Sudah dua
ratus enam puluh delapan hari. Artinya sudah hampir setahun kita tidak bicara
lagi. Semenjak itu kita tidak pernah duduk meskipun hanya sepuluh menit saja.
Tapi jika hanya berpapasan di jalan, sering. Melihat satu-sama lain namun tidak
pernah bertegur sapa, apalagi mengembangkan dan meninggalkan senyum. Aku dan
kamu, selalu bisa berpura-pura dalam waktu selama itu.
Padahal aku
ingin sekali, dalam banyak kesempatan, ketika bertemu denganmu, kuingin meninggalkan
senyuman, atau bahkan menyapa hangat dan menanyakan kabar. Paling tidak kita
pernah kenal, pernah membutuhkan satu sama lain, atau membuang penilaian orang-orang
bahwa kita musuhan. Kita kok seperti anak kecil saja. Toh aku menerima jika
dalam pikiranmu, jika kamu tidak mengakui bahwa kita pernah bersama dan pernah tinggal
se“rumah”. Itu sama sekali tidak apa-apa.
Ada panel
yang tidak bisa dirubah. Mungkin dalam sistem Windows, beberapa sistem di
Kontrol Panel bisa dirubah, diganti atau bahkan diperbarui. Sesuatu yang bisa
dicopot-ulang tanpa perlu menunggu lama, tanpa perlu menunggu satu tahun
lamanya. Tetapi ada bagian di sistem yang tidak bisa dirubah, yaitu sistem “windows”
itu sendiri. Ia adalah akar sistem operasi komputer. Akar itu adalah
tanda-tanda bahwa komputer itu hidup. Di kehidupan manusia pun sama. Ia disebut
“sejarah”. Sejarah adalah tanda-tanda manusia hidup. Kita tidak pernah bisa merubah
sejarah apalagi memperbaruinya. Sama seperti mu, atau aku bagimu.
Kita adalah
sejarah. Ada saksi bisu yang pernah menyaksikan kita duduk-duduk,
cerita-cerita, makan bersama, atau bahkan bertengkar tanpa peduli dimana
tempatnya. Tempat-tempat itu adalah kesaksian dalam sejarah. Tentu kamu ingat
pasti. Seberapa ramah ibuku ketika mengajarkanmu memasak atau memilih kutu
dalam beras. Aku juga begitu. Aku masih ingat senyuman ibumu, yang bisa
kubayangkan kapan saja aku mau, tanpa harus aku pamit dan bilang kepadamu. Itulah
kita, itulah sejarah.
Jadi, selama
ini, selama hampir setahun ini, jangan anggap aku tak tau, bahwa aku dan kamu hanyalah
pura-pura. Kenyataannya sejarah itu tetap ada. Jika kamu ingin tiba-tiba
amnesia, kuberitahu, bahwa aku pun sama. Aku sangat ingin amnesia. Dulu, aku
berdoa kepada tuhan agar ingatan dalam sejarah tentangmu terhapus, bahkan tanpa
perlu masuk ke Rcycle Bin. Tapi aku tidak mungkin mengorbankan masa depan hanya
karena masa lalu. Percuma.
Tapi mengingatmu
adalah bukan selalu mengharapmu kembali. Aku tahu, senyuman itu tetap sama sampai
kapanpun. Aku yakin cara kamu mengasihi seseorang, tetaplah sama seperti yang
kau lakukan dulu kepadaku. Aku tetap hafal. Itu bukan tentang warna bunga dan
harumnya, tapi tentang cara kamu memetik dan menciumnya. Mengingatmu itu hanyalah
tanda adanya kalender lama yang pernah kita lingkari bersama-sama ketika ingin menonton
konser atau menjelang liburan kemana.
Kau mungkin
sadar atau tidak. Sebentar lagi, hari lebaran akan tiba. Aku selalu senang
ketika hari itu datang. Paling tidak, ada alasan untuk menelpon dan mendengar
suaramu sehabis sholat Ied. “Maafin aku yaa selama ini” kemudian terdengar
suaramu malu-malu, padahal hanya menjawab satu atau dua kata saja. Tidak ada alasan
yang paling masuk akal untuk mengungkapkan kalimat itu di waktu itu. Hari-hari
selebihnya, hanyalah hari yang biasa saja, yang tanpa kalender dan jadwalnya.
Al-Ghazali, 06 April 2019

0 Comments