Aku tutup lembaran fiksiku dengan satu karya mengenai pilu. Ia kunamai "catatan kamu". Akupun harus bersabar untuk mengisinya karena pada dasarnya pengalaman ku seputar fiksi masih diambang angan. Ya hanya berpikir bahwa menulis lebih baik dari pada tidak sama sekali, itu membuat ku lebih mudah mengarang kalimat kalimat yang saya rasa indah.

Sesuatu terasa begitu nikmat setelah melalui banyak hal sulit, termasuk didalam menutup lembaran 'catatan kamu' ini. Disana ada perhitungan matang seputar bagaimana tulisan memilki orientasi pemikiran atau perasaan, bahkan satu fase tertentu, seorang bisa mengolaborasikan keduanya menjadi hal menarik untuk didengar.

Mencari sesuatu dan menterjemahkan nya menjadi tulisan yang unik pelan-pelan menjadi salah satu hal yang sudah mulai menggerogoti pikiran, saya pikir sebagian orang demikian. Sudut pandang, pemilihan diksi dan pancingan suasana, kadang menjadi suatu alat yang benar-benar matang di saat saat tertentu, yang tanpa kematangan, tulisan itu seolah dirasa belum memiliki feeling.

Kendati hasilnya tidak selalu menyenangkan misalnkan, orang tidak tersentuh akan usaha-usaha itu, apalagi tulisannya tidak mau dibaca walau judulnya saja. Akhirnya, saya sarankan, memilih menulis saja, tanpa perlu harapan banyak dari pembaca sudah lebih dari cukup saya kira. Ya syukur-syukur seorang ingin memberi komentar dan terlibat dalam perdebatan yang panjang, jadi getol sekali rasanya buat selalu menulis.

Memilih sesuatu dengan lingkungan yang sudah terbentuk, tentu konfirmasi membahagiakan paling kongkrit setiap orang. Tapi membuat lingkungan terbentuk, justru hal lain saya kira. Siapapun merasa bahwa lingkungan membuat orang menjadi seragam, entah ia betul-betul merasakan atau tidak. Tapi dengan tidak adanya keberanian untuk keluar dari barisan "yang sudah dianggap mapan" dan "hanya berhenti di hal-hal lama", malah tidak membuat orang menjadi berkembang.

Saat ini, salah satu hal yang ingin saya temui, tepatnya di Pamekasan sebagai tempat saya belajar, yakni: terciptanya iklim literasi dan netasin karya. Barangkali dengan demikian, pemuda disini mempunyai kebiasaan baik yang mulai terbentuk, seperti membaca atau menulis. Atau bahkan, jika Indonesia kali ini, diiming-imingi dengan satu problematika miris, seperti miris sumberdaya manusia, harapannya bagaimana iklim baru itu membantu menyelesaikan kemirisan itu.

Mark Us, 22 Januari 2019
Oleh Mohammad Faiq