Biasanya
di akhir perkuliahan, teman-teman pada heboh nanyain soal liburan. “Liburan
ini kemana?”, “Liburan ini ke Paris yuk!”, atau “Ke Ancol yuk!”, dan ketika kita tidak punya rencana berlibur ke
tempat wisata atau tempat-tempat yang jauh, tidak jarang orang-orang tertawa memandang
simpatik. Seolah-olah dalam pikiran mereka kita adalah spesies menyedihkan.
Memang
sih, tempat wisata, didesain sebagai
tempat untuk berlibur. Mereka ke sana untuk melepaskan penat dan kejenuhan. Namun
bukan berarti, orang yang memilih tinggal di rumah saja, mendengarkan lagu atau
menonton berita olahraga, salah dalam mengartikan “liburan”. Bersenang-senang
juga tidak perlu naik komedi putar, atau Roller Couster yang biasa menjadi
favorit pengunjung di tempat wisata.
Stereotip
soal liburan menjadi unik untuk dibahas. Apalagi ketika berlibur harus identik
dengan pergi ke tempat wisata seperti kebun binatang atau lainnya. Saya pernah
diajak “Ayo dong ke kebun binatang, udah
lama nih ga liburan”. Mereka yang bertujuan menghilangkan kejenuhan, ingin
mendapatkan kesenangan, membuat berpikir: kenapa untuk mendapatkan “kesenangan”
saja, orang-orang harus pergi ke kebun binatang, yang untuk bersenang-senang,
harus melihat lumba-lumba atau seekor simpanse yang terkurung.
Dalam
hal ini, saya pikir tempat wisata bukan sesuatu yang diciptakan untuk mendapatkan
kesenangan. Melainkan suatu tempat sebagai wadah edukasi. Itu yang sering terlupakan.
Misalnya, kebun binatang memuat pelajaran biologi. Kita bisa belajar secara
empirik flora dan fauna. Atau, jenis permainan di tempat wisata seperti Roller
Couster dan Halilintar, merupakan pelajaran seputar fisika. Candi dan ukiran
prasasti juga pelajaran mengenai kebudayaan dan sejarah, dan hal lain yang bisa
kita pelajari jika kita mau menggali.
Di lapangan,
justru kebanyakan orang tidak menunjukkan keinginan untuk melihat sesuatu secara
edukatif tadi. Misalnya ketika berlibur, kegiatan yang paling sering dilakukan,
hanyalah photo-photo, potret sana sini, atau mengajak bule selfi-selfi. Oleh karenanya, ketika tiba di rumah, ia tidak
bisa bercerita mengenai pelajaran-pelajaran tadi. Mungkin yang bisa diceritakan,
hanya mengenai biaya karcis masuk, atau
jenis-jenis makanan yang dijual.
Saat
ini, tidak ada yang menarik untuk kita dengarkan cerita seseorang yang pernah pergi
ke Jerman, Singapura, apalagi Arab Saudi, jika kepergiannya untuk
senang-senang. Kecuali seseorang yang menetap tinggal di sana, sebagai seorang
pekerja atau mahasiswa. Itu berbeda. Mereka pasti bisa bercerita mengenai kebudayaan,
tradisi, infastuktur, agama, bahasa dan lain-lain. Itu jauh lebih menarik daripada
cerita seseorang yang pergi berlibur selama tiga hari.
Saat
di tempat wisatapun, ada saja hal lumrah yang sering dilakukan tanpa kita mau
menyadari apa tujuan yang bernilai. Hal tersebut seperti: kegemaran untuk photo
bersama bule. Mungkin, kegiatan itu banyak
dilakukan, karena dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengangkat eksistensi
dirinya. Padahal, itu adalah “stigma” hasil peninggalan penjajah, mengenai konstruksi
pemikiran yang mereka bangun untuk orang-orang pribumi.
Dalam
hal ini, sebagai seorang tamu, seharusnya bule
tidak hanya diminta berphoto saja. Layaknya tuan rumah, kita menyambut dengan
cara berkomunikasi dan mencari tau ‘ketertarikan” mereka berkunjung ke tempat
wisata itu. Agar terdapat tukar informasi, tukar penilian dan tukar perspektif.
Sehingga kita “benar-benar” memposisikan tempat wisata sebagai wadah edukasi,
bukan kesenangan saja. Dalam urusan ini, pelajaran yang dipetik, selain kita
tau alasan bule kesini, kita bisa
melatih kemampuan bahasa inggris kita.
