“Nak ingat!, kamu jangan sekali-kali bermain ke sungai besar yang ada di ujung hutan sana!” ujar seorang ibu kepada anaknya. Bagi seseorang yang memahami istilah “ideologis” seperti yang dilontarkan oleh Karl Mark, maka seseorang itu tidak hanya akan berhenti manggut-manggut tanda percaya. Namun anak itu akan bertanya “ada apa memangnya Bu sesuatu di  ujung sungai sana?”, dan bahkan jangan salah jika si anak akan pergi diam-diam membawa rasa penasaran dan ketakutan.

Ideologis adalah sesuatu yang disimpan di balik pernyataan. Ada fakta yang tersembunyi. Jika Prabowo mengatakan dalam salah satu pidatonya “jangan sekali-kali pemerintah membohongi rakyatnya!”, tanpa perlu dijelaskan ulang bahwa menurut pidato itu, si pendengar akan manggut-manggut menarik benang merah bahwa pemerintah doyan berbohong.

Sesuatu yang ideologis berkenaan dengan cara mendominasi cara publik berpikir. Dalam hal ini, Karl Mark mengungkapkan, biasanya hal yang ideologis itu berakhir di tangan-tangan penguasa. Hingga orang-orang secara umum bingung, antara kebenaran satu dan fakta yang lain, antara satu pernyataan dan ungkapan yang lain, terkadang ada mutiara kata-kata, kadang ada paradok yang mengerutkan dahi dalam-dalam. Jika kita telah sampai kepada kebingungan itu, maka bisa sangat mungkin itu menjadi tanda-tanda ideologis.

Terkadang kita sering tanpa perlu menimbang ketika orang-orang menanyakan air mineral, jawaban kita menjadi “aqua”, tanpa peduli merek yang lain “yang lebih mahal banyak” seperti di iklan Domestos Nomos, atau “ashiaappp” miliknya Ata Halilintar yang membuat geli fannya Ria Ricis. Ada hegemoni yang merasuk dan tanpa kita sadari telah mandek di batok kepala kita. Dimana, tujuan dari ideologi sendiri, bagi Marx, seringkali digunakan sebagai legitimasi tindakan-tindakan mereka yang berada dalam status sebuah hegemoni.

Dalam jargon-jargon partai berbunyi “pilihlah yang bersorban putih!”, “coblos kumisnya!” atau “gunakan hati nurani dan akal sehat!”, itu sesuatu yang ideologis yang berusaha hegemonik. Tentu bagi orang awam, jargo itu menyita waktu dan perhatian mereka. Mereka memerhatikan ketebal kumisnya untuk menjadi titik coblos saat pemilu berlangsung.

Sesuatu yang ideologis, hegemonik pada akhirnya mencuci otak manusia. Mereka terjadi tidak hanya di iklan, politik, tapi juga terjadi dalam ruang lingkup perekonomian. Ia bebentuk simbol-simbol atau selembaran berupa stiker yang sering ditempel di dinding toilet terminal. Apapun itu, saya pernah membeli roti dan mendapatkan satu stiker. Di dalam stiker itu tertera promo Travel Umroh dan Haji dengan satu logo partai di pojokan serta nomor kontaknya. Sesuatu yang hegemonik juga merambas ke kaos-kaos dan peci-peci yang digunakan untuk ibadah. 

Apa boleh dikata, cara kerja ideologis bukan terhadap isi atau muatannya. Tetapi bagaimana itu diciptakan secara berulang-ulang. Bahkan sesuatu yang salah namun diulang-ulang, maka akan memengaruhi orang lain, terlebih mereka yang tidak mau berpikir.
Seperti kata Adolf Hitler, "alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir".

Dari itu, memberikan keyakinan kepada kita, bahwa manusia itu benar-benar makhluk simbolik (Homo Symbolicum). Mereka tidak perlu lagi bersuara keras-keras, cukup mengacungkan telunjuk tinggi-tinggi, sebagai pendukung paslon satu, atau membuat tangan berbentuk ceklist sebagai pendukung paslon dua. Apakah itu juga ideologis?, saya pikir selama ada makna di balik simbol itu, bahkan simbol apapun, itu bisa kita masukkan kepada sesuatu yang ideologis

IAIN Madura, 30 Maret 2019