Jika posisi
kita adalah orang tua dan mempunyai anak yang sekolah, yang kebetulan kepala
sekolahnya adalah tetangga kita sendiri, tentu segala jenis informasi, keluhan,
dan termasuk rekomendasi jurusan akan senantiasa diajukan kepada kepala sekolah
berstatus tetanggaan itu.
Apalagi kita
termasuk orang tua awam mengenai lembaga pendidikan, atau justru kita adalah
orang tua yang memahami mengenai kepemimpinan dan tanggung jawab seorang
pemimpin. Dan, jika si kepala sekolah
itu betul-betul mempunyai jiwa pemimpin yang baik, atau merasa dirinya
bertanggung jawab atas segala kasus yang ada pada siswa, tentu ia akan menjawab
dengan jawaban lemah lembut dan mencerahkan.
Hal ini juga
berlaku di dalam negara. Namun istilah dan cakupannya berbeda. Jika di sekolah
pemimpin itu dinamakan kepala sekolah, di kampus pemimpin itu disebut rektor,
tentu di Indonesia pemimpinnya dipanggil presiden. Mereka semua sama-sama
pemimpin dengan tanggung jawab yang berbeda. Kemudian kita sangat wajar, bahkan
sangat dianjurkan untuk konsultasi kepada kepala sekolah perihal apapun seputar
pendidikan anak. Tentu itu juga berlaku di ruang demokrasi. Seperti halnya kita
sebagai warga, penasaran dengan kasusnya Munir. Atau, bukankah itu menjadi sama
ketika kita sebagai aktifis meminta kebijakan presiden secara langsung mengenai
kasus Novel Baswedan, yang sudah dua tahun ini? Wajar kan?
Ada hal aneh
yang semua orang rasakan. Apalagi jika mereka mengerti tentang tanggung jawab
pemimpin secara etis. Seharusnya, sudah hampir dua tahun, presiden memberikan
harapan, inisiasi atau sikap tegas terhadap kasus penting. Seperti kasus Novel
Baswedan, atau kasus Munir. Kedua kasus itu hingga detik ini benangnya semakin
pudar. Itu berdampak secara mekanik bagi masyarakat, yang kemudian mereka bertanya-tanya
“ada apa?”, atau “mengapa begitu ya?” hingga nuraninya kebablasan menjadi
curiga “jangan-jangan…”.
Tidak ada kasus-kasus
penting selain penyimpangan terhadap nilai kemanusiaan. Itu adalah suatu kasus
yang paling bisa dicium hangat oleh orang-orang. Kita masih ingat, Ki hajar
mengajarkan asas pendidikan melalui budi pekerti, nilai kebatinan dan nilai
kemanusiaan. Tanpa harus mengabaikan itu, mengapa harus heran jika orang naik
pitam akibat kasus kemanusiaan yang mandek
dan seolah-olah dibiarkan begitu saja. Jika apatisme pemerintah semakin lama
semakin tinggi, jangan salah jika orang-orang selalu dihantui pikirannya
sendiri untuk menaruh rasa curiga. Curiga, curiga dan curiga.
Novel Baswedan diserang oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017. 11 April kemaren
adalah dua tahun peringatan Novel. Pantesan saja, Aliansi Mahasiswa UGM kemaren
mengadakan selebrasi untuk memperingati dan mengingatkan kita semua mengenai keharusan
kejelasan kasus penyerangan Novel Baswedan dari pemerintah.
Saya melihat selebrasi itu dengan berapi-api,
spanduk-spanduk beruliskan “yang berjuang yang ditendang” dipegang
tinggi-tinggi dengan emosi meledak-ledak. Sebagian ada yang mengenakan topeng
bergambarkan kepala Novel tanpa satu mata. Sungguh satire yang mampu
mengangguk-anggukkan kepala.
Pernyataan sikap dari aksi itu, yang sempat saya ingat dan
saya banggakan, yaitu jika hingga Juli 2019 tidak ada perkembangan yang
berarti, maka menuntut Presiden untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta
(TGPF). Persis seperti pada waktu SBY membentuk Tim Pencari Fakta
mengenai kasus Munir silam.
Entahlah, terkadang sesuatu semakin menyebalkan ketika informasinya
tidak sesuai harapan. Seperti setelah saya membaca berita Tempo, membuatnya mengerutkan
dahi dan menggelengkan kepala. Disana tertulis bawah presiden Jokowi,
saat ditanya, justru mengatakan penyelesaian kasus itu sebaiknya ditanyakan
kepada tim gabungan yang dibentuk oleh kepolisian. Padahal Yudi Purnomo (Ketua
WP KPK) mengatakan, telah bertemu dengan Kepala Badan Reserse Kriminal
Polri Komisaris Jenderal Idham Azis pada akhir Maret 2019 lalu. "Kami
tanya kepada Bapak Kabareskrim apakah pelakunya sudah ditangkap, dan dijawab
belum ditangkap,"
Ini sungguh tidak berarti. Berlarut-larut hingga
memengaruhi emosi banyak orang. Mahasiswa-mahasiswa akan turun jalan dan
mensuarakan banyak suara dari kasus itu. Sungguh tidak masuk di akal. Mungkin,
apakah tidak cukup di sosial media dan berita online?
Jika suatu saat saya mempunyai anak perempuan cantik dan
pintar. Saya berjanji sejak dini untuk tidak menyekolahkan anak saya kepada sekolah
yang kepala sekolahnya acuh tak acuh. Meskipun ia adalah tetangga, meskipun ia
adalah saudara. Titik!
Sampang, 14
April 2019

0 Comments