Besok adalah hari Minggu, terbayang dalam benak saya keramaian Arek Lancor yang dipenuhi aneka macam kegiatan. Seperti kegiatan olahraga, jalan jalan pagi dan bahkan, ibu-ibu dengan sound sistem sambil joget-joget, kalo adek saya menyebut nya senam pagi. Ya banyak deh, dan tentu menggembirakan, cocok sekali buat merefleksikan diri dari kepenatan.
Malamnya pun demikian, Arek Lancor masih saja menjadi tempat yang paling populer. Anak muda, om om, dan bahkan kakek nenek. Dengan gazebo yang resik dan keramaian para penumpang odong odong di sekitar monumen berbentuk celurit itu, membuat suasana sangat harmonis. Ajib sekali kan, hampir mengalahkan atraksi badut dan komedi putar di pasar pasar malam yang ada diluar kota.
Pamekasan, adalah salah satu kota yang berada di Madura, ia masih embrio, masih ingin tumbuh. Belum secara total berkembang seperti layaknya kota Jakarta, Surabaya atau bahkan Jogjakarta. Masih sangat jauh. Dari segmentasi apapun, mulai dari pendidikan, ekonomi, dan bahkan hiburan. Ya meskipun tempat wisatanya itu itu saja, tak ada yang merasa kurang rasa cintanya kepada kota gerbang salam ini.
Kota ini tempat saya lahir. Tempat saya sekolah dan bahkan akan menjadi tempat saya untuk pulang nanti. Saya mencintai kota ini, sangat mencintai. Seperti apapapun didalamnya, meskipun hanya arek Lancor dan beberapa taman di dalamnya saya tetap bangga.
Tapi tidak, walaupun disini tidak ada Bioskop, tak menjadi masalah. Karena saya selalu optimis bahwa kita, orang Pamekasan, akan menjadi kota yang harmonis, kota yang maju dan bahkan kota yang selalu dibanggakan. Oleh kebudayaannya, oleh orang-orangnya dan tentu juga oleh pemerintahnya. Akan banyak pemuda pemuda Pamekasan dengan keterampilan atau skill yang dibanggakan, bisa jadi viral di sosial media. Atau bahkan minimal tranding walau sebentar.
Mari saya mengajak Pemuda Pamekasan, untuk bersama mulai berkarya. Lewat karya tulis, seni dan karya karya yang lain. Untuk apa, untuk kemajuan bersama, kemajuan Madura dan kemajuan Pamekasan. Sehingga Pamekasan dalam waktu 50 tahun, sudah bukan lagi kota dengan mayoritas pengangguran atau bahkan paradigma fanatiknya.
Salam Sukses Sejahtera
By Mohammad Faiq
Malamnya pun demikian, Arek Lancor masih saja menjadi tempat yang paling populer. Anak muda, om om, dan bahkan kakek nenek. Dengan gazebo yang resik dan keramaian para penumpang odong odong di sekitar monumen berbentuk celurit itu, membuat suasana sangat harmonis. Ajib sekali kan, hampir mengalahkan atraksi badut dan komedi putar di pasar pasar malam yang ada diluar kota.
Pamekasan, adalah salah satu kota yang berada di Madura, ia masih embrio, masih ingin tumbuh. Belum secara total berkembang seperti layaknya kota Jakarta, Surabaya atau bahkan Jogjakarta. Masih sangat jauh. Dari segmentasi apapun, mulai dari pendidikan, ekonomi, dan bahkan hiburan. Ya meskipun tempat wisatanya itu itu saja, tak ada yang merasa kurang rasa cintanya kepada kota gerbang salam ini.
Kota ini tempat saya lahir. Tempat saya sekolah dan bahkan akan menjadi tempat saya untuk pulang nanti. Saya mencintai kota ini, sangat mencintai. Seperti apapapun didalamnya, meskipun hanya arek Lancor dan beberapa taman di dalamnya saya tetap bangga.
Tapi tidak, walaupun disini tidak ada Bioskop, tak menjadi masalah. Karena saya selalu optimis bahwa kita, orang Pamekasan, akan menjadi kota yang harmonis, kota yang maju dan bahkan kota yang selalu dibanggakan. Oleh kebudayaannya, oleh orang-orangnya dan tentu juga oleh pemerintahnya. Akan banyak pemuda pemuda Pamekasan dengan keterampilan atau skill yang dibanggakan, bisa jadi viral di sosial media. Atau bahkan minimal tranding walau sebentar.
Mari saya mengajak Pemuda Pamekasan, untuk bersama mulai berkarya. Lewat karya tulis, seni dan karya karya yang lain. Untuk apa, untuk kemajuan bersama, kemajuan Madura dan kemajuan Pamekasan. Sehingga Pamekasan dalam waktu 50 tahun, sudah bukan lagi kota dengan mayoritas pengangguran atau bahkan paradigma fanatiknya.
Salam Sukses Sejahtera
By Mohammad Faiq
0 Comments