Kamu pikir sekarang impas? Dengan
kamu berdiri di depanku tanpa berani berucap apapun. Kamu pikir aku akan
memohon lagi? Kamu tidak ada di depanku pun aku tidak akan mencarimu dan tidak
akan kebingungan seperti anak burung yang ditinggal induknya tiba-tiba. Bahkan
jika perlu, aku bisa tidak mengenalimu dan mengabaikanmu seperti tidak pernah
ada apapun diantara aku dan kamu.
Dulu, waktu aku memberikanmu
sesuatu yang mungkin bisa menyenangkanmu, aku pikir itu awal dari akhir yang
bahagia. Aku kirim sepotong kue besar lewat pengantar koran pagi, padahal aku tau waktu itu kamu sedang
sakit gigi dan alergi tukang koran. Kemudian kamu menelpon dengan sedikit
terkejut, bahwa di balik kue itu terdapat arloji bercahaya indah mengkilau. Aku
membelinya setelah pulang dari Banjarmasin minggu kemaren untuk kuberikan
kepadamu. Dan adegan pengantar koran yaitu sebagai kejutan di waktu pagi.
“Ini benar untukku sayang?”. Kalimat
“sayang” pertama kali yang kudengar. Bahkan disaat perkenalan kita masih
berumur dua hari. Membuatku dipenuhi tanda tanya melingkar. Semenjak itu, kita sebagai
dua kekasih. Kamu terbiasa dengan apapun yang kuberi. Seperti perhatian, jalan-jalan,
kosmetik, hingga pakaian apapun, mulai dari bagian luar dan dalam. Hingga aku
tau, seberapa besar ukuran pinggul dan dadamu.
Namun mengapa enam bulan yang
lalu kamu pergi meninggalkan sejarah indah itu dan kini kembali dengan wajah
tak berdosa.
***
Setelah enam bulan pergi,
sekarang kamu datang dalam keadaan hamil delapan bulan. Aku biarkan kamu
berdiri di depan pintu sekitar empat puluh lima menit lamanya. Aku duduk saja
mengomel tanpa ampun dan tidak mengizinkan kamu melakukan apapun, termasuk
bicara dan masuk ke rumahku. Aku tidak tau apa maksud kamu membawa janin, tapi
aku sama sekali tidak heran jika ada perempuan apalagi kamu berkeliaran
kemana-mana dan pulan dengan perut bunting.
Aku masih menggeleng-menggeleng sambil
mengembalikan rasa sakit yang kuterima akibat perlakuanmu dulu. Tidakkah kamu
ingat itu. Waktu kamu berbohong kepadaku untuk bekerja ke Surabaya, dengan alasan
mempersiapkan biaya kuliah. Kecurigaanku bermula semenjak ponselmu tidak aktif
dan tidak mengabariku sama sekali selama beberapa minggu. Hingga aku mencarimu walaupun
harus cuti pekerjaan selama satu bulan sepuluh hari lamanya.
Hingga akhirnya aku menemukanmu
di pojokan tempat duduk di stasiun kereta api. Terlunglai lemas dan tak berdaya
dikelilingi para lelaki berotot dan bertato. Kamu tidak bekerja untuk masa
depanmu. Melainkan untuk membunuh masa depan itu. Kamu menjadi pelacur. Kamu memberikan
tubuhmu kepada laki-laki dahaga, yang seharusnya kamu tidak melakukan itu hidup
indah bersamaku. Karena akulah cintamu. Mengapa kamu menukar cinta dengan uang.
Bahkan kamu bisa mendapatkan cinta sekaligus uang jika bersamaku.
Aku melihatmu tak berdaya sambil
menahan air mata darah. Waktu itu aku tidak peduli kamu pelacur dan seberapa banyak
laki-laki yang sudah kamu layani. Tapi aku juga tidak bisa melawan perasaanku
sendiri. Meskipun dengan rasa sakit yang menggores. Aku hampiri para preman itu
dan aku membayar tebusan dengan biaya lima puluh juta kepada gigolo untuk
membebaskanmu dan pulang. Kamu tidak seperti yang aku kenal dulu, yang terlihat
hanyalah sosok wanita hina, yang menodai dirinya sendiri sebagai mosnter
kelamin.
Dan yang konyol, mengapa aku masih
bodoh dan mau denganmu.
Apakah kamu pura-pura lupa enam
bulan lalu itu?. Dan sekarang kembali tanpa dosa dan berdiri di depanku yang
sudah sekarat akibatmu?
