Sebenarnya, ada
banyak jenis pekerjaan yang tidak bisa kita diskriminasikan satu-satu. Mereka
hadir sebagai tanda “membeludaknya” kebutuhan manusia yang semakin lama semakin
besar. Mereka adalah orang yang paling sering “meladeni” kebutuhan orang lain.
Pekerjaan telah membuat “ongkos” ekonomi dan sosial menjadi kabur dan melebur. Itu
sungguh realistis adanya, bukan sandiwara, atau peti dan pita hitam kemerah-merahan,
yang biasa saya saksikan di gedung teater perayaan hari besar.
Tanpa dilebih-lebihkan,
“bekerja” adalah cara manusia untuk mengeksplorasikan dirinya. Sekalipun, tak
seorangpun mungkin, dapat mempekerjakan kemampuannya dan menghasilkan uang. Atau
orang terpaksa bekerja meskipun sebenarnya ia tak suka dengan pekerjaan itu. Tanpa
perlu pengkotak-kotakan, tanpa harus pengklasifikasian. Apakah ia seorang pegawai
negeri, pekerja kantoran, penulis, seniman, sopir, manajer, CEO, atau bahkan
seorang freelancer yang hanya bermodal komputer dan jaringan internet saja. Semuanya
sama saja!
Lantas, apa
yang salah dengan “keluhan-keluhan tadi”. Mungkin ini yang mesti dicatat, bahwa
orang mengeluh tidak harus pergi ke psikiater dan membawa pulang beberapa resep
obat dan ramuan herbal. Orang mengeluh, adalah cara mereka menghilangkan sisa
stress di kepalanya.
Ketika teman
kita mengeluh persoalan apapun, entah itu pekerjaan, hubungan orang tua, relasi
persahabatan, atau hubungan asmara, itu wajar. Suatu keluhan disampaikan,
terkadang bukan karena mereka tidak paham, bukan karena mereka betul-betul butuh
jawaban dan berharap mendapatkan ilham. Kadang kita tetap saja bercerita
tentang keluh kesah, meskipun mungkin sebenarnya kita tau jawabannya. Karena yang
kita butuhkan bukanlah suatu nasehat, kata-kata bijak, melainkan kita hanya
butuh didengar, butuh dua telinga dan sesekali anggukan.
Bagi yang
pernah mendengar WHO, World Health
Organization, sebuah perusahaan di Amerika Serikat sebagai pusat rujukan
kesehatan, pernah mengungkap bahwa stress merupakan epidemic yang menyebar ke
seluruh dunia. Laporan PBB pun, menjuluki stres kerja sebagai “penyakit abad
20”. Jadi, sementara ini, orang-orang yang sering “terapi” akibat penatnya
pekerjaan, mereka menjadikan stereotipe “berlibur” untuk berlindung akan
penjelasan dan hasil riset di atas.
Ketika hal
itu Anda peroleh, tentu berlibur menjadi jalan terakhir. Secara psikologis
dapat membantu kita keluar dari jeruji dan penjara besi selama bekerja. Orang yang
berlibur dan berharap mendapatkan ketenangan juga bisa kita sebut sebagai
proses relaksasi. Relaksasi adalah ketika orang pergi berjalan-jalan dan
menemukan sedikit ketenangan akibatnya, atau curhat ke teman sebangku sambil
duduk di tempat rindang yang penuh dengan pohon hijau. Relaksasi berguna untuk mendapatkan
‘ventilasi’ dari tekanan stres.
Di luar itu,
mungkin aktifitas menulis, bisa saya sebut sebagai proses saya untuk relaksasi,
relaksasi dari “curhatan orang-orang” mengenai keluh kesahnya di kantor
masing-masing”
Jokotole, 22
Mei 2019

0 Comments