Malam itu saya memakai kopyah, sarung, dan membilasi baju Koko saya dengan sedikit parfum. Saya belinya saat ziarah di sunan Ampel Surabaya beberapa waktu yang lalu. Saya bercermin memastikan bahwa niat dan penampilan saya telah sesuai: bersholawat sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad, the most Noble person in the world.

Saya dengan pakaian putih itu tidak sendirian. Ditemani teman dekat saya yang ternyata ia tidak hanya membawa baju dan kopyah, ia lebih lengkap berupa minuman, makanan dan hape untuk sekedar momen dan memeriahkan dan yang terpenting baginya adalah Bendera.

Tempat yang ingin kita kunjungi terletak di lapangan yang begitu luas. Terdapat panggung dan sound sistem tinggi menjulang. Saya senang sekali, sesenang bagaimana perasaan orang Mekkah kedatangan Rosululllah dari Yastrib dengan shalawat dan tabuhan rebana. Tapi zaman moderen ini sudah tak pakai lagi rebana, melainkan elektronik digital yang suaranya menggema jauh kemana-mana.

Saya dibawa oleh rasa cinta mendalam kepada Rosululllah yang selalu hidup. Beliau menuntun saya hingga saat ini, tentu dengan teman saya satu ini. Iapun berpakaian putih meskipun aroma parfum yang wanginya berbeda. Kami bersholawat, memanjatkan kesenangan, memuji, melantunkan kerinduan, dan mengurai hati-hati kotor untuk lebih bersih, lebih tenang.

Di tengah itu, ada satu peristiwa yang penting menurut saya. Ini antara panitia dan teman saya. Saya mendengarkan, nampaknya sebuah perselisihan. Rupanya mereka mempersoalkan bendera. Ada bendera berlafadz Tauhid yang oleh panitia disuruh turunkan, kebetulan teman saya menjunjung nya. Padahal ada banyak bendera lain, dan mereka hiraukan.

Ya, coba kita perhatikan, perselisihan itu terjadi. Satu sisi, si panitia menyuruh bendera Tauhid diturunkan, dari sekian banyak bendera yang lain. Suasananya menegang, karena yang satunya tidak mau melakukan perintah itu. Saya sangat yakin, semakin dia disuruh, semakin ia tidak mau. Dan dia adalah teman saya sendiri.

Saya tak lagi fokus dengan sholawat tadi. Perselisihan itu saya pikirkan. Saya pun bertanya, mengapa panitia ini, begitu kekehnya menyuruh untuk menurunkan bendera Tauhid. Padahal ini simbol agama Islam, dan saya yakin si panitia sudah pintar perihal itu. Yang kedua, mengapa yang teman saya ini tidak mau mengikuti perintah, apapun alasannya. Saya tidak tau harus bersikap seperti apa, kemana, dan untuk siapa.

Apakah jika saya mendukung panitia ini, lantas saya disebut tidak cinta Allah dan Rasulullah, saya tidak mau dituduh menciderai rasa cinta umat muslim hanya karena peristiwa ini. Percuma juga saya dari rumah memakai Koko dan memantapkan niat. Atau, jika saya membiarkan teman saya ini tidak mematuhinya, saya justru membiarkan ketegangan didalam susana kedamaian hati kala itu.

Saya yakin semua orang tidak ingin melihat perselisihan, atas saudara, atas sesama dan bahkan atas satu daerah yang sebenarnya sama. Termasuk saya.

Saya jadi ingin bertanya, apa yang mengukur kita, sebagai apapun. Apalagi sebagai umat yang patuh, cinta dan tanpa harus menimbulkan perselisihan. Saya ingin kalian menunjukkan saya sebuah arah, jika arah saya sudah menyimpang.

Tentu saya mencintai Allah dan Rasul-nya, bahkan saya selalu berharap bisa mendapatkan petunjuk langsung entah lewat mimpi atau apapun, seperti bagaimana Nabi Ibrahim atau Nabi Musa, meskipun saya sadar itu sulit terjadi, hal yang begitu, dalam kaidah ilmu tasawuf disebut tamanni.

Tapi meskipun saya cinta kepada Allah, saya tidak memiliki bendera Tauhid di kamar satupun, apalagi bendera ukuran besar yang teman saya bawa malam itu. Di kamar, hanyalah Mushaf Al-Qur'an yang saya baca setiap setelah Maghrib, bagi saya itu sangat cukup untuk mewakili kecintaan saya kepada Allah.

Bahkan kalimat tauhid selalu saya panjatkan setiap 5 kali sehari minimal, ya jelas, dalam sholat kita, mengandung kalimat itu, apalagi jika ditambah dengan sholat tahajjud atau Dhuha.

Saya ingin sekali melihat kedamaian, tentu yang substansial. Bukan kedamaian yang hanya disuarakan, tapi kedamaian yang terlihat. Dalam Piagam Madinah, Rosululllah dengan keragaman etnis dan agama mampu menerjemahkan Agama Islam sebagai Rahmatan Lil Al-Amin, penuh cinta, dan kedamaian yang substansial. Kedamaian substansial dapat diperoleh dengan menghayati kandungan Al-Qur'an, atau memanjatkan Sholawat kepada Rasulullah, persis  seperti yang kita lakukan kala itu.

Sungguh saya senang jika ada teman saya yang mencintai Allah melebihi saya. Termasuk bentuk cintanya dengan cara memiliki dan melindungi bendera itu misalkan, tapi saya juga tidak senang melihat perselisihan-perselisihan. Nah disini, saya bingung mencari arah.

Salam Literasi