Ghuruh Tolang adalah “the first person who teaches you writing and reading”. Kosa kata ghuruh tolang merupakan salah satu kosakata yang lahir dari kebudayaan Madura. Ghuruh adalah guru, tolang adalah tulang. Ghuruh tolang adalah orang yang pertama kali memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah kepada masyarakat agar mampu membaca dan menulis.
Seorang yang mendapatkan gelar ghuruh tolang, ialah orang yang memiliki pemahaman yang luas mengenai literatur Agama Islam. Orang Madura menyebut mereka kiyaeh, ma’kaeh, sedangkan istrinya adalah bu’nyaeh dan anaknya adalah lora. Sedangkan orang yang belajar kepada kiyaeh tersebut, disebut santreh (santri).
Seorang yang mendapatkan gelar ghuruh tolang, ialah orang yang memiliki pemahaman yang luas mengenai literatur Agama Islam. Orang Madura menyebut mereka kiyaeh, ma’kaeh, sedangkan istrinya adalah bu’nyaeh dan anaknya adalah lora. Sedangkan orang yang belajar kepada kiyaeh tersebut, disebut santreh (santri).
Masyarakat setempat berbondong-bondong membawa Al-quran dan kitab kuning beserta mukena bagi perempuan dan sarung-peci untuk laki-laki. Sehingga, surau mendapatkan legitimate dari masyarakat, sebagai tempat untuk belajar keagamaan, belajar tata cara sholat dan puasa, serta kisah-kisah nabi dan hari akhir.
Kegiatan di surau dengan metode sorogan ini mengawali cikal-bakal perkembangan literatur Agama Islam dan lahirnya pondok pesantren. Pesantren di Madura, diawali dengan surau yang terdiri atas ghuruh tolang dan beberapa santri.
Salah satu contohnya ialah sejarah lahirnya pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura, yang waktu itu didirikan oleh K. Itsbat bin Ishak sekitar 1787 H, dengan mengayomi santri-santrinya penuh istiqomah hingga akhirnya melahirkan ulama-ulama terkemuka di Madura.
Sebutan santri selama ini selalu identik dengan pondok pesantren, bahkan santri diasumsikan sebagai orang yang belajar di pesantren. Pengertian yang membatasi istilah santri ini, kadang-kadang menjadi dualisme antara orang yang belajar di pesantren dan non-pesantren, terlebih bagi anak-anak dengan watak yang masih labil.
Santri diasumsikan kuno lah, katro, kudet, dan kampungan. Padahal ia hanya butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya setelah keluar dari pesantren, bahkan jika ingin dilihat dari 3 aspek kemampuan yang biasa dikenal dengan Taksomoni Bloom –kognitif, afektif, dan psikomotorik– santri jauh lebih unggul dari pada orang yang tidak pernah nyantri.
Santri dalam sudut pandang etimologis ialah pelajar atau penuntut ilmu yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, apakah ia belajar di madrasah, sekolah, surau dan apalagi pesantren. Kata santri berasal dari sastri (Sangskerta) sama dengan thullab (Arab), student (Inggris), murid (Indonesia) dan santreh (Madura).
Konteks santri tidak boleh dibatasi hanya karena literatur sejarah sosio-kultural tentang surau dan ghuruh tolang yang tidak banyak ditilik. Padahal faktanya, surau merupakan asal pesantren dan ghuruh tolang lah yang pertama kali melahirkan santri-santri.
Hari ini, pemerintah mengapresiasi identitas santri dengan menetapkan 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Ada dua tujuan dibentuknya HSN menurut H. Lukmanul Hakim selaku Menteri Agama RI. Pertama, pemerintah menetapkan 22 oktober sebagai HSN dikarenakan pada 22 oktober 1945 silam, KH Hasyim Asy'ari bersama ulama di seluruh Jawa dan Madura melakukan jihad atas respon NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang mencoba menjajah kembali Indonesia.
Salah satu bunyi dari resolusi jihad tersebut ialah “para santri dan para Kiai wajib terlibat dalam mempertahankan kedaulatan NKRI”. Kedua, sebagai bentuk apresiasi terhadap eksistensi santri sekaligus memperkokoh tanggung jawab santri terhadap kedaulatan bangsa, sebagaimana ketetapan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai ghuruh tolang santri nusantara.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2XPUlSmLPNYOoygPuGYMhQy9TMcZjpES09xvrBh5DxCz9SNuaGatCzDJF1JwaH_sVUVZVlm0ruIlpnmykRgbToWd6sVKtPzhA3bN608HUW0-3Wv7HJ4tHWZyZd9hZ_QxBgGSLEudXGLjh/s640/Lomba+Artikel+Aqso+%25238.jpg
Sumber: https://www.cheria-travel.com/2018/09/lomba-menulis-cheria-holiday-ke8.html
--Cheria Holiday™--
Sumber: https://www.cheria-travel.com/2018/09/lomba-menulis-cheria-holiday-ke8.html
--Cheria Holiday™--
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2XPUlSmLPNYOoygPuGYMhQy9TMcZjpES09xvrBh5DxCz9SNuaGatCzDJF1JwaH_sVUVZVlm0ruIlpnmykRgbToWd6sVKtPzhA3bN608HUW0-3Wv7HJ4tHWZyZd9hZ_QxBgGSLEudXGLjh/s640/Lomba+Artikel+Aqso+%25238.jpg
Sumber: https://www.cheria-travel.com/2018/09/lomba-menulis-cheria-holiday-ke8.html
--Cheria Holiday™--
Sumber: https://www.cheria-travel.com/2018/09/lomba-menulis-cheria-holiday-ke8.html
--Cheria Holiday™--
0 Comments