Musim hujan, musimnya peternak hewan tidak perlu bimbang lagi mencari tempat yang ditumbuhi rumput-rumput hijau. Dimanapun, pikirnya, sudah pasti rumput-rumput menanti untuk dinikmati beberapa sapi atau kambing-kambing. Jangan khawatir!, ujar kakek-kakek yang sapinya banyak.

Selain hujan menjadi anugerahnya sapi dan pemiliknya, ia juga bisa menjadi anugerah bagi para penulis fiksi. Dalam ingatan yang terbesit, angin yang dibawa hujan yang ia rasakan, mampu ia ilustrasikan kedalam bentuk tulisan untuk ia kirim ke satu perempuannya di suatu malam. Hingga perempuannya terngiang-ngiang dan susah tidur semalaman. Paling tidak, pemuda ini lebih produktif dari pada musim kemarau. 

Memang betul, hujan saat ini hanyalah gambaran sains tentang mikrokosmos air laut yang menguap menjadi gelembung mendung berwarna hitam. Orang selalu berteduh atau mengenakan payung jika memaksa menembus guyuran hujan. Tapi barangkali, jauh diluar sana, seseorang berdiam diri dan memandangi bahwa, hujan bukan sekedar mekanisme sains, melainkan ada sesuatu yang salah dan manusia belum bisa melihatnya. 

Jika demikian, berarti kehidupan sepertinya terlalu mekanik, sehingga manusia harus secara terus-menerus bergantung kepada BMKG atau ramalan cuaca di google map. Ia sama sekali tidak ingin mencurigai, bahwa mungkin diluar sana, ada sesuatu yang ingin berbicara dengan manusia. Dan ia menggunakan hujan sebagai alat komunikasinya. 

Tapi orang yang berdiam diri dan berpikir demikian, dari pada orang yang menganggap hujan sebagai mekanisme sains, tentu satu banding seribu. Mau ada sesuatu, mau ada yang ingin berbicara, atau mau hujan dijadikan alat komunikasi, tetap saja, hujan hanyalah rintik air yang intensitas dan volumenya beda-beda. Atau pendek kata, hujan hanyalah peralihan cuaca. 

Seorang penggemar berat salah satu novel, sebutlah novelnya Kang Abik misalkan, justru tidak peduli lagi akan mekanisme itu. Ia hanya akan menggunakan jaket tebal saat sedang menulis karangan indah untuk dikirimkan ke satu perempuannya. Dalam beberapa bait yang ia tulis berbunyi, “aroma tanah campur hujan yang kamu rasakan, adalah wangi kerinduanku sejak kemarau”. Ia terkesan lihai dan percaya diri setelah hujan mengguyur rumahnya beberapa kali.

Peternak sapi dan kambing di Madura lebih senang hujan turun daripada tidak sama sekali. Mereka tidak peduli pengukuran sains atau adanya kepercayaan yang besifat supranatural tadi. Ia hanya akan pergi mencari rumput setelah tanah-tanah cukup nutrisi. Dan rumput yang tumbuh hanya berakhir menjadi makanan di kandang-kandang tempat sapi dan kambing dikurung. Rangkaian itu semua, adalah mikroorganisme yang jarang orang pikirkan, termasuk mungkin pemilik sapi barusan.

Tapi dari itu, jangan lantas kemudian kita mengatakan bahwa ‘hujan berfungsi agar ekosistem sapi tetap hidup’. Prinsip itu sungguh menyalahi aturan silogisme dalam ilmu filsafat. Jika orang memaksanya menyebar pernyataan itu kepada publik, palingan, ia tidak akan dipandang sebagai sebuah pelajaran melainkan lelucon di saat jam istirahat kerja. Tapi bukan berarti pernyataan itu murni keliru. Coba saja tanyakan ulang, “bagaimana jika tidak ada hujan sehingga membuat rumput tidak tumbuh, adakah sapi yang akan mengganti seleranya untuk sudi memakan daun Semanggi?”. Sekalipun BMKG-nya akan geleng-geleng atas tanda tanya itu.

Ya, dari sini, saya hanya ingin mengatakan bahwa hujan adalah suatu hal yang membuat orang Madura lebih senang dari pada gratisnya tol Suramadu. Orang Madura memang tidak bangga jika peternak disebut-sebut sebagai profesi utama, ia lebih suka disebut petani. Tapi ia bisa bangga jika dikatakan memiliki banyak sapi, karena ‘dikatakan memiliki banyak sapi’ dinilai kaya. Kedua, orang Madura tidak banyak yang suka jalan-jalan dan melewati tol Suramadu. Tidak ada yang perlu untuk melewati jembatan itu apalagi bagi orang Madura yang suka bertani dan memelihara sapi. Buat apa memangnya, kecuali jika di Surabaya ada rumput buatan yang bisa diambil saat tidak ada hujan.

Insomnia, 31 Januari 2019