Hari minggu lagi. Hari yang masih sama saja dengan hari-hari yang lain. Membosankan. Hanya bunyi tut keyboard dan lagu 90 an. Kenapa orang-orang selalu jumawa pada hari minggu. Padahal hidup mereka tidak jauh lebih menyenangkan dari pada playground anak-anak di Pelangi Child yang uang tiketnya sebesar lima puluh ribu. Aneh!.

Palingan mereka mekanik, seperti ketika orang percaya bahwa ia betul-betul menyukai Atta Halilintar, padahal tidak. Sok atuh, suka apanya!?. Giliran orang lain heboh membicarakan A, A itu menjadi penting seketika. Padahal kita tidak benar-benar tau itu, dan kita selalu tidak benar-benar bisa menjawab mengapa kita suka itu. Karena pasti jawabannya seragam, pasti sesuai pesanan.

Lebih baik aku mengurung diri, menjauh seperti Al-Ghazali yang bersembunyi di balik gua. Tiba-tiba bertahun-tahun kemudian membawa “miracle” yang bisa dinikmati orang Indonesia hingga tujuh turunan lamanya. Entah apa itu namanya, tapi yang jelas bukan seperti diamond permainan atau aksesoris gigi yang biasa dipakai anak alai. Hingga aku lupa aku, hingga aku lupa kamu yang selalu setia kepadaku.

Kubuka laptop, tentu pasti kau tau, angka dan hurufnya masih di posisi semula. Terkadang mereka mengeluarkan irama tinggi rendah seperti symphony yang biasa dimainkan ayahnya Gita Gutawa: Erwin Gutawa. Ya huruf itu bergelatakan mengintip apa yang aku tulis, dengan sentuhan jari jemariku yang manja dan merangsang. Ku jamah tubuhmu mulai dari Q hingga B, X sebanyak tiga kali. Ah aku selalu membayangkan tubuhmu terselip di antara satu huruf dengan yang lain, hingga aku leluasa menikmati lekukannya.

Penjara, jeruji dan batubara. Lumut-lumut menempel di batu-batu yang nongkrong di pinggir sungai, hingga kau anggap itu sama denganku. Bekerja untuk bunyi tut, bekerja untuk satu keyboard yang penuh dengan aroma tubuhmu. Aku sangat hafal dengan aroma itu. Kau memejarakanku dan menjeruji layaknya pekerja batu bara yang ada di kapal Titanic, di akhir cerita mereka harus meninggal karena menolong banyak awak kapal. Dan kau, apakah merencakan itu untukku, agar aku meninggal dan menyisakan kamu, menyisakan karya seperti lekukan tubuhmu?

Masih dengan laptop terbuka, masih di hari minggu yang jumawa. Memang tukang-tukang apapun, termasuk tukang rayu berhenti bekerja, mereka memilih tinggal di rumah bersama keluarga dan kucing anggoranya. Memberikan mereka bunga dan sereal untuk asupan satu minggu kedepan. Bercinta dan menghidupkan music jazz keras-keras sambil joget dan berdansa. Ya itu mereka, dan aku disini membicarakan itu dengan menggelengkan kepala dan tertawa kecil ironi melihatnya.

Mungkin waktu selalu tidak adil, jika kamu adalah pecundang yang terlambat menembak perempuan yang kau cintai, sebelum ia menikah dengan tetanggamu sendiri. Atau mungkin waktu sangat adil sekali, jika kamu adalah jutawan yang berhasil memenang togel dan judi di pojokan bar bulan lalu. Oh waktu telah menjadi tuhan, atau tuhan sedang menjelma menjadi waktu, yang membicarakan dan menentukan nasib orang.

Lantas, bagaimana tuhan atau waktu, -terserah- itu mengadiliku, memahamiku? Mengapa mereka tak seadil caraku memahamimu dengan irama naik turun tadi?, apakah kau masih melihatku mengetik? Jika ia, tersenyumlah sayang.

Teras Rumah, 21 April 2019