Setelah semuanya berakhir begitu saja, kamu tidak lagi memandangiku seperti manusia sewajarnya. Kamu seperti melihat sampah. Kau tidak lagi menghargai apapun niatku, bahkan hanya duduk untuk mengobrol saja. Kau bahkan tidak pernah menyempatkan diri untuk memanggilku saat kita berpapasan, apalagi meminta menjemputku saat kamu kehabisan kosmetik, atau ingin belanja ke mall. Hingga aku tidak memiliki keberanian untuk menatapmu apalagi meminta ini dan itu.
Sekarang, sepertinya, kamu sudah menemukan pria yang bisa
membuatmu nyaman, hingga kamu ingin menetap disana, dan melupakan rumah lama
yang mungkin, rumah lama itu belum bisa melepaskannya. Atau, paling tidak, ada
lelaki lain yang senang membelikanmu cokelat atau tas warna ungu muda kesukaanmu.
Atau bahkan, kamu mungkin terbiasa diperlakukan manja olehnya, hingga membuatumu
dengan cepatnya berubah menjadi sedemikan nyata.
Mungkin aku hanya akan menonton teleivisi jika tiba-tiba
merindukanmu, atau bermain mobil-mobilan bersama ponaan dan mengajaknya jalan-jalan. Kadang aku berpikir, seandainya
seseorang bisa mengendalikan kapan mereka mau untuk mengaktifkan perasaan
rindunya itu, aku akan melakukan itu seperti cara ponaanku mengendalikan mobil remote
control sesuka hatinya. Jika dia mau, dia hidupkan saja dengan menekan tombol
power, dan mendapatkan kesenangan akibat itu. Jika sebaliknya, abaikan
saja, geletakkan saja, atau bungkus lagi menggunakan kardus dan simpan
di lemari pojokan. Itu mobil mainan.
Semua orang tau bahwa hati itu bukan mobil mainan. Aku
tidak bisa mengendalikannya. Bahkan aku tidak menemukan tombol power di dalam anatomi jantung atau ususku. Aku sangat ingin mematikannya ketika perasaan rindu itu datang dan
terbayang wajah dengan kamu tersenyum. Jika aku mampu mengendalikannya, akan kubungkus
perasaan itu dan menyingkirkan ke sudut-sudut manapun, segampang cara ponaanku memerlakukan
segala mainannya yang sudah membosankan. Hingga mengabaikan begitu saja atau
bahkan membeli mainan yang lebih baru, yang lebih bagus tentunya.
Aku tidak bisa mencari kamu yang baru. Aku tau kamu tidak
dijual di toko mainan atau pameran buku. Bahkan aku tidak yakin ada perempuan
setulus kamu berkeliaran diluar sana. Itu dulu. Sekarang kamu seperti orang yang tidak lagi mengenal
dan tidak ingin menyebut namaku. Meskipun pada kenyataannya, jejak kakimu masih
berbekas di atas dada yang selama ini kau tempati, pijakkan dan rawat sedimian
rapi .
Penderitaan yang kau berikan,
aku terima sebagai duri kecil yang sengaja tidak kubuang. Setelah luka yang kau tanamkan
dalam-dalam, mungkin, harusnya aku berterimakasih besar akibat itu. Paling tidak,
keapatisan kamu telah membuatku bangkit tanpa perlu pamit. Aku akan buktikan sesuatu yang bisa merubah apapun. Barangkali, hingga aku berdiri di atas podium dan ditepuktangani oleh
ribuan orang yang dipenuhi perasaan kebanggaan.
Waktu yang seperti itu, sangat aku harapkan. Aku akhirnya menerima penderitaan sebagai nutrisi untuk keluar dan menyeberang. Suatu
saat, setelah aku merubah mata orang-orang, kamulah perempuan pertama yang
menjadi alasan karena itu. Tidak dengan sorai-sorakan dan dukungan manis,
melainkan dengan duri yang selalu menyangkut. Setiap jengkal duri itu semakin
sakit. Hingga ia tumbuh semakin hari semakin tajam, semakin lama semakin runcing.
Duri yang membunuhku, duri yang juga menjadi alasan menuju apa yang aku dan orang-orang
mau.
DPC PPP Pamekasan, 03 Maret 2019

0 Comments