Mental mahasiswa mulai kagok saat dosen bertanya dengan nada tinggi dan sedikit spekulatif. Ia bertanya tentang apa hubungan ilmu dan agama. Mahasiswa mulai diam, tak terdengar apapun kecuali suara sepatu langkah dosen itu, mondar mandir seolah sedang mencari mangsa. Rupanya pertanyaan itu membuat mahasiswa diam bukan karena sifat pertanyaan yang transendental melainkan dosennya yang bermimik seram.
Perkuliahanpun dimulai dengan absensi dan orat oret di papan. Mahasiswa mendengarkan sesekali menulis sesuatu yang ia anggap penting. Tiba-tiba pertanyaan tentang hubungan agama dan ilmu diulang, seketika lagi, semua mahasiswa kikuk dan menunduk seolah berdosa karena tak bisa menjawab pertanyaan itu lagi.
Semenjak pertanyaan itu dibuka, sebagian mahasiswa bertanya-tanya. Ia berpikir, kontemplasi dan sesekali melihat lihat buku filsafat dan agama, kemudian menggabungkan keduanya. Kemudian, ia menemukan sedikit penjelasan antara keduanya, ya minimal salah satu diantara keduanya.
Ilmu secara sederhana berperan sebagai alat yang digunakan untuk mempermudah segala kebutuhan dalam kehidupan manusia, uang dalam ekonomi, manusia dalam sosiologi, bilangan dalam matematika, atau bahkan pengertian garis dalam seni dan budaya. Semuanya didasarkan pada kebutuhan manusia. Dan yang terpenting, hal itu semua dilakukan atas dasar pengalaman manusia dan sejauh bagaimana mereka memformulasikan dalam bentuk teori dan konsep.
Tentu, pencarian tentang ilmu memiliki metode. Metodologi yang dipakai bisa bersifat numeral, statistik atau biasa disebut kuantitatif, pun juga bisa berupa observasi, analisis diskrptif, atau bisa pula disebut kualitatif. Dimana metodologi merupakan cara, strategi untuk memperoleh data hingga akhirnya menemukan satu rumusan dari setiap rumpun disiplin ilmu yang dicapai.
Akhirnya kebingungan pun muncul.
Lantas, bagaimana dengan agama, apakah agama bisa dikaitkan dengan ilmu dan metode metode nya seperti tadi, lantas, metode apa yang harus dipakai antara kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan manusia secara luas tak pernah mengenal Tuhan secara empirik. Apalagi masuk dan melihat surga dan neraka, sungguh diluar nalar dan pengalaman manusia.
Dengan sedikit terbata-bata, mahasiswa paling depan menjawab pertanyaan dosen barusan, ia dengan berani menjawab, "bahwa keduanya, yakni agama dan ilmu, tak ada kaitannya pak", dosenpun tersenyum dan perkuliahan pun selesai.
Sehingga, jika pengetahuan manusia tentang agama, dipisah dengan ilmu dan metode metodenya, bagaimana agama itu bisa sampai dan mendorong orang orang untuk meyakini bahwa itu benar. Berbeda dengan matematika yang 1+1 sama dengan 2. Sekali lagi, apa yang mendorong orang orang bisa begitu yakin bahwa agama yang disiarkan, diamanahkan dan dijunjung itu adalah benar.
Kemudian salah satu mahasiswa pun bertanya tentang itu semua kepada dosen filsafat di kampusnya. Dengan sedikit mengangkat bahu dosen itu justru tidak kemudian menjawab pertanyaan itu. Sembari menyilahkan duduk kepada mahasiswa yang mulai bijak ini, dosenpun bercerita dan pelajaran theologipun dimulai.
Mahasiswa dengan sedikit rasa penasarannya, akan sampai dimana ia mulai ragu tentang agama, dan mahasiswa yang sejati adalah pecundang yang bangkit dari apa yang ia ragukan agar menjadi keyakinan yang hakiki.
Salam Sukses Sejahtera
Mari Membaca
Perkuliahanpun dimulai dengan absensi dan orat oret di papan. Mahasiswa mendengarkan sesekali menulis sesuatu yang ia anggap penting. Tiba-tiba pertanyaan tentang hubungan agama dan ilmu diulang, seketika lagi, semua mahasiswa kikuk dan menunduk seolah berdosa karena tak bisa menjawab pertanyaan itu lagi.
Semenjak pertanyaan itu dibuka, sebagian mahasiswa bertanya-tanya. Ia berpikir, kontemplasi dan sesekali melihat lihat buku filsafat dan agama, kemudian menggabungkan keduanya. Kemudian, ia menemukan sedikit penjelasan antara keduanya, ya minimal salah satu diantara keduanya.
Ilmu secara sederhana berperan sebagai alat yang digunakan untuk mempermudah segala kebutuhan dalam kehidupan manusia, uang dalam ekonomi, manusia dalam sosiologi, bilangan dalam matematika, atau bahkan pengertian garis dalam seni dan budaya. Semuanya didasarkan pada kebutuhan manusia. Dan yang terpenting, hal itu semua dilakukan atas dasar pengalaman manusia dan sejauh bagaimana mereka memformulasikan dalam bentuk teori dan konsep.
Tentu, pencarian tentang ilmu memiliki metode. Metodologi yang dipakai bisa bersifat numeral, statistik atau biasa disebut kuantitatif, pun juga bisa berupa observasi, analisis diskrptif, atau bisa pula disebut kualitatif. Dimana metodologi merupakan cara, strategi untuk memperoleh data hingga akhirnya menemukan satu rumusan dari setiap rumpun disiplin ilmu yang dicapai.
Akhirnya kebingungan pun muncul.
Lantas, bagaimana dengan agama, apakah agama bisa dikaitkan dengan ilmu dan metode metode nya seperti tadi, lantas, metode apa yang harus dipakai antara kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan manusia secara luas tak pernah mengenal Tuhan secara empirik. Apalagi masuk dan melihat surga dan neraka, sungguh diluar nalar dan pengalaman manusia.
Dengan sedikit terbata-bata, mahasiswa paling depan menjawab pertanyaan dosen barusan, ia dengan berani menjawab, "bahwa keduanya, yakni agama dan ilmu, tak ada kaitannya pak", dosenpun tersenyum dan perkuliahan pun selesai.
Sehingga, jika pengetahuan manusia tentang agama, dipisah dengan ilmu dan metode metodenya, bagaimana agama itu bisa sampai dan mendorong orang orang untuk meyakini bahwa itu benar. Berbeda dengan matematika yang 1+1 sama dengan 2. Sekali lagi, apa yang mendorong orang orang bisa begitu yakin bahwa agama yang disiarkan, diamanahkan dan dijunjung itu adalah benar.
Kemudian salah satu mahasiswa pun bertanya tentang itu semua kepada dosen filsafat di kampusnya. Dengan sedikit mengangkat bahu dosen itu justru tidak kemudian menjawab pertanyaan itu. Sembari menyilahkan duduk kepada mahasiswa yang mulai bijak ini, dosenpun bercerita dan pelajaran theologipun dimulai.
Mahasiswa dengan sedikit rasa penasarannya, akan sampai dimana ia mulai ragu tentang agama, dan mahasiswa yang sejati adalah pecundang yang bangkit dari apa yang ia ragukan agar menjadi keyakinan yang hakiki.
Salam Sukses Sejahtera
Mari Membaca
0 Comments