Di sebelah barat, garis sepanjang
mata membentang sedemikian indah. Memanjakan siapapun yang hendak berinjak. Senja.
Lukisan yang malaikat buat untuk manusia yang kehilangan arah. Senja itu,
mempertontonkan semesta dengan tidak kurang lebih dari seperduabelas waktu sepanjang
sore. Begitu sebentar. Dan, seolah-olah, setiap senja adalah baru.
Sebegitu bisa Tuhan menciptakan
dengan tangan Nya. Hingga terpesona. Memukau. Lalu manusia mengambil makna. Senja
yang menjadi indah. Yang menjadi sendu. Yang menjadi harmoni. Yang mengobati
pilu. Yang mengimajinasi setiap punggawa dan pemabuk cinta. Makna yang manusia ciptakan.
Hingga Tuhan tertawa melihatnya.
Belajar dari sana, manusia akan menafsirkan
apa yang matanya lihat. Sebuah hujan yang menjadi anugerah atau yang menjadi
kutukan. Atau apapun yang telah akal manusia ciptakan hingga hujan bukan lagi aktifitas fisika yang hanya itu-itu saja. Seperti akal yang menciptakan ini dan itu dimanapun.
Manusia berbicara berdasarkan mata
dan daya nalar. Mereka melihat dan bercerita, bahwa suatu ketika, sungai bukan
hanya tempat ikan dan kodok bersenggama. Sungai juga menjadi tempat perempuan mandi.
Laki-laki tua yang pergi mencari rumput tidak sengaja memergoki, “oh, ternyata jika perempuan mandi, mereka cuma
pakai sarung, melepaskan daster alagi mukena”.
Dan seterusnya. Itu hal
wajar cara akal bekerja. Mereka sepakat bahwa mukena tidak relevan untuk mandi
apalagi bertani. Itu Simbol yang diciptakan oleh fantasi manusia yang berkeliaran. Kegiatan
perempuan membersihkan tubuhnya pun, diperingkas dengan satu simbol dan itu disepakati, yaitu “mandi”.
Simbol adalah tanda. Manusia belajar
bahasa adalah manusia sedang belajar “menandai’
lewat kata-kata. Bahasa sebagai tanda. Dengan tanda, manusia bisa
membedakan bahwa itu perempuan, sungai dan cantik. Orang itu akan membawa
pemandangan tadi lewat simbol. Orang lain yang mendengarkan, bisa menikmati seperti apa
kecantikan si wanita yang sedang bugil di siang bolong. Tentu tanpa pemahaman simbol yang diterima, dia tidak akan
mendapatkan sense nya.
Selebihnya, semakin lama tanda itu semakin berkembang. Pemahaman
orangpun harus demikian. Mungkin manusia mudah tertukar antara dimana playground dan dimana taman pintar. Atau
apa pengajaran dan apa pembelajaran. Penggunaan istilah sex dan gender. Apakah itu seni ataupun orat-oret. Kapan mereka menyebut ustad dan kapan
menyebut dosen. Apakah tomat itu sayur atau justru buah. Hingga seterusnya.
Perempuan dan laki-laki, senja, hujan, cantik, mandi adalah simbol. Sebuah tanda yang diciptakan oleh manusia. Dan siapa yang memberikan tanda itu. Tentu
mereka yang disebut-sebut ilmuan, budayawan, sejarawan, agamawan, dan orang pertama lain, yang jauh-jauh agama muncul dan kehidupan masih sangat mistis dan penuh dewa-dewa. Tidak ada awal, kecuali pembaharuan yang diharapkan.
Jika saya menemukan satu mahluk baru dan itu tidak pernah ditemukan sebelumnya. Mahluk itu bebas saya berikan nama “cryps”, atau “lorx”, atau "sputink" atau “alien” dan apapun itu. Hingga saya mewartakan kepada publik, dan orang-orang memberikan label bahwa saya adalah arkeolog, fisikawan atau penemu ramuan segala jenis penyakit misalkan. Saya akan mendapatkan tanda (identitas) yang baru.
Jika saya menemukan satu mahluk baru dan itu tidak pernah ditemukan sebelumnya. Mahluk itu bebas saya berikan nama “cryps”, atau “lorx”, atau "sputink" atau “alien” dan apapun itu. Hingga saya mewartakan kepada publik, dan orang-orang memberikan label bahwa saya adalah arkeolog, fisikawan atau penemu ramuan segala jenis penyakit misalkan. Saya akan mendapatkan tanda (identitas) yang baru.
Jika orang melihat senja sebatas langit
merah yang berada di barat untuk menenggelamkan dirinya perlahan-lahan,
itu hak siapa saja. Namun akan berbeda dengan senja menurut anak sastra terutama anak fisika. Si petani memaknai senja misalnya, sebagai peringatan untuk
segera mengakhiri pekerjaan membajak sawah. Itu sangat efektif. Si bapak tani tidak perlu membawa arloji atau menghidupkan radio. Anak kecil memaknai senja, sebagai batas
berhenti bermain bola karena harus pulang siap-siap ke surau untuk mengaji atau pergi bimbingan. Hingga akhirnya, semua orang bebas memaknai senja sedemikian rupa.
Dari itu, saya mempunyai versi yang berbeda. Senja itu bukan persoalan keindahan langit atau bias cahaya. Melainkan kamu yang aku ilustrasikan sebagai senja yang kurindukan di setiap sore menjelang petang. Senja itu kamu, atau sebaliknya.
Pamekasan, 04 Februari 2019
0 Comments