Waktu itu aku teringat satu sentuhan tiba-tiba yang
mengagetkan. Waktu dimana kamu tiba-tiba memukulku dengan satu tepukan di pundak dari belakang.
Tentu kamu selalu mengejutkanku dengan cara seperti tadi. Cara yang cukup memukau
untuk membuatku kaget dan menyenangkan. Antara kaget dan menyenagkan adalah dua
rasa yang menjadi satu. Aku tidak tau apa itu namanya. Hingga lama. Hingga aku
hafal ritmenya.
Biasanya, kamu melakukan itu ketika kita lama tidak
berjumpa. Kamu melakukannya sebagai suatu kejutan. Kau simpan senyumanmu dari siapapun.
Selama kita berpisah. Dan mengeluarkannya tepat ketika kita bertemu. Biasanya,
kita berpelukan dengan begitu hangat dan menanyakan kabar masing-masing. Aku rindu
suasana itu. Aku rindu kamu.
Sekarang, kamu entah dimana. Bekas tanganmu di pundakku
sudah semakin menghilang, pertanda kamu jarang menepukku lagi. Bukan hanya aku
yang merindukanmu, melainkan pundakku yang cukup malang itu. Aku terkadang
kasihan ketika pundak itu mengomel sendirian dan tidak pernah jelas apa yang
dia rasakan. Aku tidak bisa menghiburnya. Apa yang bisa aku lakukan sedang disaat
aku juga merindukanmu.
Aku berharap kamu tau satu hal. Aku yakin kamu tau pundak
siapa yang menunggu. Aku percaya kamu pasti pulang. Kamu akan pulang dengan
cerita-cerita sambil sesekali memberikan cubitan dan sikap-sikap manja. Aku selalu
hidup dengan keyakinan. Entah seberapa lama keyakinan itu, akan aku
pertahankan. Aku akan bertahan hingga keyakinan itu menjadi kenyataan.
Barangkali kamu sekarang sedang mengujiku. Kau membuatku
merasa kehilangan. Kau membuatku sendirian. Dan aku memilih untuk tidak
menduakanmu. Aku tidak memilih wanita lain selainmu. Aku hanya memilih bersama
tulisan saja. Ya. Aku tidak masalah dengan tulisanku yang selalu murung, pilu
dan menyedihkan.
Tulisan menghibur hatiku seolah-olah sedang bercengkrama.
Seandainya tulisan memiliki lisan, mungkin aku tidak perlu minta bantuan
sepuluh jariku untuk mengetik dan menerjemahkan perasaan. Jika ia berlisan, aku
langsung bicara saja. Aku minta pendapatnya. Aku minta penilaian kepadanya. Pendapat
ia tentang kamu sebagai wanita yang aku pilih. Aku tau ia hanyalah kertas
kosong. Tapi ia menerimaku, menemaniku, mendengarkanku dan kadang melihat
tentang pilu yang ada didalam dadaku.
Aku yakin suatu saat. Kamu akan datang dengan satu
tepukan di pundak. Suatu saat nanti. Lama. Lama sekali. Aku masih menunggunya. Selama
apapun itu. Bahkan. Aku sangat yakin, suatu saat, kamu tidak hanya meletakkan
tangan. Melainkan kamu akan meletakkan kepalamu, tepat di atas pundakku. Aku yakin
itu.

0 Comments