Semua orang pernah ada di masa ini: kecewa, putus asa, kecil harapan dan semangat yang pudar. Dalam kasus apapun, itu terjadi. Mereka adalah orang yang tak sesuai berdasarkan harapannya. Mati dalam asa adalah pecundang sejati yang wajar ditertawakan. Jika sudah demikian, apakah kamu akan iba, atau justru tertawa menganga?

Kadang semuanya terlihat sempurna. Seperti pantai. Pantai menjadi potret favorit anak muda berlibur. Pasir, deburan ombak, dan burung melayang adalah icon yang sering menjadi objek lensa. Orang akan ke pantai membawa kamera dan rasa girang. Ia kita anggap sebagai hadiah dari Tuhan yang maha sempurna, untuk kita yang maha tidak sempurna.

Singkat cerita pantai selalu bersekongkol membangun tawa ria di atas istana pasir. Mereka berlompat lompat meninggalkan bekas kaki dan aroma keringat. Orang lain yang melihat, sangat bisa meniru dan merasakan indahnya bergumul dengan pantai yang mempunyai selera humor yang selalu baik. Hingga kemudian, Pantai begitu sempurna bahkan untuk menutupi ketidaksempurnaannya.

Sekarang kutanya. Bagaimana jika pantai bertemu dengan wajah murung? apakah kau pernah melihat pertemuan antara pantai dan kekecewaan? lalu seperti apa memang mereka? Bagaimana jadinya jika si kecewa berjalan di sore sore kemudian bertemu dengan pantai yang sendirian? Apakah mereka akan bahagia seperti orang lain yang diceritakan di awal? Aku memang tak bisa membuktikan keraguan ku tentang ini, ku hanya bisa mengira ngira.

Kau tau, bahwa rasa kecewa bisa memperkeruh apapun. Keruh itu adalah sesuatu yang dihindari oleh penjaga kolam agar tidak dimarahi oleh sang majikan. Keruh juga ditakuti oleh dua kekasih baru, yang baru saja menikah dan bulan madu di Hawai. Memang, keruh selalu dicemooh, dikutuk, termasuk oleh pantai sekalipun. Ada banyak pertemanan, keluarga, kekasih yang rusak akibat rasa kecewa: keruh. Pantai yang bisu pun dan gemar menunggu orang pun bisa sama. Ia juga bisa berubah menjadi warna cokelat kotor yang menjijikkan: keruh.

Akibat kecewa orang bisa saja melewati waktu dengan lamunan saja. Menatap waktu dengan mata kosong tak berkedip. Waktu berjalan lebih laun sambil menyiksanya samar. Dunia hanya seukuran keranda dan toples ikan. Dan di luar sana, suara orang orang sangat berisik seperti bunyi kendaraan yang bising dan tak disenangi. Hidup telah menjadi gelap. Bahkan setelah gugur yang menutup semi. Setelah penghujan bertemu dengan kemarau.


Jadi jangan heran, jika keruh dan kecewa menjadi alasan kuat orang bunuh diri dan amnesia. Banyak kok faktanya. Lalu, Siapa bilang tuhan itu selalu adil bagi kita. Senang adalah sesuatu yang terjadi setelah kau bersusah payah mengejar asa, tak peduli seberapa sulit dan seberapa lama. Ketika berhasil, kau akan senang dan kau akan bercerita kepada  sahabat mu penuh kebanggaan. Tetapi, itu tidak lama, ia hanya singkat dan sebentar saja. Rasa senang terjadi paling lama hanya satu hari atau empat jam. Kamu akan menangis terharu karena berhasil menjuarai lomba melukis tingkat internasional atau senang karena barusaja dilamar dan berencana menikah bulan depan, kesenangan itu pun, terjadi hanya sebentar.

Tak seperti sebuah rasa  kekecewaan saat ia melukai setiap organ tubuh, urat hingga nadi. Itu terjadi bahkan hingga ia lupa kapan kecewa itu dimulai. Kita tidak betul betul dalam berempati. Jika kita ingin berempati, biarkanlah orang bunuh diri akibat rasa kecewa. Biarkan saja ia melukai jasmaninya untuk mengakhiri rohani yang tersiksa. Kadang kita mengaku paham, padahal kita tidak sedang memahaminya. Lebih tepatnya merasakan apa yang ia derita. Biarkan saja mereka melakukannya, atas sesuatu yang kita tidak merasakan betul sakitnya. Toh, dia lebih bahagia jika rasa sakitnya putus meski harus mengakhiri hidup, dari pada melanjutkan hidup dengan rasa sakit yang terus menerus. Membiarkan rasa kecewa mengakhiri hidupnya adalah suatu pembebasan baginya.

Jokotole No. 89, 12 Mei 2019