Seorang teman mengeluh ini dan itu lewat telepon, semenjak dia sadar bahwa menjadi Customer Service perusahaan advertisment, sungguh-sungguh menjemukan. Tiap hari ada sekitar delapan hingga sembilan jam hanya sibuk memperhatikan telepon berdering, mencatat keluhan-keluhan, dan menghadapi klien yang komplain tak karu-karuan. Membuatnya letih dan akhirnya mencari jalan keluar dengan bercerita menggunakan nada yang agak tinggi, seperti yang biasa saya peroleh di akhir weekend.

Sebenarnya, ada banyak jenis pekerjaan yang tidak bisa kita diskriminasikan satu-satu. Mereka hadir sebagai tanda “membeludaknya” kebutuhan manusia yang semakin lama semakin besar. Mereka adalah orang yang paling sering “meladeni” kebutuhan orang lain. Pekerjaan telah membuat “ongkos” ekonomi dan sosial menjadi kabur dan melebur. Itu sungguh realistis adanya, bukan sandiwara, atau peti dan pita hitam kemerah-merahan, yang biasa saya saksikan di gedung teater perayaan hari besar.

Tanpa dilebih-lebihkan, “bekerja” adalah cara manusia untuk mengeksplorasikan dirinya. Sekalipun, tak seorangpun mungkin, dapat mempekerjakan kemampuannya dan menghasilkan uang. Atau orang terpaksa bekerja meskipun sebenarnya ia tak suka dengan pekerjaan itu. Tanpa perlu pengkotak-kotakan, tanpa harus pengklasifikasian. Apakah ia seorang pegawai negeri, pekerja kantoran, penulis, seniman, sopir, manajer, CEO, atau bahkan seorang freelancer yang hanya bermodal komputer dan jaringan internet saja. Semuanya sama saja!

Lantas, apa yang salah dengan “keluhan-keluhan tadi”. Mungkin ini yang mesti dicatat, bahwa orang mengeluh tidak harus pergi ke psikiater dan membawa pulang beberapa resep obat dan ramuan herbal. Orang mengeluh, adalah cara mereka menghilangkan sisa stress di kepalanya.

Ketika teman kita mengeluh persoalan apapun, entah itu pekerjaan, hubungan orang tua, relasi persahabatan, atau hubungan asmara, itu wajar. Suatu keluhan disampaikan, terkadang bukan karena mereka tidak paham, bukan karena mereka betul-betul butuh jawaban dan berharap mendapatkan ilham. Kadang kita tetap saja bercerita tentang keluh kesah, meskipun mungkin sebenarnya kita tau jawabannya. Karena yang kita butuhkan bukanlah suatu nasehat, kata-kata bijak, melainkan kita hanya butuh didengar, butuh dua telinga dan sesekali anggukan.

Bagi yang pernah mendengar WHO, World Health Organization, sebuah perusahaan di Amerika Serikat sebagai pusat rujukan kesehatan, pernah mengungkap bahwa stress merupakan epidemic yang menyebar ke seluruh dunia. Laporan PBB pun, menjuluki stres kerja sebagai “penyakit abad 20”. Jadi, sementara ini, orang-orang yang sering “terapi” akibat penatnya pekerjaan, mereka menjadikan stereotipe “berlibur” untuk berlindung akan penjelasan dan hasil riset di atas.

Ketika hal itu Anda peroleh, tentu berlibur menjadi jalan terakhir. Secara psikologis dapat membantu kita keluar dari jeruji dan penjara besi selama bekerja. Orang yang berlibur dan berharap mendapatkan ketenangan juga bisa kita sebut sebagai proses relaksasi. Relaksasi adalah ketika orang pergi berjalan-jalan dan menemukan sedikit ketenangan akibatnya, atau curhat ke teman sebangku sambil duduk di tempat rindang yang penuh dengan pohon hijau. Relaksasi berguna untuk mendapatkan ‘ventilasi’ dari tekanan stres.

Di luar itu, mungkin aktifitas menulis, bisa saya sebut sebagai proses saya untuk relaksasi, relaksasi dari “curhatan orang-orang” mengenai keluh kesahnya di kantor masing-masing”

Jokotole, 22 Mei 2019