Pembicaraan mengenai sekte justru memang tidak sesering orang orang berbicara tentang fashion, atau sekedar gossip soal pakaian dan kostum yang dikenakan teman sebangku atau dosennya. Sekte atau kelas memang tidak dibicarakan, bahkan nama nama tokoh filsafat pun tak pernah terlintas di kepala setiap orang. Tapi siapa sangka, sekte ada, sekte terjadi dalam kehidupan yang cukup alot ini.

Kemudian munculah beberapa kelompok, entah itu penganut Heagel atau justru Marxisme, berkeliaran dengan warna tas dan gaya bicara yang mirip-mirip. Sesekali terlihat di pojokan, ruas-ruas jalan, atau bahkan perempatan kota di pinggir sungai dan jalan. Ia terdiri dari manusia dan apa yang menjadi kecendrungan pembicaraan, yang satu berbicara hal ihwal persoalan akal dan pikiran, yang lainnya justru berbicara tentang uang dan cara mendapatkannya.

Kemudian, satu dan yang lainnya bertemu, lalu apa?

Ada kebiasaan dimana individu menjadi kaku, terlebih ketika menghadapi perempuan, rupanya ia berpikir sebentar, bisa jadi perempuan itu Materialis. Jika ia, apakah saya harus memiliki pekerjaan terlebih dahulu untuk memikat hatinya. Pertanyaan itu sangat lucu jika terjadi bagi kaum Heagel, dimana kaum Heagel hanya mendewakan akal dengan segala macam bentuk pengabdiannya. Entahlah, persoalan ini, hanyalah persoalan konsumsi bacaan.

Konsumsi bacaan, lingkungan, dan interaksi sosial, akan mempengaruhi mindset atau cara berpikir orang. Ia bagaikan suplemen yang efek sampingnya membentuk sesuatu yang tersembunyi. Seolah mendapatkan perubahan yang cukup drastis untuk waktu yang lama. Tiba-tiba perempuan mendadak menjadi bijak karena ia sebangku dengan teman yang suka filsafat, atau justru semakin materialis setelah ia sering mengikuti kegiatan workshop gratis bertema ekonomi dan bisnis.

Hingga tiba, dimana tidak ada yang keliru untuk dipertentangkan. Ia hanya persoalan latar belakang, kecenderungan dan doktrin yang membentuk. Pilihannya hanya dua, berjalan dengan muka kedepan atau berjalan dengan jalan menerawang. Ada kalanya pilihan itu menjadi jelas untuk seorang mahasiswa seumuran bapak satpam. Atau terkadang malah hanya menjadi pengikut atas arus yang bisa jadi bersifat menjerumuskan.

Kemudian percakapanpun sengaja diberhentikan dengan alasan agar tidak memihak, agar tak terjadi perdebatan, diskursus dan ketegangan antar sekte. Hingga akhirnya, pemahaman sekte bisa jadi lebih luas dari sekedar lembaran lembaran filsafat mati, ia justru lebih real di kehidupan didepan mata dengan begitu mengancam dan mengerikan.

Salam Sukses Sejahtera
Oleh Mohammad Faiq