Dimana-mana, mulai dari Kebayoran Baru Jakarta hingga Terminal Bungurasih Surabaya, etnis Madura terkenal suka membawa celurit di baling sarungnya. Di Jakarta, etnis Madura, Batak dan Ambon bekerja sama menjadi mafia jalanan. Kecuali tukang sate dan penjual nasi goreng yang tidak perlu bersekongkol. Apalagi di Surabaya, penumpang ibu-ibu yang biasanya menggendong anak kecil dengan pakaian lusuh dan serba adanya, biasanya nyambung berbicara Madura. Sekalipun pada akhirnya dia berasal dari Bondowoso, Situbondo, Probolinggo atau Jember dan Banyuwangi.

Kemaren, saya mengikuti acara kajian kebudayaan yang dilaksanakan oleh Civitas Khoteka. Sebuah organisasi yang marak mengangkat kebudayaan-kebudayaan Madura yang dirasa hampir sirna. Mengikuti acara tersebut lebih menyenangkan dari pada mengikuti mata kuliah Kebudayaan dan Antropologi di Fakultas. Selain karena tidak ada makanan, penjelasannya monoton dan tidak merangsang pemikiran mahasiswa.

Waktu itu kita membahas budaya carok. Menghadiri bapak Dr. Hadi Suryono dosen Psikologi di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan bapak M. Budi Hartomo orang tulen Madura, yang waktu itu tertulis sebagai kapasitas “pengamat carok”. Entah gelar itu dia terima dari mana saya tidak sempat bertanya. Kegiatannya seperti yang saya duga, berlangsung alot dan mencekam suasana. Hal ini karena menyangkut hal paling prinsip bagi orang Madura, yaitu carok dan celurit.

Jauh di luar sana, orang Madura dikenal oleh orang lain sebagai etnis yang keras. Mereka mengenal kita sebagai sosok yang berani dan suka berpetualang. Lihat saja, hampir dimana-mana, etnis Madura ada. Walaupun hanya sebatas penjual sate, tukang bengkel, pangkas rambut atau buruh pabrik. Saya tidak menemukan artis Madura kecuali Muslim, orang Bangkalan yang menjadi stand up comedian. Tapi orang-orang tidak melihat itu. Orang-orang melihat sesuatu dibalik itu semua. Mereka bahkan memberikan rasa kagum tersendiri kepada satu etnis ini.

Dalam pembahasan yang disampaikan oleh bapak Budi, si pengamat carok, orang Madura paling menjaga harga dirinya. Dan carok merupakan salah satu bentuk mereka menjaga itu. Dengan deskripsi ini, satu forum terlihat manggut-manggut seperti bukan sedang mempelajari daerahnya sendiri. Pasalnya, “budaya carok” memang tidak seperti budaya-budaya lain yang mudah melihat apalagi menerapkannya.

Budaya Toron tana misalnya, ia adalah budaya dimana seorang balita yang baru bisa berjalan, diarahkan untuk mengambil sesuatu yang disodorkan, seperti bolpoin, uang, buku dan macam-macam. Mitologi yang dibangun, misalnya jika si balita ini mengambil bolpoin, ia akan menjadi manusia pintar, jika uang, menjadi manusia kaya, atau cangkul hanya akan menjadi petani selamanya. Ya, kira-kira begitulah makna-maknanya.

Budaya ini bisa kita temui kepada ibu-ibu yang bahagia karena memiliki balita baru. Atau jika suatu saat kita punya balita, kita bisa menerapkannya. Namun, untuk budaya carok, kita tidak mudah mendapatkannya. “Hal ini tidak mudah ditemukan ya teman-teman, karena biasanya antar petarung carok mengadakan 
kesepakatan yang sangat rahasia” ujar bapak Budi dengan hati-hati.

Di dalam duel carok, celurit menjadi alat untuk memenangkan pertarungan. Katanya, bentuk yang seperti tanda tanya itu menggambarkan, bahwa orang Madura memiliki sosok misterius. Dalam film-film remaja, sosok misterius inilah yang sering diidolakan. Namun pertunjukkan carok bukan seperti film yang bisa diputar ulang atau dijeda sesuka hati kita sebagai penikmat carok. Carok adalah suatu duel pertarungan maut demi sebuah “harga diri”. Carok itu hanya akan dilakukan jika orang lain melanggar norma-norma asasi. Seperti mengambil istrinya, tanahnya, atau bahkan soal perbedaan pemilu sekalipun.

Saya mendengarkan bapak Budi ini justru seperti menonton film horor. Membuat ekspresi wajah dan mimik risau sembari mengikuti setiap alur yang disampaikan. Dari itu, justru saya berharap budaya itu hanya berhenti di perbincangan antara saya, kedua pemateri dan teman-teman satu forum ini. Tidak untuk mempraktikan dan mengatakan dengan keras-keras “saya orang Madura yang harus melestarikan budayanya!”

Pada dasarnya, carok bukanlah salah satu tradisi yang menyenangkan. Di akhir acara, kami sepakat untuk tidak melanjutkan tradisi tersebut namun akan tetap menganggap carok sebagai budaya dalam sejarah Madura. Berkenaan dengan itu, bapak Hadi membahas soal maskulinitas dan feminitas orang Madura. Barangkali maskulinitas orang Madura salah satunya adalah keberanian bertarung, nyali, tekad dan hal yang bisa ditarik ke ranah positif. Forum akhirnya ditutup dengan membagi-bagikan buku dan photo bersama.

Kafe Insomnia, 17 Februari 2019