Sebagai seorang warga daerah yang baik, pasti ia bisa
mengingat dan menyebutkan salah satu permaian kuno saat ia masih kecil. Atau paling
tidak, saat sudah dewasa, ia menjadikan permainan itu sebagai bahan nostalgia, saat
bertemu dengan teman SD nya di tempat tertentu. Seperti saya misalkan, sebagai orang
daerah yang tulen, saya mampu bercerita apapun tentang Madura dari pada menjabarkan
Suku Batak Angkola, Pakpak Suak Kelasen, atau Suku Nias yang
ada di kepulauan Sumetera.
Hampir dalam setiap pertunjukkan komedi, Etnis
Madura sering disebut-sebut. Biasanya hal paling mudah ketika si dalang berusaha
berlogat Madura untuk mendapatkan penonton tertawa terbahak-bahak setelah kata “sate”
yang diulang-ulang. Saya sebagai orang Madura saat sedang menyaksian Madura
disorai-sorai, tidak tau harus menentukan sikap bagaiamana, apakah bahagia bersama
mereka atau bersedih karenanya.
Tapi dari setiap episode pertunjukkan, Sate Madura
semakin dikenal oleh orang-orang. Ketika saya ke Jogjakarta beberapa bulan
kemaren, saya bertemu dengan orang Wates, dia baik dan lumayan perhatian. Kemudian
ia menyebut ‘Sate’ dengan mimik wajah sumringah dan keusilan. Saya hanya tertawa
kecil saja akibatnya. Sebagai tanda bahwa selera humor itu tidak hanya dimiliki
oleh orang komedian saja.
Saya hanya ingin mengatakan kepada orang di luar
sana, bahwa Madura bukan hanya etnis yang hanya memiliki makanan Sate sebagai
nilai tawar. Sebenarnya kita punya banyak hal. Kita punya yang namanya Kerapan
Sapi, Tradisi Rokat Tase’, Api tak pernah padam, atau bahkan tim sepak bola
Madura United yang semua penggila bola pasti tau, bagaimana tim dengan icon sapi ini menundukkan tim lawan di lapangan
hijau.
Tapi mungkin bukan berarti orang lain tidak tau
perihal yang saya sebutin barusan. Mungkin saja, mereka memilih ‘sate’ sebagai cara
beramah tamah dengan orang Madura di awal pertemuan. Kadang, saya mendapatkan
pengakuan bahwa Sate Madura memiliki rasa yang sangat enak, persis seperti
bagaimana saya mengakui keenakan Nasi Pecel Madiun yang ada di daerah kami.
Cara cinta kami sebagai orang daerah, mungkin sama seperti
di daerah lain. Seperti suku Nias mencintai tanah daerahnya, tepatnya di tanah
pulau Nias Sumatera Utara. Disana, mereka menyebut Fondrakö yang digunakan sebagai sistem tradisi
demi kehidupan yang baik. Selain itu, orang sana juga meyakini adanya kasta, yang
untuk bisa mencapai kasta tertinggi, ia harus menyembelih babi berhari-hari. Mereka
menyebutnya Balugu.
Fondrakö di Madura tentu tidak ada, apalagi tradisi sembelihan babi. Jika ia ditemukan
ada, palingan ia akan mendapatkan guyuran batu dan omelan-omelan tentangga
sebelah. Orang kami tidak menjadikan babi sebagai mahluk yang boleh dimakan. Bukan
karena habitat babi yang tidak ada, tapi karena kami adalah penduduk yang mayoritas
taat Agama.
Soal tradisi dan adat yang kita percayai, kami menyebutnya dengan andep ashor (tatakrama). Ia berbunyi:
menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Orang Madura tulen
biasanya, selalu membawa adat ini didalam hatinya kemana-mana. Bahkan ia mampu menerapkan
sikap ini kepada siapapun, diluar daerah Madura sekalipun. Jika orang kami medapati
orang Madura di tempat perantauan, kesan pertama yang terjadi: seperti orang
yang pernah serumah dan pernah terpisah lama kemudian bertemu kembali, hangat
dan kekeluargaan.
Mark Us, 30 Januari 2019

0 Comments