Tiba tiba aku berpapasan dengan seorang mengenakan kaos oblong warna hitam, bergambarkan kapan Titanic yang pelan pelan tenggelam. Ilustrasi yang sempat membuatku berhenti melangkah dan bergumam "its my the best movie ever". Wah bagus sekali. Aku berhenti, mata berbinar-binar namun orang itu tetap berjalan. Lurus dan tak menoleh sedikitpun.

Ya, ada hal yang kadang-kadang membuat  sesuatu menjadi rindu. Ketika hal tersebut tak pernah terlintas, tak pernah terpikirkan. Tiba-tiba datang di depan kita, secara seketika, dan membuat otak kita memanggil memory lama akibat kehadirannya. Memoriable dan menjijikkan. Ya ia datang untuk memberikan beban. Persis seperti apa yang aku lihat tadi siang.

Kemudian setelah itu, kita menjadi kepikiran. Menyita waktu, demi hal yang sengaja datang namun tiba-tiba menghilang. Sungguh memalukan. Hingga, muncul lagu lagu dan gambar gambar untuk melampiaskan kerinduan yang amat mendalam.

Rindupun datang dan malampun, seolah olah menjadi lebih gelap dari biasanya. Sepertinya matahari enggan menunjukkan cahaya sinarnya kembali, pudar dan hitam. Pelik sekali, susah diusir, sulit dibuang. Dan hanya bisa berharap, besok bisa lebih cerah dengan terik terik menembus dedaunan. Tak seperti gelap ini, serasa seperti menjadi cerita didalam sebuah buku yang tak berjudul dan tak ada endingnya.

Dimalam itu, aku memutuskan untuk tak peduli lagi tentang kapal tua itu.  semendung apapun di luar sana, sepurnama apapun bulan itu. Dengan menyunggingkan bibir, aku kembali dengan lembaran baru, dan memusiumkan apa yang pernah terjadi antara aku, kau dan kapal Titanic tua itu.