Kosong, adalah suatu hal yang tidak menunjukkan apa-apa. Bahkan, untuk taraf tertentu, ia tidak ternilai. Dalam bilangan matematika, cuma angka nol lah, yang tidak berpasangan-pasangan.

Kosong itu kita. Kita itu kosong. Kita tidak lebih dari pada mahluk yang hanya mengisi bumi dengan cerita-cerita. Makanya, beberapa tukang sair menyebutnya sebagai panggung sandiwara. Karena kita hanya mahluk yang memainkan peran melalui skenario Nya.

Kemudian, kita dituntut untuk mengambil makna. Suatu yang baik. Mencari jalan. Jalan yang baik. Memperbaiki diri. Diri yang baik. Agar sesuatu yang kosong ini menjadi bernilai dimata orang dan kekosongan- kekosongannya.

Ketetapan Sutradara melebihi apapun yang diperkirakan oleh pemirsa. Dalam sebuah film, pada hakikatnya, bukanlah tentang siapa tokoh utama atau siapa penjahatnya, melainkan sebuah makna yang terkandung di dalamnya. Agar kita tau, bahwa film itu adalah gambaran sederhana dari kehidupan yang fana.

Kemudian, seseorang dengan rasa penasaran mencari tau. Siapakah pemeran utama yang dimaksud?, Atau, siapakah sutradara dari dunia ini, hingga bahkan mengapa dunia ini kau sebut kosong?. Orang itu mencari dengan membuka matanya lebar-lebar demi pertanyaan pernyataan mengawang ini.

Beberapa literatur seperti filsafat dan mitologi, tidak cukup untuk menjawab kekosongan diatas. Barangkali ada pesawat NASA yang bisa membawa manusia melihat bumi, orang tadi mungkin akan pergi ke angkasa dan melihat, kecilnya bumi dari pada benda-benda yang lain.

Dalam ilmu science, benda terkecil adalah atom dan intinya. Ia menunjukkan sesuatu yang bergerak namun tak terlihat. Artinya kosong. Semuanya kosong. Kita, benda, dan apapun itu. Sesuatu yang kita lihat hanyalah ilusi. Ia semu. Ia tidak ada. Karena ia adalah kosong.

Merah itu ada ketika kamu yakin bahwa itu merah. Sakit itu ada karena kamu yakin bahwa itu sakit. Lapar itu ada kerena kamu yakin bahwa itu lapar. Tidak ada sesuatu yang ada kecuali apapun yang kita anggap ada. Termasuk adanya kekosongan ya kita anggap ada ini.

Kita kosong dan yang ada itu yang Satu.

Kemuning, 08 Desember 2018