Dalam percakapan sehari-hari, pembicaraan seputar filsafat, keyakinan, ideologi, dan termasuk makna-makna dalam istilah psikologi sengaja tidak dibahas. Kita lebih terus terang membahas soal pekerjaan, uang jajan, belanja di dapur dan termasuk angsuran listrik dan air.

Perihal keyakinan, ia lebih bersifat tertutup, dan kalaupun terpaksa ingin dibahas, satu-satunya tempat yakni adalah kampus dengan berdiri satu dosen dan para khalayak mahasiswa. Yang argumentasi nya menimbulkan banyak rasa, puas, kagum, marah dan termasuk kecewa. Meskipun sebenernya, Edmund Spenser mengatakan bahwa keyakinan lah yang menyembuhkan rasa sakit, yang menyebabkan menderita atau bahagia, kaya atau miskin

Saya tidak sabar menanti beberapa orang dengan argumentasi yang menohok ketika berbicara soal keyakinan, ia berusaha mengaitkan dengan kail yang tajam, seolah keyakinan itu adalah apa-apa yang diurus oleh orang tua kita. Geram sekali melihatnya. Ingin ku bisa menghipnotis dirinya dan menggali cara berpikirnya hanya untuk menepis bahwa keyakinan itu tidak sepenuhnya jauh lebih privasi.

Mari kita ulas, pertanyaan nya, mengapa kita yakin, tentu sebagian agamawan dari kita menganggap bahwa hal itu adalah mutlak sebuah keharusan, jika konteks nya adalah tuhan dan ketentuan Nya. Bahasa agama yang sering muncul adalah Dogma. Tapi apakah kita tidak bisa mencari pola, latar belakang, tujuan hingga alasan kecil mengapa kita mesti yakin. Sepasrah itukah kita menjalani hidup random ini.

Dalam konteks sehari-hari, dimana pembicaraan nya lebih berpotensi realistis, keyakinan, dapat dilihat dari apapun yang menuntut dirinya menjadi sesuatu. Boleh jadi orang dengan keterbatasan kesempurnaan fisiknya (difabel), lebih berwarna hidupnya karena ada sejuta impian di kepalanya. Dan yang terpenting, ia yakin akan impian-impian itu. Dari pada orang diluar sana dengan enaknya menganggap bahwa hidup ini akan begini saja.

Dalam banyak hal, orang tergiur untuk hasil yang memuaskan, seolah ia sedang berada di posisi anaknya raja, yang jika raja itu meninggal tahta dan otoritas kekuasaan akan segampang itu ia ambil alih. Padahal ia hanya ada di kerajaan kerajaan Romawi dan Nusantara kuno yang sudah tinggal menjadi legenda. Saat ini?. Sudah habis, sudah tidak ada yang percaya hal yang begitu.

Carl Sandburg misalnya, yang mengawali dari setiap perubahan apapun yakni adalah impian ujarnya, kekuatan bermimpi sehingga mampu mengerahkan seluruh kekuatan dirinya agar terwujud, adalah satu porsi yang didalam nya menghargai waktu dan proses. Bukan seperti tukang parkir yang marah karena setengah hari ia bekerja hanya cukup buat belanja sayuran atau roti dua bungkus.

Apapun itu, kita tidak mesti percaya, atau percaya sepenuhnya. Yang mesti adalah, bagaimana apa yang menjadi impian, dapat membentuk pola, menemukan alasan, mempunyai tujuan, dan bukan sekedar dogma yang kita tak mau tau mengapa kita mesti yakin. Termasuk didalam nya dalam urusan beragama.

Perpustakaan Pamekasan
19 November 2018