Kemaren lusa, saya senang sekali bisa melihat teman saya masih sempat merayakan ulang tahunnya. Begitu bahagia sekali, sambil ditemani pacar kesayangannya. Ya semoga saja di tahun berikutnya, ia masih mempunyai kesempatan merayakan sekaligus dengan pacar yang sama.


Perayaan ulang tahun, akhir-akhir ini telah menjadi kebudyaan yang lumayan massif. Hampir menyentuh ke setiap umur. Anak muda sekarang Dan 5 tahun yang lalu sangatlah berbeda, budaya yang mereka pakai menyekat antara mereka dan kita. Seolah Ada syarat untuk menghilangkan sekat itu. Padahal sebenarnya sama, sama dengan mereka-mereka yang lebih dahulu menggunakan budaya yang baru.


Konsep ini terjadi disini, konsep dimana manusia dipetak-petakkan oleh budaya Dan tradisi. Telah terjadi dalam satu tempat yang sama dengan ideologi dan kebudyaan yang berbeda. Mereka berdampingan, bersentuhan namun tidak sepaham dan sejalan. Seperti kaum NU dengan Muhammadiyah sekarang, atau Sunni dengan Syiah dahulu.


Begitupun pesta ulang tahun teman saya kemaren, sempat ada benak tentang kebudayaan dan ideologi yang saya maksud barusan. Toh misalkan perayaan itu tidak seperti itu, tidak nyanyi lagunya slank dan tiup tiup lilin di kue, temen saya umurnya tetap tanggal (berkurang) satu kan,. Oh tidak, kata temen perempuan yang kebetulan dekat sekali dengan pacarnya, ini harus dirayakan, bukan ulang tahun namanya jika tidak Ada perayaan.


Menggelitik sekali bukan, Ada ideologi baru akibat arus kebudayaan yang datangnya bukan dari nenek moyang kita. Dimana ideologi ini akan menyekat batas, jika memang Ada yang berani menentang bahkan tidak masuk dalam kebudayaan ini. Ini aneh, kategorinya dibikin sendiri, bahkan hanya untuk mengikuti paradigma masyarakat, yang datangnya bukan berasal dari nenek moyang kita.


Jangan-jangan teman saya akan memiliki kecanduan perayaan ulang tahun dengan segala pesta pesta dan pernak perniknya. Sehingga dia dengan bijaknya mengatakan, oh ini adalah salah satu dari bukti bahwa kita sudah memasuki usia dewasa, tanpa ini, kita belum lagi sepenuhnya dewasa. Saya hanya tersenyum dan sedikit mengangkat bahu. Ya ini lucu, dan akan menjadi fatal juga, jika tingkat kedewasaan seorang hanya diukur dengan sepotong kue dan semerdu gitar.

*Tulisan ini saya buat tanggal 27 Juni 2017