Saya kemaren tak sengaja berpapasan dengan salah satu dosen saya. Saya mengalaminya dan saya mendapatkan pertanyaan pertanyaan yang konotasi seputar kabar saya dan juga studi serta kuliah dan tugas tugasnya. Kemudian dosen tersebut beranjak, dan mengatakan, "menjadi apapun yang penting jalani"

Ya, sekilas saya tak terpengaruh apapun tentang kalimat bijak di akhir percakapan tadi. Saya pikir kalimat itu tidaklah berbeda dengan kalimat motivasi lain yang lumrahnya memang dikatakan oleh dosen kepada mahasiswanya, atau senior kepada juniornya atau bahkan pelatih kepada muridnya. Tapi ternyata itu bukan sekedar kalimat motivasi.

Menjalani sesuatu yang bukan keinginan kita, ada banyak orang diluar sana yang menganggap menjadi mahasiswa itu enak. Atau, menjadi anggota pengurus himpunan itu enak, atau bahkan menjadi ketua dari himpunan itu enak. Ketua BEM, Presiden Mahasiswa dan ketua ketua yang lainnya. Sehingga mereka kadang tidak melihat apa yang enak dari dirinya sendiri. Seolah olah bintang bersinar hanya di atas orang lain.

Saya kira begini, menjadi apapun, seperti kata dosen di jalan tadi, bukanlah soal ambisi kita untuk sampai kepada tahapan "enak". Karena kita melihat seorang ketua itu enak, tiba tiba kita ambisi untuk itu. Atau, ketika kita melihat pejabat enak, tiba-tiba kita ambisi kesana. Padahal yang kalian lihat hanyalah sosok ketua yang dipakaikan almamater sambil membusungkan dada saat berjalan. Dan kalianpun tak banyak tau tentang pekerjaan mereka di meja kerjanya.

Karena bukan itu. Bukan karena panggilan ketua itu, sehingga kosa kata "enak" itu bisa saja masuk sembarangan dalam diri mereka. Enak dalam menjadi apapun, bagi saya, bukan sama sekali sesuatu yang dapat dibanggakan. Tapi, apakah yang telah kita punya, kita jalani dengan baik? Tentu dari sini kita akan berpikir. Sebenarnya apa yang kita punya?.

Nah lambat laun pertanyaan ini akan terjawab dengan sendirinya, ternyata menjadi enak itu tidak perlu. Tidak perlu menjadi orang penting seperti ketua, seperti pejabat, jika motivasinya cuma sekedar "enak". Mending, kembali ke pertanyaan tadi, kita mencari apa yang kita miliki. Sehingga, jika kita tak punya sesuatu untuk menjawab apa yang kita miliki, itulah sebenarnya PR kalian.

Karena sesuatu yang kita miliki akan menjadi penting bagi kehidupan kita