Sepasang mata bertemu dan berakhir dengan nafas sesak. Aku tau kau merasakan itu, bahkan kau rapat menyimpannya ke teman sebangkumu. Di rumah, di depan cermin, kamu akan menatap dirimu sendiri dan memasukkan tatapan yang pernah aku lakukan di siang itu ke dalam tanda tanya besar melingkar.
Kuyakinkan sekali
lagi. Aku sangat hafal setiap lekukan wajahmu, bahkan dalam siluet sekalipun. Ketika
kamu melakukan curi-curi pandang, aku sengaja tak melihatmu, tak ingin
membuatmu malu. Kau selalu bersembunyi di saat aku sedang asyik membaca buku. Saking
seringnya, kamu sendiri tidak sadar bahwa membaca buku itu adalah kepura-puraanku.
Entah kamu
senang atau tidak ketika aku balik menatap, aku tidak tau. Kamu berlagak
seperti di film-film, pura-pura melihat-lihat sesuatu yang tidak pasti, tiba-tiba
melihat atap-atap ruangan, mencari-cari sesuatu di awan, atau terpaksa harus
berbicara sesuatu yang tidak penting sama sekali. Kenapa?. Apakah kamu ingin
berusaha mengalihkan.
Sejak dulu, kamu
bukan pengalih yang mahir. Kamu tidak dilahirkan mahir dalam mengalihkan apa
yang menjadi idamanmu. Tapi aku tidak ingin mengajarkan kemampuan itu. Aku tidak
ingin dialihkan. Biarkan saja kamu berusaha sendiri. Jika kamu berhasil, ku
nasehati kau, bahwa kamu tidak akan gembira hanya karena itu. Karena sebenarnya kamu tidak ingin melakukan itu. Bahkan
untuk jujur sekalipun.
Perempuan itu
diciptakan oleh tulang rusuk Adam. Aku tak yakin perempuan banyak yang sejak
dulu, tercipta oleh satu tulang yang entah berapa lama yang meninggalkan dunia.
Tapi aku ingin menjadi tulang itu untukmu. Menjadi kolam yang kapanpun kamu
bisa berenang dengan gaun atau tanpa busana sekalipun. Silahkan, tak akan
dikenai karcis seperti wahana yang pernah kita lalui saat berlibur. Tapi ingat,
jangan coba mengajak perempuan lain. “Oh, kamu tidak rela?”
Gagasanku
untuk menjadi tulang rusuk bukan karena aku suka apalagi mahir dalam ilmu
biologi. Yaya, kau ingat biologi, sebuah mata pelajaran kesukaanmu yang paling
kau cintai, hingga aku cemberut akibatnya. Tetapi, coba bayangkan jika aku
benar-benar mau dengan gagasan itu. Ia akan melebur, menjadi sesuatu yang bisa
kau gunakan. Jika aku satu diantara tulang yang kau pakai untuk masa depanmu, tentu
batas hidupku adalah berdasarkan batas hidupmu. Hingga kita memang mengawali kehidupan dengan waktu yang berbeda namun berakhir di waktu yang sama.
Seorang yang
gemar membuat puisi mengawali kalimatnya, “aku ingin hidup seribu tahun lagi
untuk mencintaimu”. Jujur aku menjadi gelisah, bahkan setelah mendengar kalimat itu. Katu tau, aku
mempunyai kalimat yang tak kalah puitis bahkan, namun sama sekali tak mengurangi selera humor orang dewasa. Jika aku ingin menuliskan puisi,
kuketik judulnya adalah: kamu, dan isinya adalah aku. Bukan waktu.
Dafa, 4 April 2019

0 Comments