Kemaren teman saya berdebat soal kegunaan teori dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan bersemangat ia mengeluarkan segala kegelisahan dan gundah gulana yang ia rasakan semenjak duduk di bangku kampus. Begitu kekehnya seperti seorang yang sedang mempertahankan argumentasi dalam kontestasi perdebatan tingkat provinsi, ambisi dan susah dibelokkan.

Bahasa dia yang sering keluar adalah “ketidakpuasan” akan hadirnya teori. Apalagi menurutnya, teori itu banyak dan masing-masing ada yang bertolak belakang. “bagaimana itu bos!!!??” ujarnya dengan sedikit lebai namun tetap serius.

Baginya, masih dengan raut muka percaya diri, teori dalam ilmu sosial tidak jelas fungsi dan kegunaannya. Memang, ketika kita melihat satu fenomena, satu fenomena itu bisa kita tinjau lebih dari satu teori. Ada banyak argumentasi untuk satu fenomena saja, dengan pendekatan yang berbeda dan tentu menghasilkan suatu penjelasan yang berbeda pula. Hingga kita kebingungan antara kebenaran satu dan kebenaran yang lain, memilih mana yang benar dan mana yang paling benar. Kita bingung!, bahkan untuk menentukan kebenaran sekalipun.

Kebingungan itu oleh teman saya, lantas diputuskan sebelah pihak, tanpa ingin mencari tau terlebih dahulu di beberapa literatur ilmu sosial, untuk mengatakan bahwa ketidakbergunaan antara satu teori dan teori yang lain. Teori menjadi sesuatu yang absurd ketika masing-masing teori memiliki kekuatan kebenaran sendiri-sendiri. Lantas untuk apa orang-orang berdiskusi, untuk apa mengeluarkan ide dalam sebuah forum, jika kebenaran adalah sendiri-sendiri? Kira-kira begitu apa yang ada di dalam batok kepala teman saya ini.

Saya sengaja tidak terlalu banyak berbicara. Lebih tepatnya saya lebih banyak mendengarkan, memahami dan memperhatikan cara ia menyampaikan. Mula-mula ada satu hal yang saya catat. Yaitu ketidakpahaman ia dalam melihat: sudutpandang. Satu fenomena tentu ditafisiri menggunakan satu sudut pandang, entah itu agama, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Dan yang mesti kita ingat, sudut pandang itu harus satu, utuh dan terurut (sequence). Tidak boleh mencla-mencle, copot-comot, dan berpindah-pindah sesuka hati dan semaunya. Tidak boleh!

Ketika satu sudut pandang menghasilkan satu kebenaran, maka kebenaran itu benar berdasarkan sudut itu. Ketika itu ditinjau dari sudut lain, akan menjadi salah dari sudut yang lain itu. Sungguh sederhana dan simpel tanpa harus mengajak berantem dan menggertak-gertakkan tangan ke meja. Lantas, kira-kira yang bisa saya tebak setelah saya menjelaskan ini, teman saya akan mengatakan, kemudian kebenaran mana yang benar?, sudut pandang apa yang seharusnya kita ambil untuk mencari sesuatu yang “paling” benar itu?

Untuk pengambilan sudut pandang, itu kita kembalikan lagi terhadap kebebasan cara orang-orang berpikir. Jika ingin diurut, sudut pandang muncul dari pikiran manusia berdasarkan kapasitas ilmu yang ada di dalam brangkas otaknya. Dan yang perlu dicatat, setiap brangkas ilmu orang tidaklah sama. Jika sejak dini, si Fulan sudah hafal hadits dan intisari Al-quran dengan fasih dan di luar kepala, kemudian ia selalu menerjemahkan kehidupan menggunakan teks teks agama, maka apa yang mesti menjadi soal?. Sama dengan kita yang sejak awal tidak belajar agama melainkan filsafat, yang setiap fenomena yang ada selalu ditinjau berdasarkan logika dan harus masuk di akal, yang selalu mengacu kepada filsafat yunani dengan tokoh-tokoh seperti Plato dan Ariestoteles. Itu sudut pandang dan itu tidak menjadi soal.

Waktu saya SMA, saya menggugat dan memojokkan siswa lain dari jurusan IPS yang kebetulan waktu itu saya anak IPA. Bagi saya, IPS ini program studi yang mengarah kemana sih?, tidak jelas, tidak sejelas ilmu yang ada di matematika dan fisika. Bila saya ingin mencari tau hasil dari sin 150 derajat + cos 300 derajat per tan 225 derajat - Sin 300 derajat adalah berapa? Tentu menghasilkan jawaban yang sama, meskipun pendekatannya beda-beda, alat pengukurannya (kalkulator atau laptop atau hitung manual) beda-beda kemudian orang yang menghitung juga beda. Tapi saya pastikan bahwa hasilnya tetap sama. “namanya juga ilmu pasti!” yang biasa saya nyinyirkan kepada anak IPS yang adek kelas saja.

 

Saat ini saya seperti memakan ludah yang sudah tiga tahun lalu saya muntahkan. Pasalnya saya sekarang mengenyam pendidikan jurusan program studi IPS di bangku kuliah. Ganti haluan semenjak mendapatkan pencerahan. Saya sekarang berubah. Sekarang yang dipandang lemah dan tidak masuk di akal adalah pelajaran-pelajaran IPA. Bagaimana bisa sesuatu itu selalu bisa secara pasti?, bukankah hidup itu berkembang dan berubah-ubah?. Argumentasi-argumentasi itu bertujuan untuk menjatuhkan peranan IPA karena saya sekarang sudah menjadi anak IPS. Mengenai ini, benci dan suka, memuja dan menghina, sepaham dan beselisih, merupakan sebuah sudut pandang yang pernah kita singgung di awal-awal.

 

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup itu memang begitu. Selalu ada yang benar dan salah. Salah selalu dihubungkan kepada orang-orang yang merasa dirinya benar. Dan benar selalu menang sendiri dan mengalahkan orang-orang yang ia anggap salah. Akhirnya salah dan benar hanya ada di anggapan-anggapan. Ia hanya hidup di batok kepala kita,  batok kepala teman saya termasuk juga batok kepala saya. Karena benar itu banyak, dan fenomena itu tetap satu.

 

Maka dari itu, mengakhiri diskusi hangat di malam yang dingin itu, saya menganjurkan dia untuk membaca buku Sociology: A Multiple Paradigm Science karya George Rizher.

 

Pamekasan 28 April 2019