Anda tau mengapa pendidikan di Madura tidak pesat berkembang?. Tidak ada jawaban yang lebih tidak menyenangkan ketimbang jawaban: karena orang Madura tidak banyak yang mencintai tanah kelahirannya. Helena Asri Sinawang setelah memberitau “persekolahan” sebagai makna sempit dari pendidikan, saya langsung keluar dari rasa kebingungan.

Dari dulu, saya tidak menemukan banyak hubungan sekolah-sekolah dan kualitas pendidikan. Banyaknya sekolah tidak bisa menjadi representasi pendidikan di Madura. Bahasanya Asri tadi yaitu, “manusia yang skolastik”, tinggi intellektual tapi rendah nilai kepribadian, itupun jika intellektualnya benar-benar tinggi. Jika Anda orang Madura, pikirkan itu tapi jangan berhenti di kebingungan.

Saya tidak bermaksud menyinggung orang-orang yang bangga dengan tanah dan budaya Madura. Toh saya juga orang sana. Mungkin saja, dengan tulisan ini, saya dapat bertemu dengan orang Madura lain yang sama-sama bingung. Kemudian kita membuat janji dan bertemu di kafe tertentu untuk membicarakan persoalan pelik ini. Makanya saya terima jika tulisan ini disebut penyebar kebingungan.

Kemaren malam saya mempunyai kesempatan itu. Empat orang duduk di lingakaran meja sambil dihidangkan beberapa minuman berbeda-beda. Kami bertatap-tatapan menyelidiki topik yang dibicarakan. Kami bercerita tentang arah pendidikan Madura, arah pemuda Madura, arah budaya Madura yang semakin hilang, arah Madura menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan arah-arah lain yang berhubungan dengan Madura.

Di tengah keramian malam, kami hanya terlihat sebagai anak muda yang belum waktunya membicarakan perihal orang dewasa, apalagi mengatasnamakan suatu etnis. Memang sih, kita tidak pernah menyinggung falsafah pendidikan, seperti falsafah pendidikan yang pernah dibuat oleh KH Hajar Dewantara bapak pendidikan kita: Trikon, asas dan dasar pendidikan karakter, sistem pendidikan karakter, terakhir, corak dan cara pendidikan karakter.

Sekalipun demikian, perkumpulan itu pada akhirnya mengarah kepada pembahasan karakter.

Mula-mula kita menyinggung pemuda dan konsumerisme digital. Semua orang tau bahwa itu menandakan dengan kemandirian yang lemah. Lihat saja disini, hampir diantara 9 meja bundar, hanya beberapa orang yang tidak bermain game, sisanya seperti tidak pernah berkumpul, seperti tidak pernah bertemu satu sama lain, terlihat asyik sendirian di keramaian banyak orang.

Kadang saya bergumam: jangan-jangan saya tidak seperti mereka bukan karena permainannya tidak menarik, tapi karena saya tidak tau cara mengoperasikannya. Gumaman itu saya simpan agar tidak ketahuan teman sekitar.

Tapi yang jelas, saya merasa bahwa orang yang gemar berlama-lama dalam permainan itu, sampai berjam-jam, pastinya ia mempunyai waktu “berlebihan”. Saya tidak bisa bayangkan, jika saya seperti mereka, berapa banyak waktu yang harus saya sisakan untuk memenangkan permainan dan mengorbankan aktifitas yang lain. Akhirnya alasan saya tidak suka game, karena saya masih merasa “kekurangan waktu” bukan “kelebihan waktu”, atau “bukan karena tidak bisa mengoperasikan nya”.

Dulu semasa saya kecil --saya bercerita dan tiga teman saya mendengarkan pelan-pelan-- saya tidak suka belajar atau mengerjakan PR karena saya sibuk bermain. Seperti sepak bola, berenang di sungai-sungai, atau mencari buah-buahan yang bisa dimakan di hutan. Tentu kita kerjakan ramai-ramai dan memperoleh kebagaian beramai-ramai  pula, tidak seperti gamers sekarang. Ternyata, tiga teman saya mengalami hal mirip, sebelah saya bercerita dengan mimik muka dibuat kesal “dulu itu, saya dipukul kalo maghrib belum pulang”, akhirnya semuanya tertawa lebar-lebar.

Akui saja, bahwa pendidikan di Madura memang tidak begitu banyak orang yang peduli. Palingan yang peduli, jika orang tua yang berprofesi sebagai guru atau pegawai negeri. Tapi jika orang tua kita adalah petani dan pengembala sapi, kita hanya disuruh sekolah dan setelah mendapatkan ijazah harus menikah dan mengelola sawah dan mengurus sapi. Meskipun tidak semua orang tua memiliki kesadaran kecil bagi pendidikan. Semoga saja, orang tua semakin hari semakin menyadari pentingnya itu, agar anak perempuannya tidak disuruh menikah muda.

Setelah itu, kami tidak selesai berbicara tentang arah pendidikan Madura. Ternyata susah. Waktu berjam-jam kita hanya membahas karakter pemuda dan watak orang tua di Madura, belum sempat merumuskan dan menterjemahkan falsafah pendidikannya milik KH. Hajar Dewantara. Malam tidak sabar ingin tidur dan angin mulai menghantui dengan rasa dingin mencekam. Terpaksa pembicaraan harus dilanjutkan di lain malam dengan persiapan yang lebih matang.

Kontrakan Malwapati, 02 Februari 2019