Seorang hanya
perlu melakukan satu hal yang rutin, untuk tau apakah dia bakat merayu wanita
atau sekedar menuangkan cat di atas kanvas. Hingga ia dikenal oleh orang dan
menjadikannya alasan orang-orang mengaguminya. Orang-orang tidak banyak yang
peduli mengenai seberapa susah kita menghafal lagu-lagu “barat”, atau mereka
tidak peduli seberapa banyak kita gagal dalam menulis sebuah esai, bahkan tumpukan
puisi pun. Siapa yang peduli, semuanya peduli atas masing-masing hal,
masing-masing hal yang satu.
Di luar
halaman dan jauhnya pantauan kakek nenek kita, ada begitu banyak varian gaya
yang bisa kita pilih sebebas mungkin, ada banyak penawaran bakat yang bisa kapanpun
kita tergiur melihatnya. Kadang kita memilihnya, dua, empat bahkan sepuluh
varian, seperti kolektor arloji yang suka memajang dan melihatnya di minggu
pagi seusai tidur. Kita kadang tamak dengan varian-varian itu. Bahkan kita
pindah-pindah posisi seperti sedang main puzzle atau ular tangga murahan.
Ingat, bahwa satu
itu penting. Semua urusan memang penting, hingga kamu tidak bisa menentukan
waktu yang pas, bahkan untuk mengatur rapat dan waktu dinner. Satu urusan
kadang mengajarkan banyak hal yang serupa di urusan lain. Pola komunikasi,
bertanggung jawab, atau memastikan apakah kita senang dalam urusan kita, atau
urusan itu membuat kita menjadi ribet dan berantakan. Semuanya perlu diurus,
termasuk mengurus kemampuan dan keahlian kita.
Saya pernah
bergumul dengan banyak watak orang-orang yang berbeda. Mulai dari pemarah
hingga baper-an. Mulai dari tua hingga kanak. Mulai dari preman hingga pendai. Bermacam-macam
varian pernah saya intip lewat dua hingga empat jam di atas alas tikar atau
kursi panas. Mereka yang varian itu, memang memiliki pendapat dan aspirasi yang
signifikan berbeda. Si pemarah yang sangat subjektif lah, si pendai yang selalu
bersamaan teks teks agama lah, atau si baperan yang sensitif dan mudah
tersinggung.
Di luar
interaksi membosankan itu, perihal baju dan celana pun sama. Saya menemukan
pola-pola yang sama. Berdasarkan warna dan jahitan atau pengaruh sosial media
dan majalah kekinian. Orang berburu “rekomended” untuk ia tampilkan di pesta
ulang tahun atau sekedar hang out malam minggu bersama pacarnya. Varian-varian
itu ada untuk, lagi-lagi, memenuhi kepala orang-orang dan membangunkan dari
ranjangnya. Bahkan untuk satu keluargapun dengan varian berbeda, kadang
bertengkar antara warna sepatu kakak-beradik yang tidak sama.
Varian adalah
hal yang mesti, jika kita pelan-pelan mengkalkulasi seberapa sedikit sesuatu
yang “satu”. Tanpa itu hidup kita tidak berwarna. Tidak ada pilihan dalam
hidup. Bahkan kita hanya bisa memungut kenyataan, jika hidup itu hanya “satu”. Hingga
bukan “satu” lagi yang ingin disampaikan maknanya, dan menjadi varian yang
sukar ditentukan mana yang menjadi pilihan kita.
“satu” hanya
bisa kita raih jika kita ingin berlama-lama di kamar yang berukuran dua kali
empat meter persegi, dengan satu lukisan besar dan cermin di samping pintu
kayu. Kemudian yang “satu” itu kita benar-benar gali menggunakan akal dan hati
kita, tanpa harus tergiur oleh kenyataan apa yang ada di luar halaman rumah,
tanpa harus mencari petunjuk ke “google”, atau tanpa perlu mendengarkan “tutorial”
yang ada di youtube. Hingga kita sendiri, benar-benar menggali apa yang “satu”
ini. Dan, menemukannya. Di luar varian yang ada, yang penting itu hanyalah
satu. Satu itu sangat penting untuk menemukan siapa kita dan mengapa orang
harus menganggap kita ada.
Dafa
Printing, 07 Mei 2019

0 Comments