Hari ini
adalah hari penting, hari dimana orang-orang berpakaian rapi dan
berbondong-bondong mendatangi TPS masing-masing. Puncak klimaks yang selama ini
telah merimpah ruah menyita waktu banyak, kini harus berakhir dengan betul-betul
demokratis. Berpartisipasi dalam pesta
demokrasi guna menentukan pemimpin baru adalah barang wajib. Meskipun satu hal
yang mesti kita ingat, bahwa pemilu bukanlah barang baru. Ia telah ada sejak
dulu.
Ada banyak pelajaran
yang bisa dipetik dari pemilu. Banyak orang yang istirahat bekerja, libur satu
hari, pulang kampung, atau berkumpul pagi-pagi satu keluarga untuk berbincang
kecil mengenai ini. Berkat pemilu, orang bisa bertemu dengan teman lama di
tempat pencoblosan, guru, ustadz, dan lainnya. Entah, mereka sebagai pencoblos
atau panitia. Demokratisasi menjadi lebih hangat ketika di dalamnya ada
silaturrahmi seperti tukar menukar sapa dan senyuman kepada satu sama lain.
Warga
setempat pun ketika ditanya, mereka memperlihatkan bahwa memilih pemimpin itu adalah
keharusan, meski menyebut dan apalagi menyuruh untuk memilih pasangan tertentu,
itu hal yang tidak boleh. Hak itu satu, bukan ditentukan. Ketika mereka ditanya
memilih siapa, jawabannya “ada deh nak!, yang penting milih”. Paman-paman petani saja mampu memberikan pemahaman etis
dalam politik, masak kita tidak.
Hal yang
demikian itu sangatlah berarti. Mereka adalah tanda bahwa masyarakat selalu
siap dengan demokrasi. Tanda bahwa masyarakat siap dengan pemilu dengan negara
sebagai penyelenggaranya. Mereka menjadi representasi atas pidato-pidato di
atas podium orang pintar mengenai bangsa. Memang, secara partikulasi keilmuan,
setiap orang harus memilih berdasarkan pemahaman konkrit atas integritas calon.
Tapi apakah semua orang diberkahi keilmuan itu? Tidak banyak orang yang
diberkahi kemampuan itu. Orang-orang akan memilih berdasarkan jangkauan
pengetahuannya, atau kedekatan dengan sanat gurunya, atau yang terakhir adalah
karena intervensi parpol, timses atau mesin partai.
Tidak banyak
orang yang tahu secara pasti terhadap calon pemimpin yang kita pilih. Bisa saja
ia pernah menjadi baik dan berubah menjadi jahat setelah memagang kekuasaan.
Tapi kita juga keliru, jika satu kesalahan kemudian di sama ratakan dan yang
lain menjadi salah semua. Tentu itu fanatik namannya. Artinya apa, selagi kita
sadar bahwa demokrasi adalah tuntutan memilih, mengeluarkan suara, dan bukan
menentukan seseorang untuk harus menjadi nabi, itu sudah cukup itu sudah gugur
tanggung jawab. Berharap itu penting, tapi justifikasi dan curiga itu jangan.
Jika dalam
hal ini, masyarakat sudah siap dengan demokrasi (baik proses dan hasilnya),
pertanyaan saya selanjutnya, apakah parpol, mesin partai, timses, atau calon
pemimpin itu sendiri, sudah siap? Apakah orang-orang tersebut bisa untuk tidak
terlihat tegang, panik, dan gelisah? Apakah mereka bisa menghargai proses
demokrasi yang telah dilakukan oleh masyarakat dari tingkat atas sampai tingkah
bawah sekalipun? Jangan terlalu terburu-buru. Tuangkan kopi kemudian mainkan
obrolan dengan tenang, seperti cara masyarakat menyambut pemilu ini dengan
hangat.
Yang paling
berharap, yang paling bersemangat, dan yang paling bekerja keras untuk tujuan demokrasi,
adalah mereka: parpol, mesin partai, timses termasuk calon pemimpin itu sendiri.
Tentu itu wajar, bahkan saya rasa itu menjadi keharusan. Kita justru akan
curiga, jika timses tidak terlihat sungguh-sungguh. Jika mereka hanya terlihat
santai, leha-leho, tidak bersemangat, setengah-setengah dan membiarkan peluang menang
diraih oleh lawan.
Akan tetapi mereka
yang bersitegang inilah, yang harus ditakuti dan dikhawatiri dari pada yang
lain. Pasalnya mereka tidak seperti masyarakat yang hanya menggugurkan tanggung
jawab mengeluarkan suara. Mereka yang
bersitegang adalah mereka yang mempunyai kesempatan besar untuk panik, gelisah
karena berharap timnya menang. Ketika sudah begitu, ketakutan terbesar saya,
bagaimana jika mereka tidak siap untuk kalah. Atau apa yang akan terjadi jika
mereka benar-benar tidak siap kalah. Dan, bagaimana jika nanti mereka
benar-benar kalah dengan menanggung kekecewaan. Apakah ada jaminan bahwa tidak
akan terjadi peristiwa mengerikan kekalahan mereka. ya semoga saja tidak.
Makanya, saya
lebih tenang melihat masyarakat biasa tanpa baju partai warna apapun, mengikuti
mekanisme pemilu dengan satu jari bertopikan tinta ungu sambil tersenyum lepas.
Dan semoga, kekalahan bukan menjadi alasan perpecahan, melainkan menjadi
pelajaran bahwa kekalahan adalah demokrasi itu sendiri.
Rumah, 17
April 2019
*Bertepatan
pada Hari Pemilu Republik Indonesia
Calon
presiden urut satu Jokowi - Kh. Ma’ruf Amin
Calon
presiden urut dua Prabowo - Sandiaga

0 Comments