Dimulai dari pengenalan manusia dan perubahan-perubahannya, cabang keilmuan mulai bergerak dan semakin lama semakin muncul spesialisasi yang semakin menyempit. Bermula dari pembahasan manusia secara utuh berpindah menjadi manusia dalam sudut pandang-sudut pandang. Agama, ekonomi , termasuk sosial dan budaya. Sehingga pada akhirnya manusia tidak semudah cara manusia mendefinisikannya, ia harus kembali dan berhenti sebatas perspektif dan sudut pandang.
Sudut pandang kemudian menjadi cara manusia modern membuat perbandingan. Ia menjadi acuan dari setiap evolusi manusia dan isi semesta. Diskursus, perkembangan teori dan sampai menyatunya ilmu yang akhirnya sepakat disebutkam bahwa ilmu bersifat multidisipliner, berkaitan antara satu dan yang lainnya. Dimana perspektif yang asalnya sesuai dengan masing-masing telaah dan kajian, kini berubah menjadi saling berkaitan, masing masing bersinergi antara satu dan yang lainnya.
Sesuatu secara terang-terangan bisa dengan tegasnya dipisah dalam satu masa, kemudian dalam masa selanjutnya mereka berubah menjadi satu kembali. Seolah dalam puisi Rumi tentang pembuatan bumi dan isinya, ia berkata 'big bang, ialah sesuatu yang awalnya memisahkan antara matahari dan bumi begitu lama, sangat lama, hingga keduanya merindu dan mencucurkan air mata, mataharipun menangis dan hujanpun membasahi bumi, ia kemudian bersemi dengan tumbuhnya tanaman dan buah-buahan" Rumi menjadikan alam sebagai mahligai yang pernah ketemu dan berpisah untuk waktu lama, kemudian ketemu lagi dengan cinta bersemi kembali.
Kemudian manusia kembali dijadikan objek penelitian, dan yang meneliti adalah manusia yang lain. Manusia meneliti manusia, menjadikannya sebagai alat munculnya disiplin keilmuan yang baru. Sebagai cara manusia menjajalkan kakinya di bumi. Sehingga bumi dengan tanaman dan harmoni yang diceritakan oleh Rumi, berubah menjadi gedung tinggi dengan manusia peneliti didalamnya. Menampung orang pintar dengan kecamata dan kursi goyang, sesekali muncul dan mempengaruhi orang-orang di koran dan televisi swasta.
Kemudian rasa cinta matahari dan bumi pudar, bumi semakin lama semakin keriput. Cahaya mentari tak cukup memberikan asupan kepada bumi yang semakin tua semakin sering dicekoki bahan kimia dan pabrik limbah. Bumi tidak menjadi pancaran cinta matahari lagi, ia berubah menjadi mainan manusia dengan bangunan menjulang dan lapangan golf yang luas dan besar. Terkadang badai dan angin datang, sebagai belas kasihan yang sengaja dilakukan oleh alam kepada bumi atas penghianatannya.
Akhirnya, manusia kembali beraksi, ia mulai menyadari bahwa, sesuatu yang telah ia lakukan justru telah membahayakannya. Dengan berat hati manusia akan kembali dan ditelan oleh bumi dengan cara yang berbeda-beda. Bumi dengan caranya mengambil nyawa-nyawa manusia, sebagai cara bumi mempertahankan keindahannya sejak awal. Karena bumi pada dasarnya masih mengharapkan pancaran matahari diwaktu pagi.
Sudut pandang kemudian menjadi cara manusia modern membuat perbandingan. Ia menjadi acuan dari setiap evolusi manusia dan isi semesta. Diskursus, perkembangan teori dan sampai menyatunya ilmu yang akhirnya sepakat disebutkam bahwa ilmu bersifat multidisipliner, berkaitan antara satu dan yang lainnya. Dimana perspektif yang asalnya sesuai dengan masing-masing telaah dan kajian, kini berubah menjadi saling berkaitan, masing masing bersinergi antara satu dan yang lainnya.
Sesuatu secara terang-terangan bisa dengan tegasnya dipisah dalam satu masa, kemudian dalam masa selanjutnya mereka berubah menjadi satu kembali. Seolah dalam puisi Rumi tentang pembuatan bumi dan isinya, ia berkata 'big bang, ialah sesuatu yang awalnya memisahkan antara matahari dan bumi begitu lama, sangat lama, hingga keduanya merindu dan mencucurkan air mata, mataharipun menangis dan hujanpun membasahi bumi, ia kemudian bersemi dengan tumbuhnya tanaman dan buah-buahan" Rumi menjadikan alam sebagai mahligai yang pernah ketemu dan berpisah untuk waktu lama, kemudian ketemu lagi dengan cinta bersemi kembali.
Kemudian manusia kembali dijadikan objek penelitian, dan yang meneliti adalah manusia yang lain. Manusia meneliti manusia, menjadikannya sebagai alat munculnya disiplin keilmuan yang baru. Sebagai cara manusia menjajalkan kakinya di bumi. Sehingga bumi dengan tanaman dan harmoni yang diceritakan oleh Rumi, berubah menjadi gedung tinggi dengan manusia peneliti didalamnya. Menampung orang pintar dengan kecamata dan kursi goyang, sesekali muncul dan mempengaruhi orang-orang di koran dan televisi swasta.
Kemudian rasa cinta matahari dan bumi pudar, bumi semakin lama semakin keriput. Cahaya mentari tak cukup memberikan asupan kepada bumi yang semakin tua semakin sering dicekoki bahan kimia dan pabrik limbah. Bumi tidak menjadi pancaran cinta matahari lagi, ia berubah menjadi mainan manusia dengan bangunan menjulang dan lapangan golf yang luas dan besar. Terkadang badai dan angin datang, sebagai belas kasihan yang sengaja dilakukan oleh alam kepada bumi atas penghianatannya.
Akhirnya, manusia kembali beraksi, ia mulai menyadari bahwa, sesuatu yang telah ia lakukan justru telah membahayakannya. Dengan berat hati manusia akan kembali dan ditelan oleh bumi dengan cara yang berbeda-beda. Bumi dengan caranya mengambil nyawa-nyawa manusia, sebagai cara bumi mempertahankan keindahannya sejak awal. Karena bumi pada dasarnya masih mengharapkan pancaran matahari diwaktu pagi.
0 Comments