Aku kerumah sakit. Ke salah satu teman yang paling dekat denganku, ia koma. Terlentang di bawah lampu orange. Hanya terdengar suara detak jantung dari mesin kotak itu. Terlihat garis, menyala berwarna hijau. Dan, Ia meninggal. Semua panik kemudian susterpun datang.

Seakan akan dalam pertunjukkan teater, kamipun berkumpul, bercicara, menangis tersedu-sedu. Silih bergantian orang orang masuk ke ruangan tanpa sedikitpun aku kenal. Dengan wajah layu dan pakaian hitam. Aku tak peduli. Aku terdiam.

Nama itu sekarang telah menjadi mayat. Wafat di malam Jum'at, selepas mahrib tepat jarum jam menunjukkan angka 6:15. Dan nanti, tepatnya besok hari. Orang orang tidak akan lagi mengingat kejadian duka ini, mereka harus bekerja, berangkat ke kantor seolah kejadian ini hanyalah sinyal bahwa setiap hal selalu ada akhir.

Kematian adalah perihal yang mungkin membuat orang lain tertegun, tersentuh. Walau sekejap, meski sebentar. Dan, akan datang perasaan takut. Takut tiba akan hal itu, takut kematian datang, seperti orang orang yang telah berlalu. Dan ketika berlalu, mereka hanya mayat yang harus dikubur dan disiram dengan kembang. Mereka akan hilang dari daftar pembicaraan orang orang.

Sampai akhirnya, manusia hanya perlu ingat satu hal. Bahwa mereka hanya untuk persimpangan waktu dan tanah sebagai tempat tubuhnya yang terakhir. Dunia hanya halte, tempat persinggahan. Semua orang, semua agama, tidak ada kebudayaan lain, kecuali dikubur atau dibakar. Hingga begitu lama, sangat lama, sampai ia seolah tak pernah ada.

Dunia hanyalah halte, dimana orang orang memiliki tujuan sendiri sendiri, mereka menunggu, mereka maju, mencari kursi dan tidak akan pernah menoleh kebelakang. Walaupun hanya sebentar. Sebagus apapun halte itu, ia hanya persimpangan.