Tadi pagi saya ke kampus, mengantar seseorang yang baru diterima menjadi mahasiswa di jurusan Tafsir dan Al Qur'an. Dia harus mengikuti ospek sebagai tanda, bahwa dia adalah Maba, sekaligus mendapatkan bekal tentang bagaimana menjadi mahasiswa yang baik dan benar.

Tentu, semua orang yang pernah mempunyai status mahasiswa, pernah mengikuti kegiatan ini. Dengan para penegak keamanan yang membuat Maba menjadi parno dan tak berani tak patuh apalagi melawannya. Jika berani melawan, akan datang orang bermimik seram dengan sepatu besar, serta jaket kulit yang akan menyerang, seperti serangan seekor harimau kepada mangsanya. Kasar dan menakutkan.

Seperti orang yang akan melewati ujian menjadi militer, yang setiap apapun harus detail dan sesuai perintah. Pakaian, potongan rambut, sampai ukuran lauk yang dibawa untuk bekal. Mungkin si penegak keamanan mengukurnya, dengan penggaris atau justru indra keenam. Entahlah

Mereka ditempatkan disebuah lapangan, dengan sanksi bagi yang melanggar, dengan suara keras bagi yang melawan.  Tentu, panitia yang lain menyaksikan, terbahak bahak, seolah-olah pertunjukan sirkus monyet dan lumba-lumba. Yang, pada dasarnya akting dan pura pura itu hanyalah untuk membuat mereka disiplin dan agar menghargai apa yang disebut sebagai 'peraturan'.

Menjadi mahasiswa yang populer, adalah menjadi mahasiswa yang pandai 'mencuri kesempatan'. Mencuri kesempatan menjadi panitia, menjadi penegak keamanan, menjadi bagian kesehatan dan banyak menjadi menjadi yang lain, yang akan mengangkat status sosial mereka melebihi anggota DPR atau Kepala Camat suatu desa. Sehingga, budaya 'mencuri kesempatan' tadi, seringkali diartikan sebagai proses pencapaian menjadi mahasiswa yang baik dan benar. Sangat ironis, dan memprihatinkan.

Saya justru mengatakan, populer dengan pandai 'mencuri kesempatan', adalah hal yang justru membuat kalian tidak menjadi maju. Kalian nanti, hanya akan menjadi apa yang orang lain inginkan, kalian nanti, hanya akan mengikuti apa yang orang lain butuhkan. Dan, kalian nanti, hanya akan berspekulasi tentang, bagaimana caranya untuk pandai 'mencuri kesempatan' di kesempatan kesempatan yang lain. Begitu seterusnya, sampai kalian lulus.

Padahal, kalian bisa, menjadi mahasiswa yang jauh lebih populer dari pada mereka. Ada kesempatan yang lebih besar dari pada sekedar pandai 'mencuri kesempatan' dan sebuah motivasi abal-abal.

Ada banyak alasan kenapa mahasiswa harus berhenti berbicara tentang kesempatan, tidak melulu berbicara apa yang umum dibicarakan orang orang, tidak berhenti untuk sekedar mentraktir kopi dan menganggap semua orang adalah anak buahnya. Dan, tidak selalu menjadi populer, dengan apa dijadikan tolak ukur oleh orang lain.

Populer adalah alasan sederhana, mengapa kalian harus pandai 'mencuri kesempatan'.