Cara Dr. Sukamto menyederhanakan fenomenologi, sesederhana cara kita mendengarkan orang bercerita, membuat saya kagum dan terkesima. Ia mengatakan bahwa fenomenologi adalah membiarkan alam, benda dan waktu bercerita kepada kita, bercerita kepada manusia, dan biarkan manusia menilai sesuai kapasitasnya. Kadang saya terhipnotis saja  ketika beliau menjelaskan fenomenologi sebagai suatu paradigma dengan jenaka sambil suka menakut-nakuti.

Fenomenologi adalah salah satu paradigma yang digunakan di metode penelitian kualitatif. Saya pikir ini senada dengan etnometodologi, yang sama-sama mengkaji tentang manusia berdasarkan antropologinya. Ia hadir untuk mengurai berdasarkan paradigma fakta sosial, dan definisi sosial.

Waktu kecil misalkan, kita sering berandai. Ketika kita tidur-tiduran di hamparan rumput malam-malam bersama sahabat kita dan kita melihat bintang jatuh. Maka berandailah kita sambil mengangkat tangan: ya tuhan semoga tahun ini engkau memberikan aku jodoh!. Kemudian setelah itu seolah-olah tuhan mendengarkan nya dan keesokan harinya bertambahlah rasa percaya diri kita kepada semua perempuan yang ada.

Cerita-cerita itu kadang tidak hanya berhenti di situ, ia kemudian menjadi materi cerita yang digunakan oleh seorang ibu untuk meninabobokan anaknya dengan judul yang unik-unik seputar “jatuhnya bintang”. Dan bahkan cerita itu diangkat di komik berseri atau industri perfilman seri keluarga yang biasa ditonton anak-anak di hari minggu libur sekolah. Mereka kemudian menerima cerita itu secara hegemonik tanpa peduli kebenarannya.

Padahal mungkin secara saintifik, cerita itu bohong adanya. Tidak ada istilah bintang jatuh yang dimaknai sebagai kedatangan tuhan untuk mengabulkan satu permohonan kepada yang melihatnya kala itu. Melainkan seperti di ilmu Astronomi, ia hanyalah rasi perpindahan bintang dari satu titik ke titik baru, bergesekan dengan atmosfer bumi, hingga memunculkan buntut api di ekornya. Akhirnya guru dan ibu kita, mereka berdua membuat kita bingung akibatnya, apakah bintang itu termasuk benda langit atau jelmaan Tuhan?

Jika ingin dibahas lebih serius, dan disandangkan dengan filsafat fenomenologi, tentu itu menjadi sesuatu yang unik. Fenomenologi yang kajiannya adalah untuk mengeksplorasi pengalaman manusia, tidak menyoal benar-salah akan “keyakinan harapan bintang jatuh” secara metodis tadi. Namun apakah kejadian itu bisa membuat dampak dan pengaruh kepada masyarakat, itulah yang dikaji sebenarnya. Maka jika dihadapkan dengan hal ini, orang yang sophisticated akan kesusahan atau justru kemudahan membuktikannya. Karena sebenarnya, secara luas, paradigma mempunyai mata yang banyak berdasarkan pengalaman manusia yang tak terbatas luasnya.

Jokotole, 13 Mei 2019


x