Saya menemani adek saya yang masih kecil. Dia menyusun rumah, membuat pagar, dan mengatur jalan untuk mengekspresikan hasil imaji yang masih sangat matang untuk usia 3 tahunan. Tentu bukan rumah sungguhan. Mereka hanyalah mainan, yang rajanya hanyalah seorang anak kecil yang masih baru tahu berjalan.
Saya melihat aktifitas itu, saya teringat kota Baghdad. Kota yang konon, mempunyai posisi yang sangat penting karena menjadi salah satu pusat peradaban kerajaan Islam. Ya saya tahu, istilah konon hanyalah persoalan waktu. Tak ada yang mau mempersoalkan ini, namun bagi saya, kita perlu sering sering menyebut istilah 'konon' tersebut sebagai upaya untuk menilai, apakah bangsa ini sudah maju atau masih tertinggal.
Baghdad. Saya sangat mengagumi kota ini, kota yang berada di negara Irak ini, didirikan oleh Al-Manshur, yang sekaligus menggantikan wilayah kerajaan Persia. Ya semoga saja, kerajaan Persia masih diingat oleh sejarawan meskipun hanya sebatas taman taman dan para raja rajanya. Saya tau ini, pasalnya Baghdad masih saja diistilahkan sebagai "Taman Keadilan" persis, seperti istilah yang dimiliki oleh Kerjaan Persia waktu itu. Sama kan.
Berdirinya kota ini, memberikan harapan yang begitu besar terlebih kepada peradaban agama Islam. Hampir nyaris sempurna. Dari segmen pembangunan, manufaktur, supremasi ekonomi dan bahkan sistem sosial dan politik kala itu.
Adu dua hal yang paling saya cintai dari segi pola pembentukan kota ini. Pertama, ada bangunan tepat di tengah-tengah kota, terbangun megah sebuah istana emas yang dipenuhi ukiran ukiran arsitektur Persia. Dan dikelilingi masjid, tempat pengawal istana dan juga tempat tinggal putera putri Khalifah. Dan juga, sungai sungai serta jalan jalan yang dihubungkan satu dan lain disusun dengan sangat rapi.
Persis seperti cara adek saya membangun kerajaan mininya waktu itu.
Istana tengah kota ini, uniknya, Raja Al-Manshur memblok dengan bangunan melingkar dengan gedung yang sangat tinggi dan menjulang, memiliki 4 pintu gerbang keluar-masuk antar kota, tentu dilengkapi dengan pengawalnya. Bahkan, dari masing masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai cara mengawasi Baghdad dari luar.
Kedua, adalah berdirinya perpustakaan yang sangat besar, hingga menampung beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Yang konon, nama tempat ini adalah Bait al-Hikmah. Kemudian karya karya yang sangat indah dan fenomenal, dari berbagai ilmuan. Ar Razi, Al Farabi, dan termasuk Abd Qodir Jaelani. Yang sesungguhnya semuanya menyimpulkan peradaban Islam yang sempurna. Seperti yang dikatakan oleh Philip K. Hitti bahwa Baghdad adalah kota intelektual, dan merupakan profesor masyarakat islam.
Berakhirnya permainan menyusun rumah dan jalan mininya adek saya, berakhir pula ingatan saya dengan kota yang pernah dipimpin Harun Ar Rasyid itu. Semoga kota Baghdad menjadi salah satu cermin bagi bangsa ini. Dan tidak sungkan sungkan meskipun hanya mengucapkan istilah "konon"
Salam Sukses Sejahtera
Oleh Mohammad Faiq
Saya melihat aktifitas itu, saya teringat kota Baghdad. Kota yang konon, mempunyai posisi yang sangat penting karena menjadi salah satu pusat peradaban kerajaan Islam. Ya saya tahu, istilah konon hanyalah persoalan waktu. Tak ada yang mau mempersoalkan ini, namun bagi saya, kita perlu sering sering menyebut istilah 'konon' tersebut sebagai upaya untuk menilai, apakah bangsa ini sudah maju atau masih tertinggal.
Baghdad. Saya sangat mengagumi kota ini, kota yang berada di negara Irak ini, didirikan oleh Al-Manshur, yang sekaligus menggantikan wilayah kerajaan Persia. Ya semoga saja, kerajaan Persia masih diingat oleh sejarawan meskipun hanya sebatas taman taman dan para raja rajanya. Saya tau ini, pasalnya Baghdad masih saja diistilahkan sebagai "Taman Keadilan" persis, seperti istilah yang dimiliki oleh Kerjaan Persia waktu itu. Sama kan.
Berdirinya kota ini, memberikan harapan yang begitu besar terlebih kepada peradaban agama Islam. Hampir nyaris sempurna. Dari segmen pembangunan, manufaktur, supremasi ekonomi dan bahkan sistem sosial dan politik kala itu.
Adu dua hal yang paling saya cintai dari segi pola pembentukan kota ini. Pertama, ada bangunan tepat di tengah-tengah kota, terbangun megah sebuah istana emas yang dipenuhi ukiran ukiran arsitektur Persia. Dan dikelilingi masjid, tempat pengawal istana dan juga tempat tinggal putera putri Khalifah. Dan juga, sungai sungai serta jalan jalan yang dihubungkan satu dan lain disusun dengan sangat rapi.
Persis seperti cara adek saya membangun kerajaan mininya waktu itu.
Istana tengah kota ini, uniknya, Raja Al-Manshur memblok dengan bangunan melingkar dengan gedung yang sangat tinggi dan menjulang, memiliki 4 pintu gerbang keluar-masuk antar kota, tentu dilengkapi dengan pengawalnya. Bahkan, dari masing masing pintu gerbang ini, dibangun 28 menara sebagai cara mengawasi Baghdad dari luar.
Kedua, adalah berdirinya perpustakaan yang sangat besar, hingga menampung beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Yang konon, nama tempat ini adalah Bait al-Hikmah. Kemudian karya karya yang sangat indah dan fenomenal, dari berbagai ilmuan. Ar Razi, Al Farabi, dan termasuk Abd Qodir Jaelani. Yang sesungguhnya semuanya menyimpulkan peradaban Islam yang sempurna. Seperti yang dikatakan oleh Philip K. Hitti bahwa Baghdad adalah kota intelektual, dan merupakan profesor masyarakat islam.
Berakhirnya permainan menyusun rumah dan jalan mininya adek saya, berakhir pula ingatan saya dengan kota yang pernah dipimpin Harun Ar Rasyid itu. Semoga kota Baghdad menjadi salah satu cermin bagi bangsa ini. Dan tidak sungkan sungkan meskipun hanya mengucapkan istilah "konon"
Salam Sukses Sejahtera
Oleh Mohammad Faiq
0 Comments