Saat ini aku bisa menemukanmu kembali. Mungkin kamu tidak pernah mengharapkannya. Kamu ke kampus hanya untuk belajar dan mendengarkan dosen berbicara selama satu setengah jam, kemudian keluar begitu saja. Bukan untuk yang lain apalagi untukku. Aku maklumi itu. Pasalnya, aku tau apapun yang ada didalam otakmu. Bahkan, jika kamu tidak cuek dengan wajah cemberutmu, justru itu bukan kamu. Kamu harus cemberut, karena aku suka itu.

Aku perhatikan kamu sedikit berbeda. Mungkin ketika liburan, kamu sudah mengubah pola hidup, yang asalnya makan untuk hidup menjadi hidup untuk makan. Tiada hari tanpa makan karena itu adalah bukti kehidupan. Akhirnya, pipimu menjadi bulat dan mau meledak. Seperti makanan Bakpao. Berjalannya pun seperti panda baru lahir, berjinjit-jinjit dan menyusahkan. Aku melihatmu sudah menyerupai badut jalanan yang suka ditertawakan: karena sudah gendut dan tidak lucu pula.

Tapi, dibalik penilanku yang sadis itu, kamu tetaplah wanita cuek yang aku suka. Bahkan semakin kamu cuek semakin aku suka. Karena pada dasarnya, pria itu akan meningkatkan imaji liarnya terhadap perempuan yang dia idamkan. Dia mengilustrasikan bukan hanya demi sebuah selera humor saja. Melainkan dia harus mengurai segala jenis kekurangan yang wanita itu miliki namun tidak untuk meninggalkannya, melainkan untuk melengkapi dan menghiasi. Walaupun imaji liar itu keseringan mengundang tawa yang menyebalkan pihak si wanita. 

Jangan-jangan, kamu cuek dan tidak ingin berbicara denganku semenjak apa yang telah kuperbuat dulu. Ketika kamu mahasiswa baru, kamu hampir mau menangis setelah aku menyamakan ukiran alis yang kau buat menyerupai ulat bulu yang lebat menggelikan, selain seperti ulat bulu, mereka seperti makanan sushi. Ketika aku bilang kesemua teman-temanmu, bahwa aku geli dekat-dekat dengan siapapun yang ada dua ulat bulu yang setia menempel di wajahnya. Kamu memusuhiku dan satu kelas tertawa kecuali kamu.

Awalnya aku mengabaikan perasaan bencimu. Apalagi ketika teman-temanmu, mahasiswa yang lain, bahkan tukang satpam dan penjaga kantin mengetahui tentang kita dan kisah menjengkelkannya. Dan mereka menyadari  bahwa kamu adalah wanita yang aku suka yang sering menjadi objek pembicaraan. Apalagi setelah kamu tidak menggunakan ukiran alis itu lagi hingga detik ini. Kamu tau, aku merasa sukses karena merubah kamu menjadi wanita yang seutuhnya tanpa ulat bulu atau makanan sushi menempel di wajah cantikmu itu.

Akhirnya, setelah aku menunggumu satu setengah jam, kamu keluar juga. Kamu melihatku sambil menahan senyuman yang ingin mengembang. Aku menunggumu sambil memegang minuman kesukaanmu, sebuah lemon tea dingin tanpa gula. Sebenarnya yang paling ditunggu, yaitu saat dimana aku melontarkan imaji liar baruku tentang kamu yang berubah menjadi badut. “Sudah gendut tidak ada lucunya”. Pasti aku tertawa lebar-lebar sambil menyaksikan wajah cemberutmu. Walaupun pada akhirnya aku tau bahwa kita terbahak-bahak bersama-sama dengan itu.

Kafe Insomnia, 22 Februari 2019