Profesor Klaus Schwab berbicara di dalam
bukunya, The Fourth
Industrial Revolution dengan cukup meyakinkan tentang
sebuah revolusi generasi keempat bagi umat manusia. Di dalam buku terbitan
tahun 2017 itu, memetakan tiga komponen penting yang mendasari munculnya
revolusi industri 4.0. Yaitu cyber
physical system (mekanisme yang dikontrol oleh komputer berbasis
algoritma), internet of things (perluasan
manfaat konektifitas internet yang tersambung tanpa henti), dan bio technology (penggunaan
organisme hidup untuk mengembangkan produk baru).
Gagasan orang Jerman ini, banyak
mengilhami negara lain untuk mengembangkan berbagai sektor menuju revolusi
industri 4.0. Sehingga industrialisasi akan terlihat semakin efisien dan
efektif akibat revolusi ini. Kemudian, wacana revolusi industri 4.0 yang cukup
alot dan rapi menyulut optimisme baru bagi negara Indonesia akhir-akhir ini.
Indonesia saat ini masih tahapan
‘menuju’ revolusi itu. Artinya, belum ada output
yang jelas dan dapat disebut sebagai impact
revolusi industri 4.0 secara dominan. Revolusi industri generasi keempat di Indonesia
masih sebatas wacana dan rencana. Sehingga orang Indonesia belum bisa berbicara
berdasakan bukti empirik dan belum juga tercatat adanya pendekatan
operational research dan simulasi
yang merupakan penemuan teknologi komputer berbasis cyberphysical system (CPS).
Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Darmin Nasution pun ketika menyinggung tentang revolusi 4.0, masih sebatas rencana, ia mengatakan
bahwa infrastruktur di bidang industri menjadi fokus pemerintah kedepan, yang
oleh presiden Jokowi diringkas menjadi making
Indoneisa 4.0. Tentu jika yang dimaksud Darmin Nasution adalah revolusi
industri 4.0, bentuk persiapannya yaitu dengan membangun institusi atau lembaga
riset tentang infrastruktur industri yang bersifat digital. Baik itu industri
yang berupa transportasi, arsitektur, telekomunikasi, dan bahkan pelayanan
umum.
Pada dasarnya, kegiatan industri akan
disebut sebagai impact industri
generasi keempat, ketika kegiatan itu mencakup tiga komponen yang dimaksud Schwab
diatas. Yaitu cyber physical system (CPS),
internet of things (IoT), bio technology, tentu dengan objek industri yang
jelas dan signifikan.
Sehingga secara umum, gambaran dari impact industri 4.0 di Indoneisa yang merupakan
hasil karya anak bangsa, yaitu dengan memerankan kecanggihan mesin teknologi
yang terhubung dengan sistem berbasis digital, atau Schwab menyebutnya dengan
komputerisasi sistem. Selain efisiensi tenaga, akselerasi dan kecepatan menjadi
satu-satunya pencapaian yang ada di dalam sejarah peradaban Indonesia.
Tentu selain itu, bentuk mekanisme
juga harus menjadi kajian. Bentuk mekanisme ini lebih rumit, karena bukan
tentang hasil atau gambaran akhir. Melainkan, berbicara seputar tehnis, seperti
pertanyaan, karya industri seperti apa yang ingin dicapai, dan bagaimana
tehnisnya?, atau, mesin teknologi apa yang pernah dibuat, dan seperti apa cara
kerjanya?, dan standarisasi efisien dan akselerasi apa yang menjadi tolak ukur
industri 4.0?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarah kepada mekanisme
awal hingga akhir. Hal ini penting dan bahkan jauh lebih prinsip ketimbang
gambaran akhir yang mengawang.
Oleh karena itu, Anggota DPR RI
Budiman Sudjatmiko saat berpidato pada Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 (16/12),
mengingatkan, bahwa yang masih menjadi polemik di Indonesia yakni seputar SDM,
pendidikan dan pendapatan. Yang mana, hal itu dapat menghambat segala
rencana-rencana menuju making indonesia
4.0.
