Jika kita mendapatkan pertanyaan dari nenek kita mengenai tujuan sekolah atau kuliah. Mungkin kita akan menjawab dengan enteng; mencari ilmu, memiliki ijazah, alasan pekerjaan atau jawaban sederhana lain yang pendek-pendek. Tapi jika pertanyaan itu terlontar di dalam kelas oleh dosen killer, nada dan gaya jawabannya tidak demikian. Kebanyakan mahasiswa menjadi kikuk dan kehilangan rasa percaya diri.
Ada kalanya kita berucap apapun
sesuai dengan apa yang kita mau, sekalipun kita tidak betul-betul paham tentang
itu. Kala yang lain kita tidak berani mengutarakan apapun karena itu naif. Pertanyaan
si dosen killer tadi bukan berarti ia benar-benar tidak tau tujuan kuliah. Siapapun tahu bahwa dosen paling mengerti
soal itu. Karena sifat dosen yang banyak tau ini, mahasiswa menjadi diam dan
hanya melototi sesama mahasiswa lainnya saat dosen bertanya.
Alasan bungkam paling lumrah yang
terjadi adalah perasaan takut salah. Kadang suasana kelas sudah seperti
pemakaman sepi yang hanya terdengar angin dan kicauan burung. Di dalamnya hanya
ada satu dosen berbicara panjang lebar dan tidak mendapatkan satu pertanyaan
apapun di penghujung waktu. Jika saya adalah dosennya, saya wajib jengkel dan
menggerutu dalam hati. Saya ingin berbagi rahasia: bahwa dosen senang kepada ruang kelas yang hidup, ia senang kepada
mahasiswa aktif. Dirinya dianggap bagian dari memperoleh pengetahuan. Dan menganggap sebuah keberhasilan.
Dosen selalu bertanya sesuatu untuk menanyakan
ulang jawaban yang ia dengar. Mereka bertanya bukan karena kebodohan. Berbeda dengan
mahasiswa. Mahasiswa bertanya akibat kebodohan atau malah sok pintar. Dialektika
dianggap penting oleh dosen dan berharap terjadi saut-menyaut satu sama lain antara
mahasiswanya. Tanpa itu, kelas tidak menjadi sarana pembelajaran interaktif dan
dosen gagal membuka mulut mahasiswa di kelas.
Di pemandangan lain. Suasana
kelas menjadi menarik untuk menontonnya berlama-lama. Dosen dan mahasiswa
terlibat dalam kegiatan yang disebut diskusi. Mahasiswa berusaha menghilangkan
kebodohan dan rasa takutnya. Mereka juga dalam usaha membujuk mahasiswa yang
lain untuk ikut merasakan fantasi diskusi. Hingga lama, satu mahasiswa yang aktif
ini, menjadi dekat dengan dosen.
Insomnia, 12 Februari 2019

0 Comments