa inggris yang tidak mengerti bahasa inggris, sama
sekali tidak ada lucunya. Ia adalah serpihan kegagalan pendidikan. Sama gagalnya
dengan mahasiswa jurusan matematika tapi cara itung-itungannya kalah cepat dengan anak SMP. Jika Anda mempunyai
teman mahasiswa yang tidak merepresentasikan jurusannya, maka fix, kalo dia
salah jurusan kampus.
Pertanyaan selajutnya,
apakah bisa kita salah dalam memilih jurusan? Jawabannya: bisa-bisa saja. Kita sangat bisa salah memilih
jurusan apalagi kampusnya di Madura, yang notabene pemikiran orang-orangnya,
bahwa pendidikan besar diperspesikan untuk kerja atau menjadi PNS (sekarang
diganti menjadi ASN). Saya kasih tau, bahwa harapan itu tidak ada di butir
undang-undang manapun soal pendidikan. Karena bukan kampus yang besar
pengaruhnya, tapi pemikiran sekaligus lingkungannya. Itulah kadang mengapa
orang yang salah jurusan, tidak merasa bahwa ia sedang berada di jalan yang
tidak benar.
Tipologi manusia,
seperti yang pernah ustad saya ajarkan di kitab Ikhya’ Ulumuddin, yang
kebetulan pernah juga saya temui di tulisan Jujun Suriasumantri, bahwa manusia
memang ada empat tipe. Tipe terakhir adalah “ada yang tidak tau di tidak taunya”.
Begini. Jika sejak awal kita tau bahwa bahasa inggris bukan kemampuan atau minimal
kesenangan kita, sehingga kita memilih jurusan peternakan, itu wajar. Yang terjadi
justru, banyak yang memilih jurusan karena ia tidak tau mau milih jurusan
apalagi. Atau karena memang, kampus-kampus di Madura sedikit dalam menyediakan
jurusan. Atau yang cukup fatal memilih karena popularitas jurusan.
Sadari saja,
bahwa kampus di Madura bukanlah kampus utama kebanyakan mahasiswa. Ia adalah alternatif
setelah kampus luar pulau menolaknya. Orang lebih memilih kampus di luar, dengan
berbagai macam motif baik itu varian jurusan yang banyak, atau iklim keilmuan
yang dibangun. Tak seperti disini, kadang lingkungan mematahkan semangat, dan
menjatuhkan mahasiswa lain yang ingin belajar. Atau teman saya sering
membahasakan ‘miskin apresiasi’.
Termasuk di
kampus saya, anak jurusan bahasa inggris lebih suka ngomong inggris di kelas
secara diam-diam. Ia tidak berani di luar kelas apalagi di kantin dikerumuni orang
banyak. Karena bisa dipastikan akan banyak orang yang menatapnya dengan mata
dingin. Seolah-olah praktik bahasa inggris seperti transaksi ganja yang patut
dicurigai. Padahal tidak. Hal itu mendandakan bahwa lingkungan kita, adalah
lingkungan yang tidak siap menerima bahwa kampus adalah tempat belajar, termasuk
kelas kampus, kantin kampus, bahkan di tempat parkir sekalipun.
Pada dasarnya,
apalagi di kehidupan digital saat ini, untuk bisa tau apapun, bisa tidak
melalui kampus dan program akademik. Kita tinggal intens belajar lewat jejaring sosial, maka pelan-pelan kita bisa
tau dimana letak kemampuan kita. Seperti channel dari seorang youtuber @SkinnyFabs
yang kita bisa belajar materi-materi bahasa inggris tanpa perlu program SKS dan
membayar SPP. Jadi apakah kita salah atau benar dalam memilih jurusan, itu juga
debatable, Karena pointnya, tidak
semua hal mesti kita ketahui dari kampus saja.
Tapi
pertanyaan berikutnya, jika di kampus saja kita tidak menemukan apa yang kita
cari, minimal merepresentasikan jurusan kita, apakah kita dapat point dari:
mengapa kita ber-kampus?
Kontarakan
Gue, 13 Juni 2019
0 Comments