Sesekali membentuk spiral, membicarakan sesuatu yang terlalu mengangan dan hidup dengan sebongkah batu serta sereal di waktu pagi menjelang siang. Mencoretkan sesekali kanvas supaya terbentuk Moral atau sekedar Abstrak melintang, yang pengertian nya tentang manusia moderen dan alien masa depan.
Hidupmu, ujar motivasi bayaran, seperti diibaratkan sarang burung dengan ketinggian yang berpotensi jatuh saat angin menerjang, induk sengaja meletakkan dengan ketinggian itu, karena semakin tinggi semakin aman. Menjadi tinggi harus menjadi kuat saat badai dan angin menerjang. Acara motivasi pun selesai dan audience kembali dengan kehidupan dan kenyataan pahit yang memilukan.
Kemudian perbandingan pun dimulai, seolah ahli Geofisika dalam memprediksi cuaca di sekitar lembah dan pegunungan. Perbandingan, spekulasi dan bahkan sesekali hakim-menghakimi menjadi sarat dengan sesuatu yang mempunyai nilai jual yang kurang laku. Manusia hanya membaca dan akhirnya meletakkan perbandingan perbandingan tadi.
Padahal, siapa sangka munculnya inovasi hijab dan aplikasi smartphone yang baru, muncul akibat perbandingan perbandingan tadi. Atau malah, gaya hidup dan desain arsitek rumah pun juga muncul akibat perbandingan perbandingan tadi. Hanya orang awam lah yang tak menerima perbandingan, ujar seorang bijak yang kebanyakan baca filsafat dan buku cerita anak anak.
Perbandingan tak akan berhenti, selagi manusia rajin minum vitamin C dan menjemur pakaian di tengah teriknya mentari, perbandingan akan tetap terjadi. Tanpa itu, manusia hanya tetap bergelut dalam kehidupan mitologi Yunani dan para dewa dewa.
Pertanyaan nya, siapa yang membuat perbandingan itu.
Untuk menjawab pertanyaan ini, sekiranya buku membosankan seperti filsafat harus dibuka untuk ditelaah kembali. Disana akan muncul sejarah-sejarah tentang tokoh dengan teori yang menuhankan segala macam bentuk dan evolusinya. Mulai dari Manusia, Matahari, Bumi dan termasuk alam secara umum yang dimasukkan kedalam kajian untuk memunculkan perbandingan tadi.
Setelah itu, manusia hanya akan berhenti didalam kebingungan atas segala perbedaan yang masuk. Menjadi stuck, menjadi mengerti tentang hal ihwal yang pada dasarnya tidak satupun yang bisa dijadikan pijakan dalam kehidupan yang realistis.
Seperti bermain monopoli, dengan bangunan menjulang dan kebahagiaan sementara. Ia meneliti ruang di seluruh dunia, menajajali bangunan indah dalam permainan itu, kemudian berhenti dan terpaksa monopoli ditutup karena hidup tak seindah dalam permainan dalam kertas itu. Manusia harus melakukan satu hal berarti yang mungkin tidak terbaca dalam buku filsafat dan monopoli mainan tadi.
Hidupmu, ujar motivasi bayaran, seperti diibaratkan sarang burung dengan ketinggian yang berpotensi jatuh saat angin menerjang, induk sengaja meletakkan dengan ketinggian itu, karena semakin tinggi semakin aman. Menjadi tinggi harus menjadi kuat saat badai dan angin menerjang. Acara motivasi pun selesai dan audience kembali dengan kehidupan dan kenyataan pahit yang memilukan.
Kemudian perbandingan pun dimulai, seolah ahli Geofisika dalam memprediksi cuaca di sekitar lembah dan pegunungan. Perbandingan, spekulasi dan bahkan sesekali hakim-menghakimi menjadi sarat dengan sesuatu yang mempunyai nilai jual yang kurang laku. Manusia hanya membaca dan akhirnya meletakkan perbandingan perbandingan tadi.
Padahal, siapa sangka munculnya inovasi hijab dan aplikasi smartphone yang baru, muncul akibat perbandingan perbandingan tadi. Atau malah, gaya hidup dan desain arsitek rumah pun juga muncul akibat perbandingan perbandingan tadi. Hanya orang awam lah yang tak menerima perbandingan, ujar seorang bijak yang kebanyakan baca filsafat dan buku cerita anak anak.
Perbandingan tak akan berhenti, selagi manusia rajin minum vitamin C dan menjemur pakaian di tengah teriknya mentari, perbandingan akan tetap terjadi. Tanpa itu, manusia hanya tetap bergelut dalam kehidupan mitologi Yunani dan para dewa dewa.
Pertanyaan nya, siapa yang membuat perbandingan itu.
Untuk menjawab pertanyaan ini, sekiranya buku membosankan seperti filsafat harus dibuka untuk ditelaah kembali. Disana akan muncul sejarah-sejarah tentang tokoh dengan teori yang menuhankan segala macam bentuk dan evolusinya. Mulai dari Manusia, Matahari, Bumi dan termasuk alam secara umum yang dimasukkan kedalam kajian untuk memunculkan perbandingan tadi.
Setelah itu, manusia hanya akan berhenti didalam kebingungan atas segala perbedaan yang masuk. Menjadi stuck, menjadi mengerti tentang hal ihwal yang pada dasarnya tidak satupun yang bisa dijadikan pijakan dalam kehidupan yang realistis.
Seperti bermain monopoli, dengan bangunan menjulang dan kebahagiaan sementara. Ia meneliti ruang di seluruh dunia, menajajali bangunan indah dalam permainan itu, kemudian berhenti dan terpaksa monopoli ditutup karena hidup tak seindah dalam permainan dalam kertas itu. Manusia harus melakukan satu hal berarti yang mungkin tidak terbaca dalam buku filsafat dan monopoli mainan tadi.
0 Comments