Apa yang ada di pikiran kita mengenai pashion. Baiklah, mungkin kita paham meski kita kesulitan untuk menjabarkannya. Paling tidak kita memakai "kata" itu, ketika bercerita dengan teman lama, ketika berbicara prinsip, atau ketika kita memilih sesuatu hanya berdasarkan rasa suka.

Bayangkan begini. Seorang pak tua membawa peralatan pancing dan menyewa skoci kecil untuk diayuh ke tepi laut. Mencari tempat hening nan sunyi di sekitar karang yang dicurigai banyak ikan berenang. Si pak tua meluangkan waktu untuk memancing hampir seharian. Di akhir cerita, ia memperoleh banyak ikan namun ia kembalikan ke dalam laut tepat sebelum pulang.

Kemudian, sesampainya di rumah, cucunya yang sudah dewasa akhirnya bertanya: mengapa kau kembalikan lagi hasil pancinganmu, kek? Si pak tua kemudian menatap sorot mata anak itu sembari menjawab dengan hangat "itulah yang disebut pashion, nak".

Jika saya yang menjadi cucunya, mungkin saya akan berpikir berulang ulang mengenai apa yang telat kakek saya lakukan seharian itu. Duduk duduk di tepi laut, dengan radio yang cerewet, tangan yang selalu memegang tongkat, namun akhirnya pulang membawa kekosongan dan kepolosan. Tetapi, ia terlihat senang-senang saja. Siul-siul seperti ibu-ibu yang barusaja mendapatkan arisan.

Pashion itu tidak untuk dimengerti apalagi didiskusikan. Jika kepuasanmu bisa ditukar hanya dengan melukis cat air seharian, berlama-lama di kamar tanpa peduli banyak waktu yang kau buang, mungkin itu pashionmu. Aktifitas itu sama sekali tidak perlu kau perhitungkan. Artinya pashion itu tidak bisa ditukar dengan apapun, apalagi uang.

Lihat saja si pak tua tadi. Harusnya, dengan kondisi yang rapuh, ia memilih istirahat di rumah, atau terapi dan membayar tukang pijit untuk mengurut urat-uratnya yang lemah. Bukan pergi sendirian ke tepi laut hanya membawa pancingan dan sehelai roti serta minuman kaleng bercap bintang tujuh. Bagaimana jika tiba-tiba hujan atau malah badai?.

Ada perbedaan mencolok antara prinsip pashion dan prinsip ekonomi. Di dalam prinsip ekonomi itu, jika hasil dalam satu tempo, jatuhnya draw (sama) antara laba dan modal, maka hitungannya adalah rugi. Di dalam prinsip ekonomi tidak boleh sama, laba harus lebih besar untuk bisa dikatakan untung. Atau kamu siap gulung tikar dan memecat karyawan.

Tetapi di dalam prinsip pashion, kepuasan menjadi alasan yang tak bisa diganggu gugat. Bukan materi apalagi waktu. Demi pashion, seorang rela membeli gitar yang saking mahalnya ia harus menabung menyisakan uang ke bawah bantal. Setelah itu, ia bahagia keranjingan. Memetiknya setiap malam tanpa peduli apakah sudah mahir atau bahkan masih abal-abal. Eksis saja lah. Pashion itu eksis. Mengisi sesuatu bukan untuk siapa-siapa melainkan hanya untuk kepuasan personal.

Yang banyak terjadi di lapangan, orang tidak menaruh perhatian terhadap pashion yang seperti itu. Ia akhirnya menjadi ganjil. Ia diterjemahkan sebagai sesuatu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sehingga tidak ada bedanya antara seniman dan pedagang, tanggungjawab dan kesenangan, nafkah dan rizeki. Melebur seperti cendol yang diisi banyak biji warna-warni.

Jangan tuding saya yang engak-engak. Tidak semua orang yang bekerja itu senang apalagi puas. Tanyakan saja jika tidak percaya. Mungkin mereka terpaksa menjalani profesi itu, yang dikarenakan akibat tuntutan atau minimnya kemampuan. Orang yang tidak mempunyai kemampuan, adalah orang yang tidak hidup bersama pashionnya.
Karena, ruh pashion itu sendiri adalah kemampuan (yang diasah).

Di sebuah masa dan ruang tertentu terdengar, "Jika demikian, gimana ya dok?" Ujar pasien yang sedang konsultasi di laboratorium. "Bagaimana jika pada akhirnya pashion itu menjadi jalan menjadi kaya?" . Dengan tetap tenang, dokter yang kebetulan nyambi sebagai pengusaha itu menjawab "Yaa anggaplah itu reward".

Al-Ghazali Pamekasan, 4 April 2019