Waktu kecil kehidupan begitu indah dengan pensil warna atau permainan
lompat tali. Kita seperti terbang tinggi atau menyelami samudera. Anak kecil
memiliki kebiasaan kebebasan berekspresi tanpa harus takut apalagi malu. Walaupun
orang tua sering kesal ketika dinding rumah yang penuh dengan oretan pensil atau
baju dengan kotoran lumpur. Namun, kita selalu bahagia dan orang tua tersenyum
sembunyi-sembunyi. Tidak ada kebahagiaan selain masa kecil, dari pada masa-masa
yang lain.
Beranjak dewasa, semakin kita mulai meraba dunia melalui
pengetahuan, dunia seperti semakin lebar. Awalnya kita hanya tau, bahwa batas
timur adalah kamar mandi dan kandang kelinci. Setelah dewasa, menjadi tidak ada
batasnya sama sekali. Awalnya kita hanya mengerti, ketika malam tiba, itulah waktu
istirahat dan tidak boleh melakukan aktifitas yang melelahkan. Padahal semenjak
dewasa, ternyata ada kegiatan yang sengaja dilakukan di tengah malam, bahkan setelah
lampu mati dan anak-anak tertidur. Kegiatan itupun juga melelahkan.
Ada satu anekdot lucu. Saya biasa menemukan dari obrolan
para mahasiswa dan penggemar buku ilmiah populer. Anekdot itu seperti “semakin kita tahu sesuatu, semakin kita tahu
bahwa kita tidak tau apa-apa”. Sesuatu yang sangat membingungkan. Dari itu,
kita semakin takut untuk tau segala hal. Lebih baik memilih menjadi anak kecil seterusnya.
Mereka tidak mempunyai ketakutan-ketakutan sehingga merasa sangat aman. Lihat saja,
mereka tidak peduli seberapa marah ibunya akibat keseringan mandi di sungai.
Situasinya menjadi berubah setelah orang-orang tumbuh jakun
dan payudara. Orang-orang akan berpikir maju dan melupakan kesenangan semu
dimasa kecil. Bahkan saking ambisinya, kadang-kadang orang-orang selalu terlihat
serius, jarang tersenyum atau lupa cara tertawa menganga. Dengan dalil bahwa “semakin tau justru membuat semakin bodoh”,
mendorong orang-orang untuk haus tentang makna-makna, jati diri, dan tujuan
hidup. Bahkan mereka sudah mulai keranjingan untuk melahap buku dan
membacakannya saat bertemu satu sama lain.
Seseorang yang awalnya belajar dengan mengenakan seragam
abu-abu dan melakukan upacara setiap hari senin, kini menjadi orang yang
merdeka setelah bertemu kampus. Kampus menjadi sesuatu yang bukan hanya berisi
orang-orang yang duduk demi seorang guru. Tapi kampus yang paling penting, sebagai
cara untuk membuka cakrawala keilmuan menjadi tanpa batas. Hingga konsekuensinya,
kita mungkin nsemakin pusing akibat kebingungan
yang bertambah.
Mereka kini disebut dengan mahasiswa. Manusia yang siap
bertempur demi nilai atau popularitas. Nilai menjadi momok bagi mahasiswa yang
memiliki idealisme yang kuat. Sembari mengatakan “saya kuliah hanya untuk mengabdi tarhadap ilmu, bukan ijazah apalagi
nilai”, walaupun kenyataannya, dia suka protes ketika nilainya rendah. Selain itu, kampus menjadi ajang kontestasi
politik praktis. Kita akan menemukan almamater warna-warni. Mereka memiliki
banyak peminatnya. Sama persis seperti kesenangan saya waktu kecil dengan warna-warni
Power Rangers dulu, begitu fanatik dan ingin selalu menang.
Artinya, kampus memang berisi status-status yang beragam. Kita
akan menemukan seorang akademisi, aktivis, seniman, musisi, penulis, penda’i,
penjilat bahkan preman dan tukang satpam sekalipun. Hanya pelacur dan gigolo
yang belum pernah saya temui di kampus manapun. Tapi dari itu, kita belajar
bahwa kampus sebagai cerminan kehidupan. Kampus menjadi gambaran awal sebelum
kita benar-benar menjadi apa yang kita atau bahkan orang-orang harapkan. Kita seharusnya
belajar banyak dari keberagaman mereka, keberagaman ideologi, keberagaman
status termasuk keberagaman organisasi.
Dengan sedikit berat hati, kampus selain sebagai ladang
untuk kebebasan berekspresi, ia juga bisa menjadi cambuk, bahkan cambuk yang
kejam dan kasat mata. Kampus akan menjadi cambuk ketika orang-orang di dalamnya
tidak mencerminkan kenyamanan dan tidak menunjukkan “yang seharusnya”. Kegagalan
kampus terlihat ketika lingkungan tidak mengajarkan orang-orang untuk mengabaikan
ilmu pengetahuan. Walaupun susahnya memahami ilmu pengetahuan adalah kesusahan
tersendiri, seperti anekdot “semakin kita
tahu semakin bodoh kita”.
Di beberapa kampus, --saya tidak akan menyebutnya--, apresiasi
terhadap ilmu pengetahuan tidak ada pada tempatnya. Selebihnya kepedulian
orang-orang hanya tentang ketuntasan yang mereka ukur dengan angka dan
nilai-nilai. Organisasi kemahasiswaanpun cenderung membungkam apresiasi yang
objektif dan bersembunyi dibalik cara pandang yang ideal. Tradisi organisasi
masih banyak yang berbicara berdasarkan hegemoni golongannya dengan menafikkan
golongan yang lain.
Akhirnya selain seorang mahasiswa bingung dengan filasafat
yang tidak kunjung rampung, selebihnya mereka harus dibingungkan dengan
polarisasi-polarisasi perbedaan ideologi organisasi. Tentu jika bukan demi
toleransi dan menghilangkan fanatisme, saya tidak akan mengutarakan ini tanpa
hati-hati. Perlukah kita membedakan apa yang kita dan mereka pakai?, kemana
pendidikan
yang selama ini sangat dibutuhkan saat perbedaan justru menjadi
penghalang?.

0 Comments