Sesekali lah, tawarkan aku air putih dengan gelas berukiran bunga sepatu di tepi belingnya. Jangan biarkan belenggu masuk dan memenjarakan hatimu. Biarkan saja, mengalirlah!. Toh kamu senang kan jika akhirnya air itu dituangkan ke gelas, kemudian kamu memberikannya kepadaku meski tanpa berucap apapun. Hingga aku mengatakan “terimakasih yaa”. Pasti ada sesuatu yang kau rindukan di dalam kalimat yang aku lepaskan tadi. Entah nadanya, tatapannya, atau kunjungannya.

Ya memang. Melepaskan apa yang pernah melekat itu sulit. Yang bisa hanya mengabaikannya. Berpura-pura. Semua orang, laki laki dan perempuan harus pintar-pintar mengabaikan apapun, harus pintar berpura-pura. Bahkan kepada seseorang yang pernah kita sukai, yang pernah kita cintai, yang saat ini sudah tak lagi di samping kita. Kalau perlu, aku dirikan sebuah tempat kursus untuk mahir  “mengabaikan” itu. Aku bayar orang pintar untuk meramal mu, seperti Dilan atau Pidi Baik. Entah bagaimana sistem pekerjaannya atau berapa gaji yang pas, pikirkan nanti.

Dan kamu, kamu selalu tidak pintar mengabaikan, selalu tidak pintar berpura-pura.

Kita selalu berusaha melepaskan itu. Dengan berat hati dan tangan bergetar, kadang kita susah padahal hanya berbicara saja. Padahal hanya untuk membalas SMS atau mengangkat telponnya. Sudahlah, bumi tidak mengelilingi di atas aku dan kamu saja. Hidup itu luas dan tanpa aku memikirkan mu, matahari tetaplah berjalan sesuai arena dan waktunya. Jadi untuk apa terlihat susah, mending lepaskan saja, seperti ketika kamu joget-joget di atas kasur menikmati liburan sekolah sambil mendengarkan musik keras-keras.

Semua orang berusaha mengerti apa itu rona. Orang lain menganggap rona itu adalah bentuk siluetmu, yang ada di atas kanvas terpampang di dinding ruang tamu yang terlihat begitu besar. Orang yang lain lagi menganggap rona itu adalah jeda senyuman, di antara dua jarak pipi kanan dan kirimu. Kata bapak-bapak tukang ojek, rona justru lesung pipi seorang janda yang biasa lewat dan ditunggu saat ia pulang dari pasar senin. Si janda lewat dan si bapak ojek siul-siul merayunya. Orang-orang sangat berhak mendefinisikan rona semau dan sejauh pengalamannya.

Tentu aku pun begitu. Bagiku rona itu adalah ketika kamu seperti ini. Ragu-ragu hanya untuk memilih gelas apa yang ingin kau tuangkan. Ragu-ragu hanya untuk mempersilahkan aku duduk dan menanyakan kabar. Hanya itu saja membuatmu kabur penglihatan dan konsentrasimu. Belum lagi aku merayu seperti bapak ojek pangkalan yang sudah mempunyai anak tiga itu, dengan siul-siul dan mengipas-ngipaskan topi seraya mengatakan, “neng gelis pisan, bagi air dong”. Kamu pasti semakin malu-malu sambil kekagetan, “apaan sih bang”.  Ya entahlah, apakah itu rona atau percakapan warung sebelah.

Arek Lancor, 16 April 2019