Berkendara motor malam-malam itu sungguh menyenangkan lho. Apalagi malam minggu. Pelan-pelan sambil memerhatikan aktivitas orang-orang di pinggir jalan. Ada begitu banyak aktifitas baru yang bermunculan. Coba saja. Tidak ada pelajaran yang lebih berharga dari pada memerhatikan orang sekitar kan.

Ada yang berubah. Pamekasan telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri di setiap sudutnya. Tempat seperti mall dan komedi putar bukan menjadi tempat favorit ibu-ibu yang mempunyai anak kecil lagi. Bagi mereka, cukup pergi ke alun-alun Arek Lancor di malam minggu, menyewa mobil mainan untuk beberapa putaran dan akhiri malam dengan makan bakso Pak Kawi, maknyus sekali pokoknya. Itu bisa lebih menyenangkan dari pada ke mall atau Kenjeran .

Malam minggu sudah bukan menjadi miliknya insan kekasih berkeliaran. Di sudut-sudut kota, pagelaran dan kesenian diselenggarakan beramai-ramai, bersama para penggemar dan satu atau dua narasumber dari luar. Suara musik jazz menggema ke pinggir pagar kafe-kafe, yang diterangi lampion kuning dan satu penjaga satpam berdiri di depan. Bahkan di sudut yang lain, motor tua berjejeran dipajang oleh gang motor mania dengan jaket dan helmnya yang unik-unik. Baris-berbaris seperti murid-murid yang disetrap akibat terlambat upacara. Saya mengelilingi dan berhenti di depannya, memotret dan menangkap momennya.

Keindahan Pamekasan tetaplah menjadi keindahan Pamekasan, bukan jelmaan. Sekalipun setelah saya amati beberapa tempat keramaian sengaja didesain serupa seperti di Malioboro, Solo atau kota lain. Juga konsep retro dan vintage kafe-kafe yang ada, hingga beberapa jargon-jargon yang tertulis di pojokan gym dan taman mini, tidak asing dan bukan dari diri sendiri. Tapi tak apalah, toh itu adalah Pamekasan yang berusaha naik tangga.

Terbuka lebarnya budaya dan lingkungan baru yang terjadi seperti di malam minggu itu, memberikan peluang bagi pegiat apapun untuk tidak malu-malu berekspresi. Mulai dari pegiat ekonomi, seniman, musisi, hingga pengamen jalanan mulai berbondong-bondong melalukan ekspansi kelompoknya. Yaa baguslah dari pada Pamekasan waktu saya masih SMP. Pergi ke kota hanya untuk bisa bermain internet dan menyewa VCD. Saya masih ingat, dulu nama tempatnya adalah Dolphin yang ada di jalan Balaikambang dekat RS Lama yang sekarang sudah menjadi pusat jual beli motor second.

Malamnya pun semakin larut. Dulu itu waktu malam minggu, orang-orang sudah mengosongkan kota selepas jam dua belas ke belakang. Sekarang, jam dua sampai jam tiga dini, masih terlihat saja aktifitas orang-orang, terlebih seperti di kafe dan pos ronda jalanan. Memang sih, kehadiran kafe memberikan tempat tertentu di hati orang-orang terutama anak muda. Anak muda menghabiskan waktu berbicara panjang dan lebar di atas meja bundar. 

Bagi yang ingin pacaran, mungkin tidak selarut yang lain, wanita di sini masih belum bebas seperti di luar. Tapi saya tidak tau, apakah wanita di sini bisa sebebas seperti di luar suatu saat nanti.

Suasana malam Minggu di beberapa kafe pun, sengaja dibuat berbeda. Seperti mengelar acara akustikan, DJ keci-kecilan, atau diskon kopi dan makanan. Yang penting malam itu berbeda, dan menjadi alasan orang-orang untuk datang beramai-ramai. Jika sudah melingkar dan tertawa hura-hura sepanjang jalan, tak terasa tiba-tiba larut, tiba-tiba pagi.

Malam Minggu itu memang gitu.

Basecamp FKMSB, 28 Maret 2019