Desember, tidak ada yang dapat dilihat ketika bercermin, kecuali tumbuhnya sedikit bulu di beberapa bagian, atau berat badan dan lemak yang semakin gendut bagi sebagian besar perempuan.
Ya, Desember selalu manandakan tanggalnya tahun. Sebagian bisa bahagia dengan bulan ini, karena mungkin mereka telah merencanakan agenda di malam tahun baru. Membeli petasan, kostum baru, agenda piknik, jalan-jalan, dan banyak hal lain.
Ya, sudah seperti hajatan para Raja saja, meriah dan asyik di berbagai sudut kota. Bisa jadi, cerita akhir tahun lebih menarik ketimbang buku dongeng yang setiap malam dibacakan menjelang tidur oleh ibu kepada anaknya. Bahkan saking meriahnya, dunia menyaksikan negara-negara dengan ritual yang berbeda-beda.
Saya pikir, untuk memperingati umur bumi yang semakin tua ini, tidak sepenuhnya dengan busana Helloween dan terompet warna warni. Meskipun sebagian besar tetap kekeh ingin membawa pacar atau sekedar jalan-jalan di malam tahun baru, itu murni hak dan kemauan mereka.
Tapi yang jelas, dibalik Desember dan malam tahun baru yang menurut orang-orang adalah penting, mungkin memilih bercermin didepan kaca, bisa jadi lebih berguna. Ya meskipun sekedar melihat perkembangan biologis atau sekedar cari tau seberapa pendek pertumbuhannya.
Tidak semua orang dengan nasib yang sama, tidak semua orang sebahagia mereka, ada yang pura-pura, pelampiasan, menghilangkan stress, menghibur diri, dan menipu sesama temannya karena tidak cukup tenaga untuk menanggung semua Masalah yang ia terima.
Desember bukanlah bulan yang selalu bertanda kebahagiaan. Tapi justru Desember menjadi sebuah renungan, perihal kita, diri kita, perubahan baik apa, mengapa kita punya masalah ini, apa dari setiap masalah yang kita hadapi, apa yang kita miliki dan bahkan apa yang seharusnya kita syukuri.
Saat berdiri didepan cermin, sebagian membereskan poni rambut, menyentuh pipi, atau sekedar melihat perkembangan jerawat dan beberapa komedo. Oke, hal yang seperti itu, kita saksikan setiap hari sebelum berangkat kuliah atau kerja.
Namun, terkadang, bercermin itu bukan untuk tau seberapa banyak jerawat yang telah mati. Seorang bisa saja, akibat bercermin, ia kemudian menangis, mengacak-acak rambutnya, menampar pipinya sendiri, atau bahkan ada yang tersungkur sambil memegang pisau dengan penuh emosi.
Ada soal, masalah, problem, dan kendala apapun sehingga manusia bisa menjadi serigala sesama manusia nya, bahkan kepada dirinya sendiri. Dan pada saat itu, kita berada di dalam posisi yang paling bawah, amat sangat bawah. Tidak ada petasan, tidak ada kencan, uang, dan apapun selain perasaan kelam dan menyedihkan.
Setelah ini, penyesalan pun terulang.
Kadang ada satu titik dimana kita lebih butuh tangisan dari pada motivasi di channel televisi swasta. Meskipun secara intensitas, titik itu jarang kita deteksi, kita lebih memilih bermain didalam euforia tanaman mini dan istana buatan. Seperti anak kecil yang jika diajak ke pantai, ia lupa untuk pulang karena keasikan main pasir dan lukisan lukisan.
Ya, titik dimana orang harus berdiri didepan cermin, dan tidak selalu menengadahkan kepalanya keatas. Tapi ada kalanya ia juga harus menunduk, melihat ke bawah, dan bahkan merasa dirinya paling bawah. Yang tiada lain, mungkin kita akan tergugah untuk bersyukur dan menghargai hal kecil apa pun.
Ketika kita berada dibawah, tidak ada yang lebih menenangkan hati, kecuali dengan menyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Ini jauh lebih mutakhir dari pada obat stres yang telah dokter berikan. Atau justru, Tuhan sengaja membuat kita dalam masalah, agar kita mengingat Nya, agar kita kepada Nya, agar kita menyebut Nya, dan agar kita tahu Tuhan lebih merindukan kita, dari pada kita kepada Nya. Tuhan ingin kita kembali.
Teras Rumah, 06 Desember 2018
0 Comments