Namun
perilaku terhadap bule yang demikian,
sangatlah jarang. Orang-orang hanya tertarik untuk berphoto saja. Baginya,
berphoto dengan bule adalah sesuatu
yang luar biasa, meski tidak pernah ada dialog sebelumnya. Stereotip ini yang
juga miris. Mungkin jika bertemu dengan penyanyi Ariel katakanlah, kemudian photo
bersama, itu wajar. Ariel memiliki kontribusi besar bagi pecinta musik di tanah
air. Atau gubernur jawa timur, bu Khofifah, yang kebetulan sedang jalan-jalan
bersama suami dan anak-anaknya, itu juga wajar, karena beliau seorang pemimpin.
Lantas, bagaimana denga si bule sedangkan
kita tidak tau namanya apalagi kontribusinya.
Saya
rasa kegilaan itu hanya akan menunjukkan inferioritas kita, sebagai pribumi yang
pernah dijajah oleh mereka, para kolonial. Kita terlalu percaya dengan hegemoni
yang orang barat ciptakan, sejak kita dijajah dulu. Kita termakan omongan bahwa
bule itu keren atau pergi jalan-jalan
keluar negeri itu keren, hingga kita memiliki obsesi untuk meniru mereka, seperti
fashion dan gaya hidup ala barat. Mungkin stereotip inilah yang menjadi
penyebab orang-orang sukar membedakan pengertian modernisasi dan westernisasi.
Masih
mengenai liburan serta stereotip kebanyakan. Di luar sana, sebagian menunggu
hari Minggu tiba untuk merasakan liburan. Biasanya ini dimiliki oleh orang yang
pekerjaannya libur di hari Minggu. Sebagian yang lain, menunggu akhir tahun
untuk berlibur dengan cara memilih tempat wisata. Seolah hanya dengan pergi ke
tempat wisata inilah, ia akan memperoleh “kesenangan”. Jika kesenangan itu
hanya bersumber dari tempat wisata, stereotip ini yang harus dibuang.
Selain
itu semua, saya rasa tempat wisata bukan hanya soal stereotip sempit yang
diceritakan tadi. Selain tempat wisata sebagai wadah berlibur dan edukasi, ia
juga bagian dari sebuah bisnis. Bisnis seperti yang dipaparkan Peterson dan
Plowman yaitu serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pembelian ataupun
penjualan barang atau jasa yang dilakukan secara berulang-ulang. Seperti tempat
wisata, yang selalu ramai pengunjung. Bahkan menurut kedua tokoh ini, jika hanya
dilakukan satu kali, kegiatan itu tidak layak disebut bisnis.
Seharusnya,
kemajuan teknologi, sudah cukup untuk memperloeh kesenangan. di tengah
kepadatan aktiftas kita, kita masih sempat silaturrahmi di Facebook sambil
tertawa sendirian. Itu menyenangkan. Kita juga sering menyaksikan keasyikan teman-teman
bermain game di gawainya, itu juga
bisa menyenangkan. Atau, kita tertawa ramai-ramai saat menonton video lucu di
Youtube atau Instagram.
Dari
sini, memperlebar cara pandang kita, bahwa untuk berlibur, bersenang-senang, memperoleh
pelajaran, atau berbisnis sekalipun, ponsel pintar (smartphone) menjadi alternatif mewujudkannya. Kita juga menjadi
mudah mendapatkan kesenangan itu.
Di
luar sana, masih terdapat kegiatan menyenangkan lain, yang mungkin tidak bisa
diperoleh di dalam ponsel. Seperti, seseorang memancing dan hasil tangkapannya dikembalikan
lagi ke laut. Anak jalanan hura-hura sepanjang perempatan lampu merah sambil
memetik gitar. Atau, kegiatan gosip yang bisa membuat ibu-ibu menghindar dari
kejenuhan rumah tangga. Gosip itu memang paling bisa membuat wanita menjadi senang.
Apapun
bentuknya, saya pikir sesuatu menjadi menyenangkan meski tanpa biaya mahal. Selamat
keluar dari stereotip liburan!.
Pamekasan, 16 Maret 2019
2 Comments
Ini karena kopi nalar yang sering ku baca mas ckckckc 😂