Menyoal
Mutu SDM Indonesia
Jika berbicara mengenai SDM, maka hal ini
memiliki kaitan dengan pendidikan Indonesia, yang secara kualitas, masih
terbilang rendah. Meskipun di lain sisi, akses pendidikan di Indonesia cukup
signifikat meningkat, yang dibuktikan dengan bertambahnya institusi pendidikan
secara kuantitatif. Kepala Perwakilan Bank Dunia (World Bank), Rodrigo Chaves mengatakan kualitas pendidikan
Indonesia masih rendah, tercermin dari peringkat Indonesia yang masih berada di
posisi tertinggi dari negara-negara tetangga. Namun indikator peringkat
kualitas pendidikan ini hanya dalam jumlah kasus buta huruf yang menurun lebih
sedikit dari Vietnam.
Rendahnya kualitas SDM Indonesia dapat
berpengaruh dalam inovasi. Inovasi menjadi kunci utama untuk merubah kebekuan
sosial. Meskipun ada banyak orang yang menyadari tentang sebuah ketertinggalan
di tanah air, namun hanya dengan kesadaran, tidak bisa mengubah apapun. Jika
tidak ada SDM yang cukup, maka tidak akan ada perubahan yang bisa diharapkan.
Inovasi masyarakat Indonesia menjadi penentu, termasuk di dalam rencana
pembangunan Indonesia menuju industri 4.0.
Terdapat Empat kompetensi yang menjadi
terobosan baru yang dikeluarkan oleh Kemendikbud untuk meningkatkan mutu
pendidikan, yaitu Critical
Thinking, Collaboration,
Communication,
dan Creativity.
Hal ini diterapkan dan menjadi school
based management, sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan yang
dianggap masih menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Kompetensi yang
disebut 4C ini, diharapkan menjadi solusi atas rendahnya mutu pendidikan, dan
dapat mendorong memasuki industri 4.0.
Keterkaitan antara pendidikan dan
inovasi menuju indonesia 4.0, terletak pada bagaimana kualitas SDM masyarakat
sebagai power. Meskipun tujuan utama pendidikan Indonesia adalah terbentuknya
nilai moral, namun SDM merupakan hal yang sama-sama penting untuk kemajuan
bangsa sebagai nilai tambahan (added
values), dan bahkan SDM lebih memiliki potensi yang besar untuk menciptakan
inovasi.
Optimisme
dan Pesimisme “Menuju” Industri 4.0
Revolusi
Industri 4.0 pertama dikenalkan kepada dunia, melalui Hannover Fair yang diadakan di Jerman pada tahun 2011. Dimana
industri 4.0 ini mencangkup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printing
hingga robotik, jenis material baru serta sistem produksi.
Istilah
"cyber physical system" sendiri,
diciptakan oleh Helen Gill di National Science Foundation di Amerika Serikat pada tahun 2006.
Cyber
physical system
merupakan komputasi yang terintegrasi antara sistem siber (cyber) dan Internet of
things (IoT) yang dapat mengontrol segala aktifitas fisik (mesin
teknologi), Kolaborasi Cyber physical system (CPS) dan internet of things (IoT) menunjukkan efisiensi dan akselerasi dengan integrasi kepada teknologi mesin industri. Dimana, perkembangan ini memiliki struktur antara manusia dengan CPS dan IoT, kemudian CPS dan IoT dengan mesin teknologi. Artinya bukan lagi antara manusia dengan manusia, atau manusia dengan mesin.
Beberapa perusahaan di Indonesia pada kenyataanya, sedikit banyak telah menggunakan komputerisasi berbasis sistem internet yang terintegrasi dengan mesin teknologi industri. Salah satu contohnya, mesin percetakan digital yang berbasis internet, automasi eskalator berbasis data didalam industri arsitektur, dan hingga pelayanan menggunakan robot di restoran ternama. Namun, variabel itu masih sekali sedikit dan tidak cukup. Sehingga, secara dominan, industri Indonesia masih dalam fase industri 3.0, yang struktur kerjanya, antara manusia dan mesin.
Insomnia, 08 Februari 2019
Beberapa perusahaan di Indonesia pada kenyataanya, sedikit banyak telah menggunakan komputerisasi berbasis sistem internet yang terintegrasi dengan mesin teknologi industri. Salah satu contohnya, mesin percetakan digital yang berbasis internet, automasi eskalator berbasis data didalam industri arsitektur, dan hingga pelayanan menggunakan robot di restoran ternama. Namun, variabel itu masih sekali sedikit dan tidak cukup. Sehingga, secara dominan, industri Indonesia masih dalam fase industri 3.0, yang struktur kerjanya, antara manusia dan mesin.
Insomnia, 08 Februari 2019
2 Comments