Kita tidak sedang berdiri di tengah tengah tempat yang penghuninya diam dan hanya sesekali mendengarkan lagu 'nina bobo' nya sebelum terlelap. Tapi kita tinggal bersama mereka dengan upaya upaya untuk berlari sedemikian kencang, demi satu tujuan tertentu. Ya seperti orang primitif dulu yang suka membawa parang atau tombak untuk satu serigala buruannya.

Mungkin sudah saatnya lagu 'Nina Bobo' kita upgrade lebih nakal lagi. Meskipun lirik lagunya 'My heart will go on'-nya film 'Titanic' itu bertema romansa, tapi paling tidak lagu itu lebih nge-trend bagi anak anak zaman 90-an. Bisa saja lagu itu lebih membuat orang terlelap dan menyadari tentang berakhirnya kapal yang begitu besar, yang pada akhirnya tetap jatuh juga kan.

Kita sering bernostalgia dengan masa lalu. Kita selalu berhutang budi terhadap dia. Masa lalu, pengorbanan, kesetiaan, dan termasuk rasa tenang yang akhir-akhir ini sudah mulai menghilang. Sama menghilangnya lagu 'Nina Bobo' akibat masuknya gendre Jazz dan Reage. Lihat saja orang-orang nya. Sedikit yang ingin bernostalgia.

Padahal, lagu itu, sejarah Titanic, mitologi, legenda, dan termasuk prasasti-prasasti zaman dulu, adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan kepada kita, betapa indahnya perang dulu, harmonisasi seni musik jawa, tarian-tarian daerah, atau gambaran semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ternyata lahir dari Mpu Tantular. Ada banyak yang ingin mereka tunjukkan kepada kita.

Tapi nyatanya, kita tidak memberikan respon banyak yang sekiranya bisa membahagiakan mereka, meskipun telah berada di alam Barzah sana. Kita tak mengingat mereka, jerih payahnya, perjuangannya, dan apa yang mereka bangun untuk kita. Kita lebih mengingat kapan mesin Windows diciptakan oleh Bill Gates, atau kapan kita bisa mengunjungi Menara Eiffel di Paris, jalan-jalan ke Spanyol sekalian berkunjung ke Camp Nou. Atau sekedar mengoleksi film-film action Hollywood yang badannya kekar dan seksi-seksi.

Padahal, Eropa dengan begitu lamanya membabat pendahulu kita. Portugis, Inggris dan termasuk Belanda yang masih menyisakan bangunannya di kota kota tertentu. Mereka yang kita lawan dulu, perang di Surabaya yang menewaskan kurang lebih 6000 nyawa pasukan kita, bersama tentara Belanda yang biasa dikenal dengan NICA. Waktu itu KH. Hasyim Asy'ari turun dengan ulama-ulama dimana mana, munculnya Resolusi Jihad, sebagai tekad bulat bahwa santri harus mengawal NKRI.

Mengingat ingat mereka, nostalgia, berpikir, merasakan, dan sekali kali menyanyikan lagu kebangsaan meski sendirian, adalah sebagai cara kita untuk membuat mereka bahagia. Para pejuang, pahlawan, tokoh, ulama, dan termasuk pembuat bendera dan lagu lagu kebangsaan, merupakan bentuk dedikasi yang sangat dalam kepada tanah ini. Jika bukan karena rasa cinta, jika bukan karena untuk kita, mereka tidak akan mengorbankan darahnya walau satu tetespu. Mereka untuk kita, kitalah yang mereka perhitungkan.

Saya mencintai tanah ini, walaupun telah tercampur darah para pahlawan. Darah kalian telah menyatu dalam sanubari. Darah yang ditumpahkan adalah darah juang yang seharusnya mengetuk hati kita.

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2018
Teras Rumah 9 November 2018