
Dulu saya selalu suka menyanyikan lagu ini: “pada hari minggu ku ikut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka” dan seterusnya hingga irama “tuk tik tak tik tuk”, kita selalu berakhir dengan tertawa menggema kemana-mana. Ya itu dulu, waktu saya masih SD dan belum ada gawai apalagi internet. Sebuah kebiasaan lama yang saat ini, sudah tergantikan oleh genre musik baru seperti Reage atau nasidahnya Sabyan.
Hari minggu
adalah hari libur. Itu terjadi mulai dari zaman dulu hingga saat ini, mulai
dari karyawan swasta hingga Pegawai ASN, mulai dari tingkat PAUD hingga tingkat
mahasiswa. Minggu selalu menjadi dambaan. Jadi tidak heran jika hari “minggu”
banyak dijadikan gurauan, dinyanyikan, banyak dijadikan sanduran, seperti lagu
anak-anak atau lagu orang yang sering kesepian.
Di minggu pagi,
waktu dimana jalanan penuh dengan pejalan kaki, waktu dimana tukang jual es teler
dan batagor bertuliskan “Asli Bandung” antre dikerumuni orang-orang. Orang-orang
berpakaian training dengan warna yang terang. Sesekali tanpa alas kaki atau
terlihat beken dengan sepatu ala pak “Jokowi”. Terlihat hura-hura sambil berbondong-bondong, atau
dua anak remaja sekolahan sedang bersembunyi bertukar senyum di pojokan taman,
sembari mengobati kerinduan di libur akhir pekan.
Ya di pagi
itu, namanya adalah Car Free Day. Sebuah suraga sementara hingga sampai jam 9
pagi, digemari dan diminati banyak kalangan. Jalan-jalan raya ditutup di ujung
sana-sini, agar tidak ada lalu-lalang kendaraan melintas. Namanya juga Car Free
Day, negasi dari Car Every Day. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi
pencemaran udara yang ditimbulkan oleh jenis kendaraan apapun, kecuali sepeda
ontel dan becak jalanan. Secara historis, adanya CFD diawali pada tanggal 25
November 1956 di Belanda. Di Prancis juga melaksanakan pada tahun 1995. Mereka menyebutnya
sebagai pesta Green Tranport Week yang
bertepatan di kota Bath.
Jadi hampir
setiap minggu, bukan hanya pejalan kaki di Pamekasan saja, bahkan bisa se-Indonesia,
atau bahkan bisa juga se-dunia. Secara seragam dan hura-hura sambil menyetel
lagu ditelinga kita, dirayakan oleh semua orang. Begitu harmonik, seluruh dunia
diramaikan oleh pejalan-pejalan kaki. Di Pamekasan, mereka akan mampir ke
penjual es atau camilan sebagai oleh-oleh tepat di penghujung jam sembilan pagi
nanti.
Aktifitas CFD
tidak hanya untuk mencegah asap knalpot saja. Pamekasan, kota saya, telah mengalihkan
perhatian orang-orang terhadap banyak hal seperti hiburan, industri kreatif, kesenian,
dan yang tak kalah penting adalah pendidikan. Tidak sedikit terlihat stan buku-buku
di pojok monumen, dengan baner kecil bertulisan “perpustakaan berjalan”. Juga, terlihat
aktifitas membaca dan berdiskusi hingga mereka membentuk lingkaran-lingkaran
kecil ibarat sedang bermain permainan tradisional.
Bergesernya tujuan,
yang asalnya untuk pencemaran udara, menjadi sesuatu yang berharga seperti kebudayaan
membaca, merupakan suatu perkembangan. Bahkan, saya berharap perkembangan
literasi di kota saya, tidak melulu karena adanya Car Free Day. Kenapa tidak
setiap hari saja, relawan stan buku itu membawa alas dan menyusun rapi
buku-bukunya, agar dibaca dihampiri oleh orang-orang.
Yaa Itu hanya
harapan saja. Jika itu terlaksana, nantinya akan muncul kampanye baru, yaitu RED,
Read Every Day.
Dafa, 07
April 2019
0 Comments