Mengawali pembicaraan seputar kesehatan, seorang bangsawan Prancis membeberkan suatu teori yang nyaris ditolak pada waktu itu. Seorang bernama Pierre Cabanis itu berbicara soal Psikosomatis. Sebuah penjelasan mengenai munculnya gejala penyakit fisik yang berawal dari penyakit psikis.

Pembicaraan itu tidak langsung diterima, tak langsung booming, seolah trending video anak beken saat ini. Ia justru tidak mendapatkan ruang, belum ada yang ingin mendengar lebih dalam. Dia hanya sosok ahli psikologis yang baru terkenal sekitar tahun 1930 an.

Hari ini, tanpa kita harus mengenal pembawa teori itu, Psikosomatis ada dan terjadi kepada kita. Ia muncul akbiat tekanan hidup yang secara psikologis sangat menggangu. Obsesi, depresi dan termasuk frustasi yang diakibatkan oleh faktor yang beragam, entah itu persoalan romansa atau sekedar kegagalan dalam meraih prestasi.

Sosok itu hanyalah sekian sosok dari daftar nama yang mulai hilang. Orang orang di zaman millenial ini sedikit sekali yang peduli tentang nama-nama. Mereka hanya memakai dan setelah itu membuang, tak ingin peduli terhadap siapa yang mencipta dan memberikan. Seolah anekdot dalam beberapa ilmuan, yang melarang orang beranggapan bahwa realitas ini tidak seperi tuhan melempar dadu. Random dan tergantung kemujuran.

Kaum Milenial kadang tak perlu asal-usul, tak perlu akhir, yang ia perlukan hanya hidup dengan genggaman digital yang bisa seenaknya mereka bicarakan ini itu meskipun sambil tiduran dan sesekali tertawa tengah malam.

Akhirnya Psikosomatis dan pencetus nya pelan pelan menghilang, kontribusi signifikannya hanya terbaca disekitar negara kelahirannya. Segelintir orang dan sedikit buku yang menjadikannya sebagai torehan sejarah. Hingga ia mati dan kehidupan manusia pun beragam.

Namun, saya tetap merasa bahwa Psikosomatis itu ada. Lihat saja, ketika penyakit dalam konteks moderen ini tidak lagi seperti hasil diagnosa para dokter di rumah sakit. Saya sering melihat anak tawuran, kebut-kebutan dan termasuk mengonsumsi minuman keras, sangat amoral dan membahayakan. Bagi saya itu adalah  penyakit, bahkan lebih parah dari medis medis di rumah sakit.

Ia penyakit karena dapat mewabah, yang secara pelan-pelan sedikit demi sedikit akan menjadi banyak, menjadi massif. Mengotori lingkungan setempat, dan sangat menunjukkan orang-orang yang jauh dari jangkauan pendidikan. Sehingga penyakit ini sulit direhabilitasi atau bahkan disembuhkan.

Dalam konteks ini, istilah penyakit sosial barangkali bisa diterima oleh banyak pihak, meskipun misalnya, jikalau konteks ini tidak diterima, saya tetap akan belajar kepada Cabbanis dulu, tentang teori awalnya yang membutuhkan waktu lebih 50 tahun agar diterima bahkan diakui kebenarannya.

Salam Sukses Sejahtera
Oleh Mohammad Faiq