***
Aku memandang jam tangan dan
memperkirakan bahwa sekitar satu jam kamu berdiri lamanya. Rambutmu tetap saja,
sedikit bergelombang terurai rapi sebahu. Semakin aku melihat wajahmu semakin rasa
sakit itu datang lebih banyak. Seandainya aku tidak membebaskanmu dari gigolo
itu, mungkin kamu sudah menjadi senior pelacur dan aku akan menikah dengan wanita
pilihan mamaku yaitu anak teman satu kantornya. Tapi garis tanganku membuatku
terjebak dengan wanita yang tidak tau berterimakasih sepertimu.
Aku masih ingat perlakuan
terakhirmu. Setelah tiga hari aku memerdekakanmu dengan membayar tebusan dan
memberikan tempat tinggal, kamu mencampakkanku seperti seorang babu. Pagi-pagi
sekali, kamu mengetok pintu dan berdiri di ambang pintu sambil menangis bersama
satu pria disampingmu. Seperti tak pernah bersalah dan tidak tau balas budi. Kamu
hanya pamit dan memperkenalkan bahwa lelaki kekar itu adalah suamimu. Aku masih
ingat cara kamu berucap dan matamu mengeluarkan air mata yang kau paksakan.
Lelaki di sampingmu hanya tersenyum dengan mata sipit dan dipenuhi perasaan
kemenangan.
Aku ingat sekali waktu itu aku
memohon kepadamu untuk jangan lakukan itu. Berlutut di depanmu dan laki-laki
yang sebenarnya aku yakin dia bukan suamimu. Dia hanya orang ketiga yang ingin
memsihakan kita. Aku berlutut sambil menangis keras-keras. Kemudian kamu
membantuku berdiri dan menamparku. Kamu berkata sambil menangis terbata-bata, “aku
harus pergi, karena kamu hanya menjadi benalu di hidupku”. Mendengar itu, aku
tidak seperti ditampar, melainkan seperti terjatuh dari langit dan mendarat di
tumpukan pedang menganga. Kamu meninggalkanku begitu saja bersama pria lain setelah
kamu mengambil segalanya dariku.
***
Setelah satu setengah jam kamu
berdiri. Kamu terjatuh. Lututmu menahan badanmu agar tidak terkapar. Tanganmu
memegang kandungan di perutmu. Aku melihatnya. Aku masih duduk. Kamudian
wajahmu memerah kesakitan dan terlihat aliran darah di betis dan daster bagian
bawahmu. Aku berdiri berlari dan merangkulmu. Aku panik dan menggendongmu ke
mobil mencari bidan terdekat.
Aku mengatarkanmu ke bidan dengan
perasaan cemas dan rasa bersalah. Aku berdosa telah menghukum wanita yang sedang
mengandung dengan berdiri di depan pintu sekitar satu setengah jam lebih. Bahkan
sekarang aku ingin dia dan anak yang di dalam perutnya selamat dan tidak
terjadi apa-apa. Aku tidak boleh egois. Biar bagaimanapun dia kembali untukku
dan aku tidak boleh malu mengakuinya: aku merindukannya. Aku melupakan rasa
sakit selama enam bulan ini dan hanya berharap dia melahirkan anaknya dengan
selamat.
Kami tiba di rumah sakit.
***
Pintu terbuka dan suster membawa
bayi dengan wajah datar. “Bayi Anda perempuan pak?”. Aku lega dan segera ingin
bertemu dengan kekasih lamaku. Segera suster mencegah dan mengatakan pelan-pelan
bahwa Alina meninggal dan aku harus bersabar mendengarnya. Aku terdiam sejenak.
Kaget dan berlinang air mata. Terjatuh dengan lulut yang menahan, seperti yang
dia lakukan di ambang pintu rumah sebelum ia berdarah. Aku belum menerima
kenyataan itu. Aku bahkan belum mengatakan bahwa aku merindukannya dan akan menghapus
segala luka dengan maafku. Dan yang terpenting aku akan menikahinya dan akan
menerimanya.
Ketika aku melihat dan
bertanya-tanya, siapa ayah dari bayi cantik itu. Suster menghampiriku dan memberikan
sepucuk kertas yang ditulis oleh Alina sebelum dia melahirkan dan meninggal.
Riko,
selama enam bulan kita berpisah, selama enam bulan itulah aku merindukanmu. Aku
pergi bukan karena menghianati cinta kita atau bukan karena suatu pekerjaan. Maafkan
aku telah berbohong. Aku menjadi pelacur karena bapakku memaksa akibat hutang perjudian.
Bapak-bapak itu bukan suamiku, ia adalah bapakku, dan bayi ini adalah anakmu.
Insomnia, 21 februari 2019

0 Comments